Penyalur ART Tak Gentar Hadapi Laporan Balik Erin Eks Andre Taulany: Saya Bertindak Atas Dasar Kemanusiaan
Selasa, 05 Mei 2026 09:34 WIB
Kabarmalam.com — Perseteruan hukum yang melibatkan Rien Wartia Trigina, atau yang lebih akrab disapa Erin, mantan istri Andre Taulany, kini memasuki babak baru yang semakin memanas. Nia, pemilik yayasan penyalur asisten rumah tangga (ART) yang dilaporkan balik oleh Erin atas dugaan pencemaran nama baik di media sosial, menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak gentar. Ia menyatakan kesiapannya untuk mengikuti setiap jengkal proses hukum yang tengah bergulir di Polres Metro Jakarta Selatan.
Langkah hukum yang diambil Erin seolah menjadi serangan balik setelah dirinya dituding melakukan tindak kekerasan terhadap pekerjanya yang bernama Hera. Namun, Nia menanggapi laporan tersebut dengan kepala tegak. Baginya, kehadirannya di kediaman Erin pada malam kejadian bukanlah untuk mencari keributan, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan profesional sebagai seorang penyalur tenaga kerja.
Kronologi Penjemputan yang Berujung Ketegangan
Nia menceritakan bahwa langkahnya mendatangi rumah Erin didasari oleh laporan darurat dari Hera. Melalui sambungan telepon, Hera meminta pertolongan karena merasa mendapatkan perlakuan kasar yang tidak semestinya. “Saya datang malam-malam itu bukan tanpa alasan. Ada laporan dari pekerja saya yang merasa terancam. Niat saya datang murni dengan iktikad baik untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan,” ujar Nia saat memberikan keterangan di hadapan awak media pada Senin (4/5/2026).
Terkait tuduhan bahwa dirinya membawa aparat kepolisian untuk melakukan intimidasi terhadap Erin, Nia dengan tegas membantahnya. Ia mengungkapkan sebuah fakta menarik: justru pihak majikanlah yang mengarahkannya untuk melibatkan pihak berwajib. Saat itu, upaya Nia untuk menjemput Hera ditolak mentah-mentah, dan ia justru diminta untuk melapor ke polsek jika ingin membawa pekerjanya pergi.
Kesaksian Mengenai Dugaan Tindak Kekerasan
Situasi di lokasi kejadian digambarkan Nia sangat emosional. Di hadapan petugas kepolisian dan petugas keamanan setempat, Nia mengaku menyaksikan langsung bagaimana Hera berteriak histeris meminta pertolongan. Hera mengklaim telah mengalami tindakan fisik berupa pencekikan dan pencakaran yang meninggalkan rasa trauma mendalam.
“Di depan polisi pun Hera berteriak bahwa dia telah dicekik dan dicakar. Sebagai penyalur, tidak mungkin saya membiarkan dia tetap di sana dalam kondisi seperti itu. Akhirnya, dengan disaksikan petugas, saya membawanya pulang demi keselamatannya,” tambah Nia. Meskipun pihak Erin telah memberikan klarifikasi dan membantah tuduhan tersebut, Nia bersikeras bahwa apa yang ia dengar dan lihat di lokasi adalah kenyataan yang tidak bisa ditutupi.
Mempertaruhkan Reputasi Bisnis Yayasan
Kasus ini tidak hanya menyentuh ranah personal, tetapi juga berdampak pada kredibilitas bisnis penyaluran ART milik Nia. Ia merasa sangat dirugikan dengan pernyataan pihak Erin yang menyebut yayasannya bermasalah. Menurut Nia, justru langkahnya menyelamatkan Hera adalah bukti bahwa ia sangat peduli dengan nasib para pekerja yang bernaung di bawah yayasannya.
“Kalau terjadi apa-apa pada ART tersebut dan saya diam saja, justru di situ saya salah. Apa gunanya peran saya sebagai penyalur jika tidak bisa memberikan perlindungan saat pekerja saya mengadu mendapatkan kekerasan?” pungkasnya dengan nada tegas.
Sebagai informasi tambahan, konflik ini bermula ketika Hera melaporkan Erin atas dugaan penganiayaan ringan pada 28 April 2026 lalu. Kasus ini kemudian meledak di ruang publik setelah Nia mengunggah cerita tersebut di platform Threads. Di sisi lain, Erin membantah semua tuduhan itu dan mengklaim mengantongi bukti rekaman CCTV yang menunjukkan tidak ada kekerasan fisik yang terjadi, yang kemudian mendasari laporannya balik atas dugaan fitnah dan pelanggaran UU ITE.