Viral Bayi 1,5 Tahun Kena Hipotermia di Gunung Ungaran, IDAI Beri Peringatan Keras: Anak Bukan ‘Orang Dewasa Mini’
Senin, 13 Apr 2026 14:49 WIB
Kabarmalam.com — Sebuah rekaman video yang memperlihatkan evakuasi dramatis seorang bayi perempuan berusia 1,5 tahun di Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, mendadak menjadi pusat perhatian netizen. Bayi berinisial LL tersebut dilaporkan mengalami kondisi kritis akibat hipotermia hebat setelah dibawa oleh kedua orang tuanya mendaki hingga ke kawasan Puncak Bondolan pada Sabtu (11/4/2026).
Dalam suasana mencekam di tengah cuaca ekstrem, tim SAR gabungan dari Basarnas yang saat itu tengah bersiaga untuk agenda Semarang Mountain Race, langsung bergerak cepat memberikan pertolongan pertama. Bayi mungil tersebut tampak terus menangis dengan tubuh gemetar, sebuah tanda nyata bahwa suhu inti tubuhnya menurun drastis akibat paparan udara dingin yang tidak sanggup ditahan oleh fisik balita.
IDAI Tegaskan Prinsip ‘Safety First’
Menanggapi insiden yang viral tersebut, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), angkat bicara dengan nada serius. Ia mengingatkan para orang tua bahwa dalam setiap aktivitas luar ruang yang melibatkan buah hati, faktor keselamatan anak harus menjadi prioritas absolut di atas segalanya.
“Kami dari sisi medis selalu menekankan prinsip safety first. Tubuh anak usia 1,5 tahun sangat berbeda dengan orang dewasa; mereka jauh lebih mudah kehilangan panas tubuh. Jarak pendakian yang jauh, potensi hujan, serta durasi paparan cuaca dingin adalah hal-hal krusial yang sering kali luput dari pertimbangan matang orang tua,” ungkap dr. Piprim dalam sebuah wawancara.
Ia juga menegaskan ketidaksetujuannya terhadap tindakan membawa balita ke lokasi dengan risiko cuaca ekstrem. Menurutnya, membawa anak di bawah tiga tahun (batita) ke lokasi yang berpotensi memicu kondisi basah kuyup atau kepanasan yang berlebih sangat tidak direkomendasikan demi kesehatan jangka panjang sang anak.
Jangan Memaksa Anak Menjadi ‘Pendaki’ Secara Instan
Senada dengan dr. Piprim, Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, dr. Yogi Prawira, SpA Subs ETIA(K), menyoroti fenomena psikologis orang tua masa kini. Banyak orang tua yang memiliki hobi mendaki gunung secara otomatis berasumsi bahwa anak mereka akan memiliki ketahanan fisik yang sama kuatnya.
“Secara prinsip, jangan pernah berasumsi jika orang tuanya pendaki, maka anaknya otomatis menjadi ‘anak gunung’. Secara biologis, anak-anak memiliki frekuensi napas yang lebih cepat, yang mengakibatkan mereka lebih cepat kehilangan cairan dan panas tubuh dibandingkan orang dewasa,” jelas dr. Yogi.
Edukasi ‘Start Low Go Slow’
Bagi orang tua yang ingin mulai memperkenalkan keindahan alam kepada anak, dr. Yogi menyarankan metode edukasi yang bertahap, yakni start low go slow. Pendakian tidak boleh dilakukan secara impulsif ke gunung yang tinggi, melainkan harus disesuaikan dengan kesiapan fisik dan mental anak secara perlahan.
“Mulailah dari tempat yang landai, lihat bagaimana respon tubuh si kecil. Jangan langsung ke puncak tinggi. Ingat, di atas gunung tidak ada akses cepat ke rumah sakit. Risiko fatal akibat gejala hipotermia bisa terjadi jika orang tua tidak memiliki kesiapan darurat, seperti teknik skin-to-skin untuk menghangatkan suhu tubuh,” tambahnya.
Tragedi di Gunung Ungaran ini menjadi alarm keras bagi masyarakat luas. Ambisi untuk menaklukkan puncak atau sekadar konten media sosial tidak seharusnya mengorbankan nyawa dan keselamatan anak yang masih berada pada fase pertumbuhan rentan.