Mengenal Cosmeticorexia: Saat Obsesi Kulit Flawless Menjadi Ancaman Bagi Anak dan Remaja
Kamis, 18 Jun 2026 14:05 WIB
Kabarmalam.com — Memiliki wajah yang bercahaya atau glowing kini bukan lagi sekadar impian kaum dewasa. Belakangan ini, tren kecantikan justru bergeser ke usia yang jauh lebih muda, memicu sebuah fenomena mengkhawatirkan yang dikenal dengan istilah Cosmeticorexia. Ini bukan sekadar hobi berdandan biasa, melainkan sebuah obsesi mendalam untuk mendapatkan kulit tanpa cela yang mulai mengintai anak-anak dan remaja di bawah umur.
Apa Itu Cosmeticorexia?
Istilah ini merujuk pada kondisi di mana seseorang memiliki dorongan kompulsif yang berlebihan untuk mencapai standar kulit ‘sempurna’. Fenomena ini semakin marak seiring dengan masifnya konten rutinitas skincare di media sosial yang seringkali menampilkan hasil kulit yang tidak realistis. Para ahli kini menaruh perhatian serius karena perilaku ini mulai berdampak pada kesehatan mental serta kepercayaan diri generasi muda.
Sorotan terhadap Cosmeticorexia semakin tajam setelah otoritas di Italia mengambil langkah tegas terhadap sejumlah merek kecantikan yang dianggap secara sengaja menargetkan pasar anak-anak. Sebuah studi dari University of Milan bahkan menyebutkan bahwa fenomena ini berpotensi masuk dalam kategori gangguan mental klinis yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Bahaya Produk Aktif pada Kulit Belia
Prof. Giovanni Damiani, seorang spesialis kulit ternama, mengungkapkan fakta mengejutkan. Ia menemukan banyak pasien berusia antara 8 hingga 14 tahun yang datang dengan keluhan dermatitis iritan dan alergi kontak yang parah. Penyebabnya seragam: penggunaan produk kosmetik yang sebenarnya diperuntukkan bagi orang dewasa.
“Anak-anak ini menggunakan bahan aktif keras seperti Alpha Hydroxy Acid (AHA) dan retinoid tanpa pengawasan medis,” ungkap Damiani. Padahal, kulit anak-anak masih sangat sensitif dan belum membutuhkan intervensi bahan kimia sekuat itu. Efeknya bukan menjadi cantik, melainkan justru merusak lapisan pelindung kulit alami mereka.
Dampak Psikologis yang Mengkhawatirkan
Selain masalah fisik, Cosmeticorexia membawa perubahan perilaku yang patut diwaspadai oleh para orang tua. Banyak remaja kini menolak keluar rumah tanpa riasan tebal atau merasa cemas jika tidak melakukan ritual perawatan kulit yang rumit. Fokus mereka teralihkan dari aktivitas sosial dan pendidikan, hanya demi mengejar penampilan yang seringkali dipoles oleh filter kamera.
Grace Collinson dari Butterfly Foundation mencatat adanya lonjakan tekanan emosional pada individu muda terkait penampilan mereka. “Muncul dorongan kuat untuk mencapai kesempurnaan yang semu, yang memicu rasa tidak puas mendalam terhadap diri sendiri,” ujarnya. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa rasa tidak puas terhadap tubuh bahkan sudah mulai muncul pada anak sejak usia enam tahun.
Ilusi Media Sosial dan Filter Digital
Maraknya pemasaran melalui pemengaruh (influencer) dan iklan yang sangat persuasif membuat ketidaksempurnaan kulit alami terlihat seperti sebuah ‘cacat’ besar. Padahal, apa yang terlihat di layar sering kali adalah hasil dari bantuan pencahayaan, sudut kamera, hingga kecerdasan buatan (AI).
Dr. Deshan Sebaratnam, seorang profesor dari University of New South Wales, menilai bahwa Cosmeticorexia adalah bentuk modern dari Body Dysmorphic Disorder (BDD). “Orang-orang melihat sesuatu di internet dan menganggapnya sebagai realitas absolut. Mereka lupa bahwa banyak dari tampilan itu adalah hasil edit profesional dan filter,” pungkasnya.
Oleh karena itu, penting bagi lingkungan terdekat untuk mengedukasi remaja mengenai pentingnya mencintai diri sendiri dan memahami bahwa kecantikan tidak selalu diukur dari standar kulit yang tampak seperti porselen.