Kisah Pilu Steven Hamill: Alami Kanker Penis Langka di Usia 26 Tahun hingga Harus Diamputasi
Senin, 29 Jun 2026 18:36 WIB
Kabarmalam.com — Bayangan tentang masa depan yang cerah seketika sirna bagi Steven Hamill ketika sebuah kondisi medis yang semula dianggap remeh berubah menjadi mimpi buruk yang mengubah hidupnya selamanya. Pria asal Inggris ini harus menelan kenyataan pahit bahwa sebagian alat vitalnya harus dieksisi atau diamputasi akibat serangan kanker penis yang ganas dan progresif.
Tragedi ini bermula pada tahun 2019, sebuah momen yang tidak akan pernah dilupakan oleh Steven. Suatu pagi, ia terbangun dengan kondisi organ intim yang membengkak secara tidak wajar. Meski sempat mencoba bersikap tenang, situasi berubah mencekam hanya dalam hitungan jam saat perdarahan hebat terjadi tanpa peringatan.
“Saya melihat ke bawah dan darah sudah ada di mana-mana. Cairan merah itu mengenai lemari dapur, kaki saya, hingga membasahi lantai,” kenang Steven dengan nada emosional saat membagikan kisahnya dalam program This Morning di ITV, yang dirangkum kembali oleh tim redaksi Kabarmalam.com.
Terjebak dalam Asumsi Medis
Ketakutan Steven sempat mereda sesaat ketika dokter pertama yang memeriksanya meyakinkan bahwa kondisi tersebut bukanlah kanker. Secara medis, asumsi tersebut didasari pada usia Steven yang baru menginjak 26 tahun, jauh dari kelompok risiko utama kanker penis yang biasanya menyerang pria di atas usia 50 tahun.
Namun, kepastian palsu itu hanya bertahan satu bulan. Perdarahan kembali terjadi dengan intensitas yang jauh lebih mengerikan. Kali ini, Steven langsung dirujuk ke tim spesialis onkologi. Hasil pemeriksaan lanjutan mengungkap fakta yang menghancurkan: sel kanker telah menggerogoti jaringan penisnya dengan sangat agresif.
“Jika diibaratkan, bentuknya seperti pisang yang sudah digigit dari bagian bawah. Ada kawah besar di sana karena sel kanker terus memakan jaringan sehat. Itulah alasan mengapa perdarahan terus terjadi tanpa henti,” ujar Steven menggambarkan kondisi kerusakan organ vitalnya saat itu.
Keputusan Pahit Demi Kelangsungan Hidup
Mengingat penyebaran kanker yang sudah sangat luas, tim dokter tidak memiliki pilihan lain selain melakukan tindakan radikal. Prosedur amputasi dilakukan dengan mengangkat sekitar 10 cm bagian penis Steven guna memutus rantai penyebaran sel kanker ke organ tubuh lainnya. Keputusan ini menjadi pukulan psikologis yang luar biasa berat bagi seorang pria di usia produktif.
Meski harus kehilangan bagian penting dari tubuhnya, Steven memilih untuk tidak menjalani operasi rekonstruksi. Berdasarkan pertimbangan medis, prosedur pembangunan ulang organ tersebut tidak menjamin kembalinya sensasi saraf secara penuh dan justru berisiko merusak fungsi sisa yang masih ada. Steven lebih memilih fokus pada pemulihan kualitas hidup pasca-trauma.
Bangkit dan Menemukan Makna Baru
Tujuh tahun berlalu sejak ia dinyatakan bersih dari kanker, Steven Hamill kini muncul sebagai sosok yang lebih kuat. Ia aktif menyuarakan pentingnya deteksi dini dan kesadaran akan kesehatan reproduksi pria. Baginya, keterbukaan adalah kunci utama dalam menghadapi penyakit yang sering dianggap tabu ini.
“Saya belajar untuk mengenali tubuh saya kembali dan memperbaiki cara berkomunikasi dengan pasangan. Menariknya, pengalaman pahit ini justru membuat hubungan saya menjadi jauh lebih dekat dan intim secara emosional. Saya merasa pengalaman ini telah menempa saya menjadi pribadi yang jauh lebih baik,” pungkasnya.
Kisah Steven menjadi pengingat keras bagi setiap pria untuk tidak mengabaikan gejala sekecil apa pun pada tubuh, terlepas dari faktor usia. Kesehatan pria adalah aset yang tak ternilai, dan kewaspadaan dini bisa menjadi pembeda antara kesembuhan total atau kehilangan yang permanen.