Perjuangan di Garis Depan Kemanusiaan: Chiki Fawzi Ungkap Teror Intimidasi Selama Misi untuk Palestina
Selasa, 26 Mei 2026 11:33 WIB
Kabarmalam.com — Kepulangan Chiki Fawzi ke tanah air bukan sekadar perjalanan pulang biasa. Setelah menghabiskan dua bulan penuh dalam ketegangan di pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, langkah kakinya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta disambut dengan isak tangis haru dari pihak keluarga. Putri dari musisi legendaris Ikang Fawzi ini baru saja menuntaskan dedikasi panjangnya demi membantu warga Palestina yang hingga kini masih terbelenggu blokade ilegal.
Jejak Langkah Chiki Fawzi: Dari Barcelona hingga Pusat Komando
Perjalanan spiritual dan kemanusiaan ini dimulai dari Barcelona, Spanyol. Chiki bergabung dengan tim yang berlayar menuju Sassari, Italia, menggunakan kapal pertama dalam armada tersebut. Namun, peran Chiki jauh lebih kompleks daripada sekadar relawan lapangan. Ia memikul tanggung jawab besar di pusat komando, mengatur strategi keberangkatan delegasi Indonesia, serta memantau jalur advokasi internasional saat situasi di Laut Mediterania mulai memanas.
“Selama dua bulan ini, tantangannya luar biasa. Saya ikut berlayar di kapal pertama dari Barcelona sampai Italia. Tugas saya juga termasuk mempersiapkan etape keberangkatan sembilan delegasi di Turki,” ungkap Chiki Fawzi saat ditemui tim media di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin, 25 Mei 2026.
Menghadapi Teror Psikologis dan Ancaman Nyata
Meskipun tidak berada di atas kapal saat insiden pencegatan oleh militer Israel terjadi, Chiki Fawzi tetap berada di pusaran bahaya. Dari command room yang berpusat di Istanbul, Turki, ia harus bersiaga 24 jam memantau keselamatan rekan-rekannya. Di saat itulah, ia mengaku mengalami berbagai bentuk tekanan yang menguji mentalnya. Intimidasi psikologis dan ancaman terus membayang-bayangi para relawan yang bertekad menembus blokade demi menyalurkan bantuan ke Jalur Gaza.
Baginya, gangguan tersebut adalah risiko kecil dibandingkan penderitaan jutaan warga di Gaza. “Intimidasi itu selalu ada, bahkan sampai sekarang. Tapi bagi saya, itu semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang sedang kita perjuangkan untuk rakyat Palestina,” tegas Chiki dengan nada bicara yang mantap.
Pulang dengan Misi yang Belum Usai
Kepulangan Chiki menjadi kado yang paling dinanti oleh keluarganya, terutama karena ia berhasil tiba tepat sebelum momen Hari Raya Idul Adha. Kehadirannya kembali di Indonesia membawa pesan kuat bagi masyarakat luas tentang pentingnya menjaga kepedulian terhadap krisis kemanusiaan. Melalui program Global Sumud Flotilla 2.0, Chiki berharap mata dunia tidak akan pernah berpaling dari apa yang terjadi di Palestina.
Keberhasilan memulangkan seluruh delegasi Indonesia yang sempat ditahan militer Israel menjadi kelegaan tersendiri bagi Chiki. Namun, semangat aktivismenya dipastikan tidak akan berhenti di sini. Baginya, menyuarakan kebenaran adalah tugas yang akan terus ia emban meski harus menghadapi ribuan ancaman sekalipun.