Berpelukan dengan Buah Hati, Inara Rusli Kembali Temukan Ketenangan di Tengah Badai Hukum
Kamis, 11 Jun 2026 09:33 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah pusaran badai hukum yang seolah tak kunjung usai, secercah ketenangan kini mulai menyelimuti batin Inara Rusli. Mantan istri musisi Virgoun ini dikabarkan mengalami perbaikan kondisi psikologis yang signifikan. Usut punya usut, faktor utama di balik senyumnya yang kembali merekah adalah kepulangan ketiga buah hatinya ke dekapan hangat sang ibu.
Titik Terendah Sang Ibu
Perjalanan emosional Inara belakangan ini memang tidak mudah. Kuasa hukumnya, Lechumanan, membeberkan bahwa kliennya sempat menyentuh titik nadir secara mental. Hal ini terjadi saat anak-anak mereka berada di bawah pengasuhan Virgoun dalam durasi yang cukup lama, yang kemudian memicu kecemasan hebat pada diri Inara.
“Kondisi yang paling menekan itu sebenarnya saat saudara V (Virgoun) mengambil anak-anaknya. Namun, sekarang anak-anak sudah kembali, sehingga jiwanya pun kembali tenang,” ungkap Lechumanan saat ditemui tim media di Polres Metro Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2026).
Transformasi Emosional di Tengah Kasus Hukum
Selama masa pemisahan tersebut, kestabilan mental Inara disebut sangat rapuh. Ia bahkan menunjukkan ketergantungan komunikasi yang sangat intens dengan tim hukumnya setiap hari, sekadar untuk memastikan kondisi dan perkembangan situasi anak-anaknya. Ketidakpastian mengenai nasib buah hati menjadi beban terberat di atas tumpukan kasus hukum yang tengah ia hadapi.
“Dulu hampir setiap hari menelepon saya, bertanya ini itu tentang situasi anak. Tapi sekarang, intensitas itu sudah berkurang drastis karena dia sudah lebih banyak menghabiskan waktu berkualitas bersama anak-anaknya,” tambah sang pengacara.
Anak sebagai Pelipur Lara
Kembalinya ketiga anaknya terbukti menjadi obat mujarab bagi kesehatan mental mantan personel girlband Bexxa tersebut. Kehadiran mereka memberikan kekuatan tambahan bagi Inara Rusli untuk menghadapi berbagai laporan polisi, termasuk persoalan dugaan illegal access yang masih bergulir.
Menurut Lechumanan, adalah hal yang sangat manusiawi bagi seorang ibu untuk merasa jauh lebih tenang ketika buah hatinya berada di sisi. Fokus Inara kini telah bergeser; ia lebih memilih mendedikasikan energinya untuk menjalani peran sebagai ibu sepenuhnya. Dengan dikelilingi oleh tawa anak-anak di rumah, Inara kini memiliki benteng emosional yang lebih kokoh dalam menghadapi segala ujian kehidupan yang datang silih berganti.
Stabilitas ini diharapkan menjadi modal positif bagi Inara dalam menyelesaikan sengketa hak asuh anak dan urusan legal lainnya dengan kepala dingin dan hati yang lebih lapang.