Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menilik Sejarah dan Polemik Hydration Break: Saat Cuaca Ekstrem Mengubah Wajah Sepak Bola Dunia

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 16 Jun 2026 09:34 WIB
Menilik Sejarah dan Polemik Hydration Break: Saat Cuaca Ekstrem Mengubah Wajah Sepak Bola Dunia

Kabarmalam.com — Gelaran akbar Piala Dunia 2026 mendatang tidak hanya akan menyajikan persaingan sengit antarnegara di lapangan hijau, tetapi juga tantangan alam yang nyata berupa cuaca ekstrem. Sebagai respons, FIFA telah menetapkan aturan ‘hydration break’ atau jeda minum secara resmi untuk menjaga keselamatan para pemain. Kebijakan ini memastikan bahwa seluruh 104 pertandingan yang dijadwalkan akan dihentikan sejenak pada menit ke-22 dan ke-65 di setiap babak untuk memberikan waktu istirahat selama tiga menit.

Bermula dari Teriknya Matahari Brasil

Meski kini menjadi aturan baku, sejarah sepak bola mencatat bahwa jeda minum ini memiliki perjalanan panjang sebelum dilegalkan. Jeda minum resmi pertama dalam sejarah Piala Dunia terjadi pada tahun 2014 di Brasil, tepatnya saat laga babak 16 besar antara Belanda melawan Meksiko di Fortaleza. Saat itu, suhu udara melonjak hingga 39°C, sebuah kondisi yang dianggap sangat berbahaya bagi ketahanan fisik atlet.

Baca Juga  Debat Viral Sarden Kalengan: Menakar Ulang Stigma 'UPF Tidak Sehat' Bersama Pakar IPB

Sebelumnya, pada fase grup di Manaus yang lembap, laga antara Amerika Serikat dan Portugal sudah melakukan jeda minum secara tidak resmi. Menariknya, kebijakan ini muncul setelah adanya perintah hukum dari pengadilan ketenagakerjaan di Brasil yang mewajibkan FIFA memberlakukan istirahat jika indeks suhu mencapai ambang batas tertentu demi melindungi kesehatan pekerja, yang dalam hal ini adalah para pemain profesional.

Sains di Balik Keputusan FIFA

FIFA tidak sembarangan dalam menentukan kapan laga harus dihentikan. Mereka menggunakan parameter yang disebut Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT). Berbeda dengan termometer biasa yang hanya mengukur suhu udara, WBGT adalah indeks komposit yang memperhitungkan suhu, kelembapan, kecepatan angin, hingga intensitas radiasi matahari langsung. Jika indeks ini menyentuh angka 32°C atau lebih, maka hydration break wajib dilaksanakan.

Baca Juga  Menguak Mitos Tempe dan Asam Urat: Benarkah Harus Dihindari atau Justru Menyehatkan?

Langkah ini diambil untuk meminimalisir risiko heatstroke yang bisa berakibat fatal. Evaluasi ini juga dipicu oleh keluhan para pemain dan pelatih klub besar seperti Chelsea saat melakoni laga di Amerika Serikat, di mana cuaca panas membuat performa mereka merosot tajam. Dengan adanya jeda ini, aspek keselamatan medis tetap menjadi prioritas utama di atas sekadar tontonan semata.

Antara Kebutuhan Medis dan Komersialisasi

Meski bertujuan mulia, penerapan jeda minum ini tidak lepas dari polemik. Di satu sisi, para pelatih memanfaatkan waktu tiga menit tersebut untuk memberikan instruksi taktis mendalam, mirip dengan sesi timeout dalam bola basket. Namun, di sisi lain, para penikmat bola merasa ritme pertandingan yang sedang memanas menjadi terganggu.

Baca Juga  Rahasia Mental Baja Mikel Arteta: Cara Sang Manajer Arsenal Menjaga Waras di Tengah Tekanan Juara

Masalah lain muncul dari sisi penyiaran. Beberapa stasiun televisi memanfaatkan jeda tersebut untuk menayangkan iklan, yang memicu kemarahan penonton karena dianggap merusak estetika siaran langsung. Perdebatan antara kepentingan bisnis hiburan dan keselamatan atlet ini terus menjadi bumbu dalam setiap implementasi aturan baru di kancah internasional. Namun, bagi FIFA, menjaga agar para bintang lapangan tetap bugar dan terhindar dari cedera serius adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditawar.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid