Ikuti Kami
kabarmalam.com

Tragedi di Lintasan JAKIM 2026: Pakar Ingatkan Pentingnya Sinyal Tubuh dan Keberanian untuk Berhenti

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 16 Jun 2026 15:34 WIB
Tragedi di Lintasan JAKIM 2026: Pakar Ingatkan Pentingnya Sinyal Tubuh dan Keberanian untuk Berhenti

Kabarmalam.com — Ajang prestisius BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 yang berlangsung pada pertengahan Juni (13-14/6/2026) menyisakan duka mendalam bagi dunia olahraga tanah air. Di balik kemeriahan ribuan peserta yang memadati aspal ibu kota, sebuah kabar pilu menyeruak setelah salah satu peserta dilaporkan meninggal dunia saat berjuang di lintasan balap.

Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi komunitas pelari bahwa batas fisik manusia bukanlah sesuatu yang bisa ditawar secara sembarangan. Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andi Kurniawan, SpKO, memberikan sorotan tajam mengenai fenomena ini. Beliau menegaskan bahwa filosofi ‘Listen to Your Body’ bukan sekadar jargon keren di media sosial, melainkan prinsip keselamatan yang mutlak.

Membaca Sinyal Tubuh di Tengah Laju Adrenalin

Menurut dr. Andi, kemampuan untuk mengenali parameter internal tubuh adalah kunci utama bagi setiap orang yang menekuni olahraga marathon. Saat jantung berdegup kencang dan ambisi untuk mencapai garis finis membara, seringkali seseorang mengabaikan peringatan dini yang dikirimkan oleh sistem saraf mereka.

Baca Juga  Waspada Teror 'Cacing Pemakan Daging' di AS, Ancaman Baru Bagi Peternakan dan Manusia?

“Ketika sedang berlari, sangat krusial untuk mendengarkan tubuh kita. Kita harus mampu memonitor parameter apa saja yang sedang dirasakan,” ungkap dr. Andi dalam sesi wawancara mendalam pada Selasa (16/6/2026).

Beliau membagi indikator peringatan tersebut ke dalam beberapa kategori fisik yang nyata:

  • Nyeri Spesifik: Rasa sakit yang menusuk pada area kaki, lutut, atau yang paling berbahaya, di bagian dada.
  • Ketidakteraturan Pernapasan: Napas yang terasa sangat berat atau tidak stabil dibandingkan dengan intensitas lari.
  • Detak Jantung: Lonjakan heart rate yang tidak wajar atau di luar batas zona latihan yang aman.
  • Gejala Neurologis: Munculnya rasa pusing, pandangan kabur, hingga kondisi linglung atau disorientasi di tengah lintasan.

Jika salah satu gejala ini muncul, dr. Andi menyarankan tindakan preventif segera. “Jangan dipaksakan. Kurangi kecepatan secara bertahap, atau jika perlu, berhentilah total. Lakukan stretching ringan, atur kembali napas, dan evaluasi kondisi jantung Anda sebelum memutuskan lanjut atau tidak,” tambahnya.

Baca Juga  Kemenkes Tegaskan Perbedaan Hantavirus di Indonesia dengan Kasus Fatal Kapal Pesiar MV Hondius

DNS dan DNF: Keputusan Berani Seorang Ksatria Aspal

Dunia lari seringkali diwarnai oleh ego untuk selalu finis (finisher). Namun, dr. Andi menekankan perspektif baru yang lebih bijak terkait aspek kesehatan. Baginya, keputusan untuk DNS (Did Not Start) atau DNF (Did Not Finish) bukanlah bentuk kegagalan atau hal yang tabu.

“Bahkan sebelum menginjakkan kaki di garis start, saat bangun pagi, tanyakan pada diri sendiri: Are you fit enough to take part or not?” tegasnya. Kejujuran terhadap kondisi kesehatan 100 persen adalah harga mati. Jika tubuh merasa kurang bugar, memilih untuk tidak memulai balapan adalah keputusan yang paling berani.

Keputusan untuk berhenti di tengah jalan (DNF) saat kondisi fisik menurun drastis juga merupakan bentuk kebijakan diri. Dr. Andi mengampanyekan bahwa kesehatan jangka panjang jauh lebih berharga daripada medali atau catatan waktu terbaik pribadi.

Baca Juga  Kisah Haru Bocah 12 Tahun di Bandung Barat Berjuang Melawan Diabetes Tipe 1: Bukan Sekadar Konsumsi Gula

Utamakan Kesehatan, Bonuskan Personal Best

Tragedi di JAKIM 2026 diharapkan menjadi titik balik bagi para penggiat gaya hidup sehat untuk lebih mawas diri. Ambisi mengejar Personal Best (PB) atau catatan waktu terbaik memang memacu adrenalin, namun nyawa tetaplah prioritas utama.

“Kita berlari untuk menjadi lebih sehat, bukan sebaliknya. Jika kita berhasil mencapai finis dengan catatan waktu bagus, anggaplah itu sebagai bonus. Namun, pulang ke rumah dengan kondisi selamat dan sehat adalah kemenangan yang sesungguhnya,” pungkas dr. Andi menutup pembicaraan.

Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh penyelenggara event dan para pelari di masa depan untuk selalu menempatkan aspek medis dan keamanan di atas segalanya.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid