Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menginjak Garam Sebelum Tidur Jadi Tren Viral di TikTok, Apakah Efektif untuk Kesehatan atau Sekadar Mitos?

Jurnal | kabarmalam.com
Minggu, 21 Jun 2026 17:34 WIB
Menginjak Garam Sebelum Tidur Jadi Tren Viral di TikTok, Apakah Efektif untuk Kesehatan atau Sekadar Mitos?

Kabarmalam.com — Jagat media sosial, khususnya TikTok, kembali digemparkan dengan tren kesehatan yang tergolong unik namun sederhana: menginjak garam Epsom sebelum tidur. Praktik yang sering disebut sebagai bagian dari metode ‘grounding’ atau pembumian ini diklaim mampu menyulap kualitas tidur menjadi lebih nyenyak, menenangkan pikiran, hingga menghaluskan kulit kaki.

Fenomena ini mencuat setelah seorang kreator konten, Tammy Weatherhead, membagikan rutinitas malamnya yang tak biasa. Dalam video yang telah ditonton jutaan kali, ia terlihat menuangkan butiran garam Epsom ke atas loyang datar, lalu menggesekkan telapak kakinya di atas kristal garam tersebut sebelum beranjak ke tempat tidur. Langkah ini ia klaim sebagai kunci untuk mencapai ketenangan sistem saraf pusat.

Narasi di Balik Ritual ‘Grounding’ Garam

Menurut narasi yang berkembang, ritual ini bukan sekadar aktivitas fisik. Para pengikut tren ini percaya bahwa gesekan antara kulit kaki dan garam dapat memicu pelepasan hormon serotonin yang memperbaiki suasana hati, sekaligus menekan hormon kortisol yang memicu stres. Tak sedikit pengguna media sosial yang memberikan testimoni bahwa kecemasan mereka berkurang dan tubuh terasa lebih seimbang setelah rutin melakukannya.

Baca Juga  Lembur di Alam Bawah Sadar: Mengapa Kita Sering Bermimpi Tentang Pekerjaan dan Cara Mengatasinya

Namun, di balik klaim yang menggiurkan tersebut, muncul pertanyaan besar bagi mereka yang mencari tips kesehatan berbasis bukti: Apakah secara medis praktik ini memang memberikan dampak signifikan pada kimia otak kita?

Tinjauan Medis: Antara Eksfoliasi dan Sugesti

Para ahli kesehatan memberikan pandangan yang lebih skeptis namun objektif. Dr. Yoshua Quinones, seorang spesialis penyakit dalam, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada penelitian klinis yang membuktikan bahwa berdiri di atas garam kering dapat mengubah kadar hormon dalam tubuh secara instan. Meski demikian, ia tidak menampik adanya manfaat fisik yang nyata.

“Manfaat yang paling logis adalah eksfoliasi. Garam kasar efektif mengangkat sel kulit mati pada kaki. Sementara rasa rileks yang muncul kemungkinan besar berasal dari pengalaman sensorik dan ritual relaksasi itu sendiri, bukan karena reaksi kimia ajaib dari garam,” ungkap Quinones.

Baca Juga  Manjakan Pencinta Mode, Rendezvous Modest Market di AEON Mall JGC Hadirkan Diskon Fantastis Brand Lokal

Di sisi lain, Dr. Saema Tahir, seorang spesialis gangguan tidur nyenyak, justru memberikan peringatan. Ia menyebutkan bahwa paparan garam dalam intensitas tertentu terkadang malah dapat memicu sistem saraf simpatik yang berisiko meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, hal yang justru kontraproduktif jika tujuannya adalah untuk beristirahat.

Risiko Bagi Kondisi Kulit Tertentu

Meskipun terlihat tidak berbahaya, metode ini tetap memiliki risiko bagi kelompok tertentu. Para dokter menyarankan agar individu dengan luka terbuka, kulit pecah-pecah, penderita diabetes dengan gangguan saraf kaki (neuropati), atau mereka yang memiliki kulit sensitif untuk menghindari tren ini karena dapat memicu iritasi hebat atau infeksi.

Psikiater Dr. Bonnie Mitchell menambahkan perspektif psikologis yang menarik. Ia menilai bahwa kekuatan utama dari tren ini terletak pada aspek mindfulness. Aktivitas memperlambat gerakan tubuh dan fokus pada sensasi fisik di telapak kaki membantu seseorang untuk lebih hadir di masa kini (present), yang secara alami menurunkan tingkat kecemasan.

Baca Juga  Mengenal Tren Stacked Water: Revolusi Hidrasi atau Sekadar Gimmick Media Sosial?

“Mengklaim bahwa garam mengubah kimia otak adalah pernyataan yang berlebihan. Namun, jika ritual ini membuat Anda merasa lebih tenang karena Anda meluangkan waktu untuk diri sendiri, maka manfaat psikologisnya tetap valid, meskipun bukan karena garamnya,” jelas Mitchell.

Pada akhirnya, tren menginjak garam ini lebih condong sebagai bentuk tips kecantikan dan relaksasi mandiri ketimbang pengobatan medis. Jika Anda ingin mencobanya, pastikan kondisi kulit kaki dalam keadaan sehat dan jangan berekspektasi secara berlebihan terhadap perubahan hormon yang drastis.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com