Nestapa Calvin Dores: Anak Sang Maestro yang Berjuang di Titik Terendah hingga Berniat Jual Bola Mata
Jumat, 22 Mei 2026 22:33 WIB
Kabarmalam.com — Nama besar Deddy Dores di panggung hiburan tanah air nyatanya tak menjamin kehidupan yang bergelimang harta bagi keturunannya. Calvin Dores, putra dari sang maestro pencipta lagu legendaris tersebut, baru-baru ini mengguncang jagat maya lewat pengakuan yang memilukan. Di tengah himpitan ekonomi yang kian menyesakkan, Calvin menyatakan niat nekat untuk menjual bola matanya demi menyambung hidup keluarga tercinta.
Langkah ekstrem ini diambil Calvin bukan tanpa alasan. Ia mengaku sudah berada di titik nadir dalam upayanya mencukupi kebutuhan ibu dan anak-anaknya. Fenomena Calvin Dores yang viral ini menjadi potret nyata betapa kerasnya perjuangan hidup di balik bayang-bayang nama besar sang ayah.
Demi Ibu dan Masa Depan Anak
Saat ditemui di sebuah studio televisi di kawasan Jakarta Selatan, Calvin mengungkapkan rasa terkejutnya atas respons publik yang begitu masif. Bagi Calvin, pernyataan menjual mata tersebut adalah refleksi dari rasa tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yang merasa gagal memberikan kemapanan.
“Setiap manusia yang masih bernapas pasti punya masalah. Namun, saya tidak menyangka pernyataan saya akan seviral ini. Tujuan utama saya hanya satu: demi kepentingan keluarga, untuk ibu saya, dan demi anak-anak saya,” ungkap Calvin dengan nada getir.
Ketakutan terbesar Calvin adalah melihat anak-anaknya harus merasakan kepahitan hidup yang sama dengan yang ia alami sekarang. Ia tak ingin generasi penerusnya terjebak dalam pusaran masalah finansial yang seolah tak berujung. “Saya hanya tidak mau anak-anak saya hidup susah seperti saya. Ini bukan sekadar keluhan, tapi kenyataan pahit yang harus saya hadapi setiap hari,” tambahnya.
Tembok Tinggi Persyaratan Kerja dan Gengsi yang Tanggal
Banyak pihak melayangkan kritik dan menyebutnya malas, namun Calvin menampik keras tudingan tersebut. Ia mengaku telah melakoni berbagai pekerjaan kasar dan serabutan demi mendapatkan uang halal. Mulai dari menjadi sopir mobil gereja hingga mengantar jemput anak sekolah, semua ia jalani tanpa rasa malu.
Namun, kendala utama yang selalu ia temui saat mencoba melamar pekerjaan tetap di perusahaan adalah masalah administratif, terutama ijazah pendidikan. Meskipun memiliki koneksi atau informasi lowongan, langkahnya seringkali terhenti karena tidak memenuhi syarat pendidikan formal yang diminta.
“Sulit sekali mencari kerja. Bukannya saya malas, saya sudah melakukan apa saja belakangan ini. Pernah mencoba melamar lewat teman yang jadi driver, tapi ujung-ujungnya mentok di ijazah lagi,” ceritanya mengenai kerasnya realita dunia kerja saat ini.
Musik yang Tak Lagi Menghidupi
Sebagai anak dari seorang musisi besar, Calvin tetap mencoba peruntungan di dunia musik. Namun, industri yang digelutinya tak lagi memberikan apresiasi yang layak. Ia bahkan terpaksa menjual beberapa karya ciptaannya, baik ke pasar dalam negeri maupun luar negeri, dengan harga yang sangat murah.
“Sampai detik ini saya masih bermusik. Bahkan saya menjual beberapa karya saya dengan harga yang jatuh banget. Tidak apa-apa, yang penting bisa bertahan hidup untuk hari ini,” tuturnya lirih.
Ironi di Balik Tawa ‘Intermittent Fasting’
Kisah yang paling menyayat hati adalah ketika Calvin harus berhadapan dengan rasa lapar. Ia mencoba tegar dengan menganggap rasa lapar yang menderanya sebagai bagian dari gaya hidup sehat atau diet, demi menghibur diri sendiri di tengah kemelaratan.
“Kalau saya yang menahan lapar, saya sudah terbiasa. Saya anggap saja sedang intermittent fasting,” ujarnya sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang menyembunyikan luka dalam.
Namun, ketegaran itu runtuh saat ia melihat anak-anaknya yang harus ikut merasakan dampaknya. Calvin merasa terpukul ketika tidak mampu menyajikan makanan yang layak di meja makan. Baginya, bisa menyajikan telur sebagai lauk sudah menjadi kemewahan yang patut disyukuri di tengah kondisi yang serba terbatas ini.
Perjuangan keturunan Deddy Dores ini menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa roda kehidupan terus berputar, dan terkadang, bertahan hidup membutuhkan pengorbanan yang melampaui logika manusia biasa.