Ratapan Ammar Zoni di Kursi Pesakitan: Mengaku Bersalah dan Berharap Putusan yang Adil
Sabtu, 04 Apr 2026 16:22 WIB
Kabarmalam.com — Mengenakan rompi tahanan dengan sorot mata yang menyiratkan beban berat, aktor Ammar Zoni kembali berdiri di hadapan Majelis Hakim untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (2/4/2026), Ammar membacakan nota pembelaan atau pledoi atas kasus narkoba yang menjeratnya di Rutan Salemba.
Mantan suami Irish Bella ini tidak lagi mencoba berkelit. Di depan kursi pesakitan, ia menumpahkan segala penyesalan yang mendalam. Ammar menyadari bahwa jejak kelam ini telah membawanya ke titik terendah untuk kesekian kalinya. Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang masih setia mendampinginya melewati badai hukum ini.
Titik Balik dan Harapan di Sidang Keempat
Bagi Ammar, duduk sebagai terdakwa untuk keempat kalinya adalah sebuah tamparan keras. Ia secara eksplisit menceritakan bagaimana dinamika hidupnya yang penuh pasang-surut tertuang dalam pledoi yang ia susun dengan penuh pertimbangan. Ammar berharap ini menjadi babak terakhir dari sejarah kelamnya dengan barang haram tersebut.
“Saya pikir, di tempat ini adalah tempat terakhir untuk saya datang lagi, hadir di tempat ini dan duduk di kursi ini. Ini yang terakhir,” ungkap Ammar dengan nada emosional saat menyampaikan isi hati di depan sidang pledoi tersebut.
Pengakuan Dosa Terbesar: Mengecewakan Diri Sendiri
Lebih dari sekadar menghadapi konsekuensi hukum, Ammar Zoni merasa bahwa kesalahan terbesarnya adalah pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Ia mengakui secara terbuka bahwa keterpurukannya yang berulang merupakan bentuk kegagalan dalam menjaga prinsip hidupnya.
“Saya tidak menyatakan kalau saya secara murni memang tidak bersalah. Saya tahu saya bersalah. Saya bersalah kepada diri saya sendiri yang berkali-kali selalu jatuh, jatuh, dan jatuh lagi,” tegasnya di hadapan Majelis Hakim.
Menjelang putusan hakim yang semakin dekat, Ammar hanya bisa berserah sembari memohon agar dijatuhi hukuman yang pantas. Baginya, keadilan bukan sekadar soal angka tahun penjara, melainkan kesempatan untuk benar-benar bangkit dari lubang hitam yang selama ini mengubur karier dan kehidupan pribadinya. Kini, bola panas berada di tangan Majelis Hakim untuk menentukan nasib sang aktor di masa depan.