Visi Berani Bryan Johnson: Benarkah Manusia Bisa Hidup Selamanya Berkat Kecerdasan Buatan?
Jumat, 26 Jun 2026 14:04 WIB
Kabarmalam.com — Sosok miliarder sekaligus pegiat biohacking, Bryan Johnson, kembali menghebohkan publik dengan klaimnya yang melampaui batas nalar konvensional. Pria yang dikenal dengan obsesinya terhadap ritual awet muda ini meyakini bahwa di masa depan, sebagian umat manusia tidak lagi harus tunduk pada hukum alam kematian dan berpotensi hidup selamanya.
Johnson, yang kini berusia 48 tahun, baru-baru ini meluncurkan langkah transformatif dengan mengubah nama perusahaannya menjadi ‘Immortals’. Melalui platform media sosialnya, ia memaparkan sebuah visi di mana kemajuan pesat dalam bidang bioteknologi dan kecerdasan buatan (AI) akan menciptakan titik balik bagi sejarah manusia. Menurutnya, kita tengah menuju sebuah era di mana kecepatan peningkatan harapan hidup akan melampaui proses penuaan itu sendiri.
Tiga Pilar Keabadian Versi Bryan Johnson
Meskipun gagasan ini terdengar seperti naskah film fiksi ilmiah, Johnson menegaskan bahwa landasannya berakar pada realitas sains yang sedang berkembang. Ia merinci tiga alasan utama yang memperkuat optimismenya terhadap konsep imortalitas biologis:
- Keajaiban Alam yang Sudah Ada: Johnson menunjukkan bahwa konsep keabadian sebenarnya bukan hal asing di alam semesta. Ia mencontohkan mekanisme embrio yang mampu ‘meriset’ usia biologisnya kembali ke titik nol saat proses pembuahan. Selain itu, ia menyoroti eksistensi immortal jellyfish atau ubur-ubur abadi yang secara alami mampu memutar balik siklus hidupnya dari fase dewasa kembali ke fase muda.
- Akselerasi Melalui Kecerdasan Buatan: Peran kecerdasan buatan dianggap sebagai katalisator utama. Johnson menyoroti teknologi AlphaFold2 milik DeepMind yang telah merevolusi cara ilmuwan memahami struktur protein. Baginya, AI akan mempercepat penemuan solusi atas berbagai penyakit kompleks dan proses degeneratif tubuh jauh lebih cepat daripada kemampuan otak manusia biasa.
- Bukti Nyata di Dunia Medis: Sebagai bukti konkret, Johnson menunjuk pada kisah Sid Sijbrandij, seorang pasien kanker tulang yang bertahan hidup berkat terapi berbasis AI. Ia juga menceritakan seorang pemilik anjing di Australia yang berhasil mengembangkan vaksin mRNA khusus untuk mengobati tumor pada hewan peliharaannya, menunjukkan bahwa personalisasi pengobatan kini berada dalam jangkauan kita.
Debat Ilmiah dan Skeptisitas Global
Tentu saja, narasi Johnson tidak lepas dari kritik tajam. Komunitas sains global masih memandang klaim ini dengan penuh kehati-hatian. Hingga saat ini, belum ada bukti empiris yang benar-benar menjamin bahwa tubuh manusia, dengan segala kompleksitas organ dan selnya, dapat mencapai kondisi abadi secara permanen tanpa mengalami kerusakan sistemik.
Namun, Johnson tampaknya tidak bergeming dengan keraguan tersebut. Baginya, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan manusia dapat bertahan hidup cukup lama hingga teknologi penyelamat nyawa ini mencapai titik sempurnanya. Ia menutup pesannya dengan sebuah imbauan provokatif namun penuh harapan kepada para pengikutnya: “Jangan mati dulu untuk sementara waktu.”
Eksperimen hidup Johnson tetap menjadi salah satu topik paling menarik di dunia kesehatan modern, mengingatkan kita bahwa batasan antara manusia dan teknologi kini semakin samar.