Kisah Haru Jayrius Ong: Kapten Bus Muda yang Menjemput Harapan dan Donor Ginjal Lewat TikTok
Rabu, 17 Jun 2026 10:04 WIB
Kabarmalam.com — Di balik kemudi bus SMRT yang membelah jalanan Singapura, tersimpan sebuah narasi keteguhan hati yang luar biasa. Jayrius Ong, seorang pemuda berusia 23 tahun yang dikenal sebagai salah satu ‘kapten bus’ termuda, kini tengah menjalani misi hidup yang jauh lebih berat daripada sekadar mengantar penumpang ke tujuan. Ia sedang berpacu dengan waktu melawan diagnosis gagal ginjal stadium akhir yang merenggut masa mudanya.
Kado Pahit di Hari Ulang Tahun ke-21
Bagi kebanyakan orang, usia 21 tahun adalah gerbang menuju kebebasan dan kedewasaan. Namun bagi Jayrius, momen tersebut justru menjadi titik balik yang memilukan. Sebagai seorang penggemar berat sistem transportasi umum, Jayrius sangat antusias saat mendaftar menjadi sopir bus. Namun, prosedur rutin pemeriksaan medis yang seharusnya menjadi syarat administrasi belaka, berubah menjadi alarm darurat.
Alih-alih merayakan hari jadinya, ia justru mendapat panggilan mendesak dari klinik yang memintanya segera menuju unit gawat darurat. Dokter memberikan vonis yang menghancurkan: kedua ginjalnya telah berhenti berfungsi secara total. “Saat itu saya merasa mati rasa dan tidak percaya. Saya sempat berpikir dokter salah mendiagnosis saya,” kenang Jayrius saat menceritakan kembali momen kelam tersebut.
Ritual Bertahan Hidup di Balik Mesin Dialisis
Sejak vonis itu dijatuhkan, hidup Jayrius tak lagi sama. Setiap Selasa dan Sabtu, tepat pukul 7 pagi, ia harus merelakan tubuhnya terhubung dengan mesin cuci darah selama empat jam. Proses dialisis ini sangat melelahkan secara fisik; ia seringkali mengalami kram kaki yang hebat dan rasa letih yang luar biasa setelah prosedur selesai.
Sebuah kateter kini tertanam permanen di dadanya sebagai jalur akses medis. Kehadiran benda asing ini membawa risiko infeksi yang tinggi. Jayrius bahkan sempat dilarikan ke ruang operasi karena infeksi serius yang membuatnya menggigil hebat saat menjalani perawatan. Meski sempat terpuruk dalam depresi, keinginan untuk tetap hidup normal mendorongnya untuk bangkit kembali.
Melawan Stigma dan Mencari Kesempatan Kedua
Meskipun kondisi fisiknya terbatas, Jayrius menolak untuk menyerah pada keadaan. Ia tetap bekerja di SMRT dengan jadwal paruh waktu yang disesuaikan dengan sesi pengobatannya. Luar biasanya, ia tetap menjalani shift sore hingga dini hari selama sembilan setengah jam per hari—durasi kerja yang sama dengan rekan-rekannya yang sehat. Melalui akun TikTok miliknya, Jayrius membagikan edukasi tentang profesinya sekaligus mengetuk pintu hati publik untuk mencari donor ginjal.
Upaya viralnya di media sosial bukan semata-mata mencari bantuan, tetapi juga untuk mendobrak stigma negatif di dunia kerja. Ia ingin membuktikan bahwa penderita penyakit kronis tetap bisa produktif dan memberikan kontribusi nyata. Targetnya adalah mendapatkan transplantasi pada kuartal ketiga tahun 2026.
“Transplantasi ginjal akan berarti segalanya bagi saya. Saya hanya ingin orang melihat saya sebagai manusia normal. Saya mungkin memiliki keterbatasan medis, tetapi saya tetap mampu melakukan apa pun yang saya inginkan,” tutupnya dengan penuh harapan. Kisah Jayrius menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh dan kekuatan semangat manusia dalam menghadapi cobaan terberat sekalipun.