Fakta di Balik Meninggalnya Balita di Cianjur: BGN Tegaskan Bukan Karena Program Makan Bergizi Gratis
Senin, 27 Apr 2026 10:04 WIB
Kabarmalam.com — Kabar duka yang menyelimuti sebuah keluarga di Cianjur, Jawa Barat, sempat memicu kegaduhan di ruang publik. Sebuah isu liar beredar yang menyebutkan bahwa seorang balita berusia dua tahun meninggal dunia setelah mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, kabar miring tersebut segera ditepis dengan tegas oleh pihak otoritas terkait.
Klarifikasi Tegas dari Badan Gizi Nasional
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, memberikan pernyataan resmi untuk meluruskan simpang siur informasi yang beredar. Pihaknya memastikan bahwa kepergian ananda M. Abdul Bais sama sekali tidak berkaitan dengan asupan makanan dari program pemerintah tersebut.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang sangat mendalam atas berpulangnya ananda M. Abdul Bais. Kami berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” tutur Nanik dalam keterangan tertulisnya. Ia menambahkan dengan nada tegas bahwa narasi mengenai keracunan makanan akibat program MBG adalah tidak benar.
Kronologi dan Detail Menu yang Disajikan
Berdasarkan investigasi lapangan yang dilakukan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukasirna 02 Leles, diketahui bahwa balita tersebut terakhir kali menerima paket Makan Bergizi Gratis pada tanggal 14 April 2026. Menu yang disajikan saat itu telah melalui standar keamanan pangan, terdiri dari mi kecap, telur dadar, susu, dan buah segar.
Nanik menjelaskan bahwa pada hari tersebut, sebanyak 2.174 penerima manfaat lainnya juga mengonsumsi menu yang sama. Dari ribuan orang tersebut, tidak ditemukan satu pun laporan mengenai gangguan kesehatan atau gejala keracunan. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa hidangan yang disalurkan dalam kondisi yang sangat layak konsumsi.
Fakta Kesehatan dan Pengakuan Pihak Keluarga
Menelusuri lebih dalam, gejala kesehatan sang balita baru mulai muncul dua hari setelah ia mengonsumsi makanan dari program MBG. Pada tanggal 15 April, sang anak diketahui tidak nafsu makan dan tidak mengonsumsi jatah MBG. Di hari yang sama, orang tuanya memberikan asupan tambahan berupa apel dan susu formula yang dibeli secara mandiri di luar program pemerintah.
Baru pada tanggal 16 April pukul 06.00 WIB, gejala muntah dan diare mulai dialami oleh balita malang tersebut. Ayah almarhum, Sahjanudin (41), secara terbuka memberikan kesaksian bahwa wafatnya sang putra murni disebabkan oleh faktor penyakit, bukan karena fasilitas dapur umum pemerintah.
“Saya sebagai orang tua menyatakan bahwa kematian anak saya ini murni karena sakit. Tidak ada sangkut pautnya dengan dapur MBG SPPG Sukasirna 02 Leles,” ujar Sahjanudin dengan jujur.
Komitmen Pengawasan Ketat
Meski telah terbukti bukan menjadi penyebab, kejadian ini menjadi momentum bagi Badan Gizi Nasional untuk semakin memperketat pengawasan. Pihak BGN berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan pemantauan berkala di setiap Satuan Pelayanan demi menjaga kualitas serta keamanan pangan bagi seluruh anak-anak penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Keamanan pangan dan kesehatan masyarakat, terutama kelompok balita, tetap menjadi prioritas utama dalam menjalankan roda program strategis nasional ini.