Strategi Bertahan Hidup ala Anak Kos: Viral Aksi Mahasiswa Bukittinggi Pungut Sayur Layak Pakai di Pasar
Sabtu, 27 Jun 2026 07:05 WIB
Kabarmalam.com — Hidup di perantauan sering kali menuntut kreativitas tanpa batas, terutama saat kondisi finansial mulai mencekik di akhir bulan. Fenomena ini tercermin jelas dalam sebuah video viral yang memperlihatkan aksi dua pemuda di Bukittinggi, Sumatera Barat, yang tak gengsi menyisir pasar demi mendapatkan sayuran sisa sortiran yang masih sangat layak konsumsi.
Tanpa Gengsi Demi Isi Perut
Dua pria yang berstatus sebagai anak kos ini mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah membagikan pengalaman unik mereka berburu bahan pangan di area pasar tradisional. Tanpa raut malu, mereka justru tampak antusias memilah tumpukan sayur yang dibuang oleh pedagang karena dianggap tidak memenuhi standar estetika penjualan, namun sebenarnya masih segar untuk dimasak.
Melalui unggahan di akun Instagram @sagara_sagara.aja, terlihat bagaimana mereka dengan teliti mengumpulkan berbagai komoditas seperti kembang kol utuh, cabai merah, selada, hingga terung ungu. Aksi yang dilakukan di tengah hiruk-pukuk suasana pasar malam tersebut berhasil membuktikan bahwa dengan ketelitian, bahan pangan yang kerap dianggap sampah bisa diolah menjadi hidangan bergizi yang menyelamatkan kantong mahasiswa.
Kisah di Balik Layar: Survival Mode On
Kabarmalam.com menelusuri lebih jauh sosok di balik video tersebut. Ia adalah Hapiandi Sagara, atau yang akrab disapa Fandi, seorang mahasiswa berusia 21 tahun yang juga aktif sebagai penari di Bukittinggi. Fandi mengungkapkan bahwa ide memungut sayur buangan ini muncul bukan semata-mata untuk kebutuhan konten, melainkan solusi nyata saat kondisi keuangannya sedang kritis.
“Kemarin itu memang benar-benar tidak ada uang lagi. Uang yang tersisa hanya cukup untuk membeli tahu dan sedikit minyak goreng. Karena sering melihat banyak sayuran bagus yang dibuang saat sore hari di pasar, kami akhirnya memutuskan untuk mengutipnya demi menghemat pengeluaran,” ungkap Fandi dengan jujur.
Beberapa lokasi yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka antara lain Pasar Bawah Bukittinggi, Aur Kuning, hingga Pasar Padang Luar. Fandi mengaku perasaannya campur aduk; ada rasa senang karena mendapatkan bahan pangan gratis, namun ada pula rasa miris melihat banyaknya sayuran berkualitas yang dibuang begitu saja menjadi limbah.
Respon Netizen: Antara Salut dan Relate
Hingga saat ini, video tersebut telah ditonton lebih dari 1,3 juta kali. Ribuan komentar membanjiri unggahan Fandi, di mana mayoritas netizen merasa sangat terhubung dengan perjuangan hidup sebagai perantau. Banyak yang memuji keberanian Fandi dalam membuang gengsi demi keberlangsungan hidup yang mandiri.
- “Sebenarnya aku pengen ikutan juga, sering lihat sayuran masih bagus tapi dibuang, rasanya mubazir banget,” tulis salah satu netizen.
- “Keren kak, nggak perlu malu selama itu halal dan bermanfaat untuk hemat biaya hidup,” timpal warga net lainnya.
Aksi kreatif ini terbukti efektif. Menurut pengakuan Fandi, hasil perburuannya di pasar mampu mencukupi stok makanannya selama dua hingga tiga hari ke depan. Hal ini menjadi pengingat bagi banyak orang tentang pentingnya menghargai makanan dan betapa besarnya potensi limbah pangan yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan kembali.
Kisah Fandi adalah potret nyata perjuangan anak muda yang berani menghadapi realita dengan cara yang positif dan solutif. Di tengah tren gaya hidup mewah, kesederhanaan dan kejujuran Fandi justru memberikan warna baru yang menyentuh hati banyak orang.