Ikuti Kami
kabarmalam.com

Evaluasi Ketat MBG: Badan Gizi Nasional Hentikan Penyaluran di 76 Sekolah Pulau Jawa

Wahid | kabarmalam.com
Jumat, 19 Jun 2026 09:34 WIB
Evaluasi Ketat MBG: Badan Gizi Nasional Hentikan Penyaluran di 76 Sekolah Pulau Jawa

Kabarmalam.com — Langkah strategis diambil oleh Badan Gizi Nasional (BGN) guna memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sampai ke tangan yang benar-benar membutuhkan. Terbaru, institusi ini memutuskan untuk menyetop distribusi bantuan gizi di 76 sekolah yang berada di kawasan Pulau Jawa. Kebijakan ini berdampak pada setidaknya 39.352 siswa yang sebelumnya terdaftar dalam skema program tersebut.

Keputusan ini bukanlah tanpa alasan. Berdasarkan hasil evaluasi dan pendataan komprehensif yang dilakukan hingga pertengahan Juni, puluhan sekolah tersebut dinilai telah memiliki kapasitas mandiri untuk memenuhi kebutuhan gizi para siswanya. Dengan kata lain, intervensi gizi dari pemerintah dianggap tidak lagi menjadi prioritas utama bagi institusi pendidikan tersebut karena kondisi sosial ekonomi lingkungannya yang sudah mapan.

Baca Juga  Mengenal Nanik S Deyang, Sosok Jurnalis Senior yang Kini Nakhodai Badan Gizi Nasional

Refocusing Anggaran untuk Kelompok Rentan

Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya efisiensi dan refocusing anggaran negara. Dana yang semula mengalir ke sekolah-sekolah yang sudah mampu tersebut, kini akan dialihkan ke sasaran yang jauh lebih mendesak. “Kami menyusun kriteria yang ketat. Sekolah-sekolah ini secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan gizi mereka, sehingga bantuan dialokasikan ke titik lain,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan resmi.

Fokus penyaluran kini bergeser secara signifikan ke wilayah daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Tak hanya soal letak geografis, sasaran penerima manfaat juga diperluas untuk memperkuat fondasi kesehatan masyarakat yang lebih luas, mencakup ibu hamil, ibu menyusui, hingga pemenuhan gizi balita demi menekan angka stunting secara nasional.

Baca Juga  Bukan Sekadar Botol Susu, Intip Manfaat Dot Orthodontic untuk Struktur Gigi Si Kecil yang Sempurna

Indikator Ketat dan Evaluasi Berkelanjutan

Dalam menjalankan kebijakan ini, Badan Gizi Nasional menggunakan berbagai indikator objektif sebagai parameter. Indikator tersebut mulai dari tingkat kerentanan gizi di suatu wilayah, kondisi sosial ekonomi keluarga siswa, hingga aksesibilitas pangan sehat di lingkungan sekolah. Siswa yang teridentifikasi berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke atas atau berada pada kelompok desil tinggi dipastikan tidak lagi masuk dalam daftar penerima bantuan cuma-cuma ini.

Agustina juga memberikan sinyal kuat bahwa jumlah 76 sekolah ini bukanlah angka final. BGN berkomitmen untuk terus melakukan validasi data di lapangan secara berkala. Artinya, jumlah sekolah yang dicoret dari daftar penerima MBG berpotensi terus bertambah seiring dengan hasil evaluasi yang dilakukan.

Baca Juga  Benteng Pertahanan Kesehatan: Kemenkes Perketat Skrining Hantavirus di Pintu Masuk Negara

“Efektivitas anggaran pemerintah (APBN) adalah prioritas kami. Dengan penyisiran data yang akurat, program ini bisa lebih tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi mereka yang paling membutuhkan,” tambahnya. Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap dapat melakukan penghematan anggaran yang signifikan tanpa mengurangi esensi dari program MBG dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid