Ikuti Kami
kabarmalam.com

Fenomena Viral Minum Oli di Sulawesi Selatan: Pakar Kesehatan Ingatkan Ancaman Gagal Organ Hingga Kematian

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 14 Apr 2026 09:11 WIB
Fenomena Viral Minum Oli di Sulawesi Selatan: Pakar Kesehatan Ingatkan Ancaman Gagal Organ Hingga Kematian

Kabarmalam.com — Jagat maya baru-baru ini dikejutkan oleh munculnya sebuah fenomena ekstrem yang berkembang di tengah masyarakat Sulawesi Selatan. Sebuah tren yang mengklaim bahwa mengonsumsi oli atau minyak pelumas kendaraan dapat meningkatkan stamina tubuh seketika, kini menjadi sorotan tajam para ahli medis karena risikonya yang sangat fatal bagi nyawa manusia.

Menanggapi kabar yang meresahkan ini, dokter spesialis penyakit dalam, dr. Aru Ariadno, menegaskan bahwa oli adalah cairan kimia industri yang sama sekali tidak dirancang untuk masuk ke dalam sistem pencernaan manusia. Ia menjelaskan bahwa di dalam setiap tetes pelumas mesin terkandung berbagai zat berbahaya, mulai dari pewarna sintetis, bahan pengawet, hingga pelarut kimia yang bersifat toksik bagi jaringan tubuh.

“Risiko mengonsumsi cairan ini tidak main-main. Dampaknya bisa berujung pada kematian, diawali dengan gejala akut seperti muntah-muntah hebat, diare, hingga muntah darah yang mengancam nyawa,” ujar dr. Aru dalam keterangannya yang dihimpun tim redaksi.

Baca Juga  Waspada Lonjakan Kanker Ginjal di Usia Muda, Kenali Gejala 'Senyap' yang Sering Diabaikan

Kerusakan Organ Vital dan Gangguan Saraf

Lebih lanjut, dr. Aru memaparkan bahwa kandungan beracun dalam oli dapat menyerang organ-organ vital yang berfungsi sebagai penyaring racun dalam tubuh, yakni hati dan ginjal. Jika terpapar secara terus-menerus atau dalam dosis tertentu, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal organ permanen. Banyak warga yang mungkin terjebak dalam pencarian instan untuk meningkatkan stamina pria tanpa menyadari bahwa mereka sedang memasukkan racun ke dalam sistem mereka sendiri.

Efek mengerikan lainnya mencakup gangguan pada sistem saraf pusat. Paparan zat kimia industri ini berpotensi memicu kejang-kejang, penurunan kesadaran secara drastis, hingga kondisi koma yang sulit dipulihkan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam memilih asupan dan tetap berpegang pada prinsip nutrisi seimbang untuk menjaga kesehatan tubuh.

Baca Juga  Keamanan Terjamin, AB Plastic Surgery Korea Resmi Kantongi Akreditasi Internasional KAHF

Tinjauan Medis: Sifat Lipofilik yang Mematikan

Senada dengan peringatan medis tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Selatan turut angkat bicara. Kepala Dinkes Sulsel, Evi Mustikawati Arifin, menyatakan dengan tegas bahwa tren meminum oli tidak memiliki dasar ilmiah maupun manfaat kesehatan sedikit pun. Ia menekankan bahwa oli mengandung logam berat dan aditif industri yang bersifat destruktif.

“Oli bersifat lipofilik, artinya cairan ini tidak dapat larut dalam air sehingga sangat sulit bagi tubuh manusia untuk memproses atau membuangnya. Ini adalah zat asing yang akan memicu peradangan hebat di saluran cerna,” jelas Evi kepada awak media.

Dampak jangka pendek yang sering muncul adalah iritasi lambung yang menyebabkan nyeri perut luar biasa hingga luka perdarahan. Namun, yang paling ditakuti adalah risiko pada sistem pernapasan. Jika cairan oli secara tidak sengaja masuk ke saluran napas (aspirasi), hal ini dapat memicu pneumonia aspirasi. Gejalanya meliputi sesak napas akut, nyeri dada, hingga kegagalan fungsi paru-paru yang sering kali berujung pada kematian mendadak.

Baca Juga  Kontroversi Insentif Dapur MBG Rp 6 Juta per Hari, Kepala BGN Akhirnya Beri Penjelasan Tegas

Imbauan untuk Masyarakat

Pemerintah daerah dan otoritas kesehatan kini terus memantau perkembangan tren ini di lapangan agar tidak semakin meluas. Masyarakat diingatkan untuk tidak mudah percaya pada testimoni atau mitos yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis. Stamina yang prima hanya bisa didapatkan melalui pola hidup sehat, olahraga teratur, dan konsultasi dengan tenaga medis profesional, bukan dengan mengonsumsi cairan mesin yang bersifat mematikan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid