Drama Pasca Cerai Ruben Onsu dan Sarwendah: Dari Polemik Utang Bank Hingga Perebutan Akses Anak
Selasa, 02 Jun 2026 09:34 WIB
Kabarmalam.com — Badai pascaperceraian antara Sarwendah dan Ruben Onsu tampaknya belum benar-benar reda. Alih-alih menemukan ketenangan setelah berpisah, publik justru disuguhkan babak baru yang penuh drama: mulai dari tuduhan sulitnya akses bertemu anak, penghentian nafkah, hingga polemik pembagian aset yang kian memanas dan berbelit.
Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Sarwendah yang tidak bisa hadir secara fisik memilih menyapa awak media melalui sambungan video call. Dengan nada bicara yang tetap tenang namun menyimpan gurat kelelahan, mantan personil Cherrybelle ini menegaskan bahwa dirinya saat ini tengah berjuang keras demi masa depan anak-anaknya.
Berjuang Demi Nafkah Halal dan Masa Depan Anak
“Mohon maaf saya tidak bisa hadir langsung karena masih ada pekerjaan. Saya harus mencari rezeki halal untuk anak-anak. Semuanya sudah saya percayakan kepada kuasa hukum saya,” tutur Sarwendah melalui layar ponsel. Di balik kalimat sederhananya, terselip pesan mendalam bahwa prioritasnya saat ini bukanlah ego pribadi, melainkan kesejahteraan dan kestabilan mental buah hatinya.
Polemik ini semakin tajam setelah pihak Ruben Onsu melontarkan klaim bahwa dirinya dipersulit untuk bertemu dengan anak-anak. Namun, tuduhan ini langsung dibantah keras oleh Chris Sam Siwu, kuasa hukum Sarwendah. Chris mengungkapkan bahwa realitanya justru berbanding terbalik dengan apa yang dituduhkan selama ini.
Tebang Pilih Komunikasi: Siapa yang Menutup Diri?
Berdasarkan keterangan Chris, Sarwendah sebenarnya telah berulang kali mencoba menjalin komunikasi langsung dengan mantan suaminya tersebut untuk membahas perkembangan anak. Sayangnya, upaya tulus tersebut seringkali membentur tembok tinggi karena sikap dari pihak Ruben sendiri.
“Wenda itu sebenarnya lebih sering mengirim pesan kepada RO (Ruben Onsu) selama proses perceraian. Tapi balasannya selalu ‘Hubungi lawyer saya’. Jadi, sebenarnya siapa yang menolak komunikasi langsung sejak awal?” ujar Chris seraya menunjukkan bukti percakapan yang ada di ponsel kliennya. Ia menekankan bahwa urusan hukum perceraian seharusnya tidak mengorbankan ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Chris juga menantang pihak Ruben untuk membuktikan secara konkret klaim “dipersulit” tersebut. Baginya, tuduhan itu hanya valid jika Ruben datang menemui anak dan dihalangi secara paksa. “Kalau bapaknya ingin bertemu saat anak sedang jadwal les, tentu tidak bijak jika dipaksakan. Psikologis anak harus dijaga, jangan sampai mereka bingung dengan situasi orang tuanya,” tambahnya.
Ironi Harta Gana-gini: Aset yang Terlilit Utang Fantastis
Selain masalah anak, isu harta gana-gini menjadi sorotan utama dalam perselisihan ini. Terungkap fakta mengejutkan bahwa rumah yang kini ditempati Sarwendah dan anak-anaknya ternyata masih berstatus agunan bank. Rumah tersebut menjadi jaminan atas utang perusahaan milik Ruben yang dikabarkan menunggak selama dua tahun dengan nilai yang sangat fantastis.
“Jujur saja, kami merasa kecolongan. Aset yang diberikan kepada klien kami ternyata bukan aset yang ‘bersih’. Ada beban utang besar di sana yang diajukan oleh RO ke bank,” jelas Chris dengan nada kecewa. Awalnya, dalam kesepakatan awal, Ruben disebut bersedia melunasi utang tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, kesepakatan itu terus berubah-ubah secara sepihak.
Pihak Sarwendah mengaku sudah menunjukkan itikad baik, bahkan bersedia ikut menanggung beban utang tersebut asalkan status kepemilikan rumah segera dialihkan secara hukum. Namun, muncul lagi tuntutan baru dari pihak Ruben yang meminta pengembalian uang cicilan yang sudah dibayarkan sebelumnya. Ketidakpastian ini membuat proses negosiasi aset menjadi semakin alot dan penuh tekanan bagi pihak Sarwendah.
Di tengah kerumitan yang tak kunjung usai, Sarwendah hanya menitipkan satu harapan besar agar segalanya bisa selesai dengan damai. “Semoga semua bisa diselesaikan baik-baik sesuai kesepakatan awal. Kasihan anak-anak saya kalau terus-menerus disuguhi konflik seperti ini,” tutupnya sebelum mengakhiri sesi video call untuk kembali bekerja.