Skandal Industri Fashion: Desainer Mewah Andrea Mary Marshall Didakwa Eksploitasi dan Tak Bayar Gaji Karyawan
Kamis, 18 Jun 2026 12:34 WIB
Kabarmalam.com — Di balik gemerlap lampu runway dan kemewahan busana high-end New York, tersimpan sebuah rahasia kelam yang kini mencuat ke permukaan. Andrea Mary Marshall, sosok di balik label mewah ‘Salon 1884’, kini harus berhadapan dengan hukum setelah tuduhan eksploitasi tenaga kerja mencoreng reputasinya yang selama ini dikenal cemerlang di kalangan elit.
Marshall, wanita berusia 44 tahun yang karyanya pernah membalut tubuh aktris papan atas seperti Julia Roberts hingga Cynthia Erivo, diduga menjalankan praktik bisnis yang jauh dari kata manusiawi. Meski desain-desainnya kerap menghiasi halaman majalah Vogue dan rak-rak butik eksklusif, realita di balik layar justru menunjukkan potret penderitaan para pekerjanya yang dipaksa bekerja melampaui batas kewajaran.
Berdasarkan laporan dari Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan, Marshall didakwa gagal membayar gaji sembilan karyawannya dengan total tunggakan mencapai US$54 ribu atau setara dengan Rp 960 juta. Angka ini mencuat seiring dengan terungkapnya pola kerja yang ekstrem, di mana para staf dipaksa menjalani jam kerja ekstrem hingga 17 jam dalam satu shift tanpa kompensasi yang layak.
Tak berhenti di situ, penyelidikan mendalam mengungkap bahwa para karyawan sering kali harus bekerja lebih dari 100 jam dalam sepekan. Tekanan fisik dan mental ini diperparah dengan kewajiban menjalani shift semalaman secara berturut-turut. Kondisi ini menggambarkan betapa kontrasnya kehidupan glamor para selebriti yang mengenakan busana karyanya dengan nasib para pengrajin di balik layar.
Bukti yang paling memilukan muncul dari serangkaian pesan singkat antara Marshall dan para pekerjanya. Dalam komunikasi tersebut, terungkap betapa putus asanya para karyawan yang memohon agar hak mereka dibayarkan demi menyambung hidup. Salah satu pekerja bahkan sempat memohon pembayaran setengah dari gajinya agar bisa mengirimkan uang untuk anak-anaknya di Ekuador. Namun, bukannya mendapatkan haknya, pekerja tersebut justru mendapatkan teguran keras dari sang desainer saat menagih hak karyawan yang sah.
Jaksa Distrik Manhattan, Alvin Bragg, memberikan kritik tajam terhadap tindakan Marshall. Ia menilai sang desainer telah secara sadar memanfaatkan ketimpangan kekuasaan untuk menindas para pekerja yang menggantungkan hidup pada upah tersebut. “Dia memanfaatkan posisi dominannya terhadap para pekerja yang sangat membutuhkan gaji tersebut untuk kebutuhan dasar seperti tempat tinggal dan biaya hidup,” tegas Bragg dalam pernyataannya.
Dalam persidangan perdana, Andrea Mary Marshall menyatakan tidak bersalah atas serangkaian dakwaan berat, mulai dari pencurian besar, penipuan, hingga pelanggaran pembayaran upah. Meski kasusnya terus bergulir, Marshall saat ini dibebaskan tanpa jaminan sambil menunggu jadwal persidangan berikutnya. Kasus ini menjadi pengingat pahit tentang pentingnya perlindungan tenaga kerja di tengah industri kreatif yang sering kali luput dari pengawasan ketat.