Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mandra Ungkap Salah Kaprah Istilah Tanjidor: Warisan Sinetron Si Doel yang Harus Diluruskan

Darman | kabarmalam.com
Senin, 22 Jun 2026 09:04 WIB
Mandra Ungkap Salah Kaprah Istilah Tanjidor: Warisan Sinetron Si Doel yang Harus Diluruskan

Kabarmalam.com — Siapa yang tak mengenal sosok Mandra? Seniman kawakan kebanggaan masyarakat Betawi ini baru-baru ini melontarkan sebuah pernyataan mengejutkan terkait salah satu ikon budaya Jakarta yang selama ini kita kenal luas. Selama puluhan tahun, publik terbiasa menyebut musik tiup tradisional khas Betawi dengan istilah Tanjidor. Namun, menurut Mandra, penyebutan tersebut sebenarnya merupakan sebuah kekeliruan kolektif yang uniknya berakar dari kesuksesan sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang ia bintangi pada era 90-an.

Akar Masalah: Ketika Fiksi Menjadi Fakta Budaya

Ditemui di sebuah kesempatan di kawasan Jakarta Selatan, Mandra menjelaskan bahwa fenomena “Tanjidor” yang kita kenal sekarang adalah buah dari ketidaksengajaan di layar kaca yang kemudian dianggap sebagai kebenaran sejarah. “Hal-hal seperti ini yang perlu kita benahi. Tanjidor itu sebenarnya sebutan yang salah kaprah, dan ini perlu diluruskan,” ungkap Mandra dengan gaya bicaranya yang khas.

Baca Juga  Pintu Hati Kembali Terbuka, Inilah Sosok Kevin yang Bikin Ayu Ting Ting Makin Sumringah

Pria berusia 59 tahun ini menyayangkan bagaimana kesalahan penyebutan tersebut berlangsung begitu lama hingga akhirnya mendarah daging di tengah masyarakat. Bahkan, mirisnya, banyak pelaku seni budaya Betawi sendiri yang tidak memahami akar sejarah serta istilah asli dari kesenian tersebut. Ia menyebutkan banyak seniman yang kini kurang memahami istilah dasar seperti panjak atau anak wayang.

Membedah Makna: Antara Tanji dan ‘Dor’

Lantas, apa sebutan yang sebenarnya benar? Mandra memaparkan bahwa nama asli dari kesenian musik tersebut hanyalah Tanji. Penambahan suku kata ‘Dor’ di belakangnya memiliki arti tersendiri yang berkaitan dengan format pertunjukannya.

“Dor itu artinya bodoran atau lawakan,” jelas Mandra. Jika dianalogikan dengan tren industri hiburan masa kini, elemen “Dor” adalah sisipan komedi atau komika yang bertugas menghibur penonton di sela-sela pertunjukan musik Tanji. Jadi, penggabungan kata tersebut sebenarnya merujuk pada paket pertunjukan musik yang disertai lawakan, bukan nama alat musik atau genre musiknya secara tunggal.

Baca Juga  Kembalikan Marwah Ikon Jakarta, Pramono Anung Larang Keras Ondel-ondel Ngamen di Jalanan

Fenomena istilah Tanjidor mulai meledak dan menjadi standar umum di masyarakat sejak tahun 90-an. Pengaruh masif dari karakter Mandra dan keluarga Si Doel membuat istilah ini menyebar luas ke seantero negeri hingga literatur formal sekalipun.

Tanggung Jawab Menjaga Warisan Leluhur

Bagi Mandra, meluruskan sejarah ini bukan sekadar urusan nama, melainkan menjaga integritas warisan leluhur agar tidak terdistorsi oleh waktu. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral, terutama karena dirinya sering menjadi rujukan bagi para mahasiswa hingga peneliti mancanegara yang ingin menggali lebih dalam soal seluk-beluk Betawi.

Ia juga mengingatkan bahwa ekosistem kesenian Tanji sangatlah luas dan memiliki silsilah yang panjang. Masih ada istilah-istilah lain yang kini kian asing di telinga generasi muda, seperti Jinong dan Jipeng. Menurutnya, kesenian Betawi tidak bisa dipelajari hanya dari permukaannya saja.

Baca Juga  Refleksi Damai Poso: Jusuf Kalla Beri Pesan Mendalam Usai Menyaksikan Film 'Tanah Runtuh'

“Kalau cuma tahu Tanjidor doang, ya berarti ilmunya baru sejengkal. Apalagi kalau ngaku orang Betawi tapi nggak tahu asalnya, itu mah mungkin baru bangun tidur kali,” pungkasnya sambil berseloroh, mengingatkan kita semua untuk lebih peduli pada kedalaman kesenian tradisional kita sendiri.

Tentang Penulis
Darman
Darman