Fenomena Culas di UTBK 2026: Antara Tekanan Mental dan Pudarnya Integritas Akademik
Kamis, 23 Apr 2026 10:34 WIB
Kabarmalam.com — Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 yang seharusnya menjadi ajang pembuktian kemampuan akademik, justru ternoda oleh berbagai aksi kecurangan peserta yang mencengangkan. Sejak hari pertama digelar, sejumlah laporan mengenai praktik tidak terpuji mencuat di berbagai pusat ujian, mulai dari Universitas Diponegoro (Undip), UPN Veteran Jawa Timur, hingga Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar).
Modus Canggih yang Menggelitik Logika
Kreativitas negatif para peserta dalam mengelabui pengawas ujian tergolong sangat beragam dan terorganisir. Kabarmalam mencatat beberapa modus operandi yang ditemukan di lapangan, antara lain taktik berpura-pura datang terlambat untuk memecah konsentrasi petugas, hingga pemalsuan dokumen tingkat tinggi. Tak hanya itu, penggunaan jasa joki dan penanaman alat dengar (earpiece) kecil di telinga menjadi bukti betapa nekatnya upaya untuk menembus universitas impian.
Pertanyaan besarnya kemudian muncul: Mengapa di tengah risiko diskualifikasi dan sanksi hukum yang nyata, banyak individu tetap memilih jalur culas? Mengapa integritas seolah menjadi harga yang murah untuk ditukar dengan kursi perguruan tinggi?
Tinjauan Psikologis: Mengapa Integritas Terkikis?
Menanggapi fenomena ini, psikolog klinis Anastasia Sari Dewi memberikan analisis mendalam mengenai motif di balik perilaku curang tersebut. Menurutnya, terdapat perpaduan antara faktor internal dan tekanan eksternal yang mendorong seseorang melakukan penyimpangan.
“Faktor pertama berkaitan dengan sistem nilai atau value individu tersebut. Mereka seringkali merasa bahwa curang bukanlah sebuah kesalahan fatal. Ketika norma benar dan salah dalam diri seseorang sudah tidak lagi kokoh, maka pelanggaran dianggap sebagai jalan pintas yang wajar demi mencapai tujuan,” ungkap Anastasia saat memberikan pandangannya kepada Kabarmalam.
Selain masalah moralitas, faktor kepercayaan diri juga memegang peranan krusial. Rasa rendah diri terhadap kemampuan akademis sendiri memaksa peserta untuk menghalalkan segala cara agar mendapatkan skor maksimal, meskipun harus menempuh cara yang tidak etis.
Tekanan Sosial dan Ekspektasi Orang Tua
Anastasia juga menyoroti pengaruh lingkungan atau social learning. Terkadang, peserta mendapatkan inspirasi untuk berbuat curang setelah melihat orang lain melakukan hal serupa dan berhasil. Hal ini menciptakan persaingan yang tidak sehat di mana kejujuran dianggap sebagai kerugian.
Tak kalah penting adalah beban ekspektasi. Tekanan untuk mencapai hasil sempurna seringkali bukan datang dari diri sendiri, melainkan dari tuntutan keluarga atau ketakutan akan konsekuensi sosial jika gagal. “Ada kekhawatiran akan hukuman, kemarahan, atau kekecewaan orang tua. Ketakutan akan konsekuensi negatif inilah yang memicu mereka untuk mengambil risiko besar dengan berbuat curang di UTBK 2026,” tambahnya.
Membangun Kembali Budaya Jujur
Fenomena ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan di dunia pendidikan bahwa seleksi masuk perguruan tinggi bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan ujian karakter. Pendidikan karakter sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah menjadi kunci utama agar generasi mendatang tidak lagi memandang kecurangan sebagai sebuah opsi.
Tanpa adanya perbaikan pada sistem nilai individu dan pengurangan tekanan sosial yang berlebihan, bayang-bayang praktik joki dan kecurangan canggih diprediksi akan terus menghantui setiap ajang kompetisi nasional di masa depan.