Gaya Parenting Tegas Wanda Hamidah: Lepas Sang Putra Kuliah ke Jepang dengan Syarat Cari Uang Sendiri
Kamis, 21 Mei 2026 21:34 WIB
Kabarmalam.com — Langkah besar tengah diambil oleh politikus sekaligus aktris kenamaan, Wanda Hamidah. Ia kini tengah bersiap melepas putra tercintanya, Rakshan Rashad Hakim, untuk menempuh perjalanan akademik di Negeri Sakura. Namun, di balik dukungan penuhnya, terselip sebuah pesan menohok yang menjadi bukti betapa teguhnya Wanda dalam menanamkan nilai kemandirian bagi buah hatinya.
Filosofi ‘Uang Pas-pasan’ dan Kemandirian Finansial
Bagi Wanda Hamidah, membiarkan anak merantau bukan sekadar urusan perpindahan lokasi belajar, melainkan sebuah ujian kedewasaan. Secara terbuka, Wanda mengungkapkan bahwa ia telah memberikan syarat khusus bagi Rashad sebelum menginjakkan kaki di Jepang. Ia meminta putranya tidak hanya fokus pada buku pelajaran, tetapi juga harus mampu bertahan hidup secara finansial melalui kemandirian finansial.
“Aku bilang nanti kalau sudah di Jepang, kamu belajar bahasa Jepang dan harus bisa cari tambahan di sana. Karena uang ibunya kan juga pas-pasan. Jadi dia harus membiayai dirinya dengan bekerja,” ujar Wanda Hamidah dengan nada tegas saat ditemui di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Pesan ini bukan tanpa alasan. Wanda ingin memastikan bahwa Rashad benar-benar menghargai setiap kesempatan yang ada dan tidak menjadi sosok yang manja atau terlalu bergantung pada fasilitas orang tua. Ia ingin anak-anaknya belajar bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri, termasuk dalam urusan manajemen keuangan pribadi di negeri orang.
Bukan Ibu yang Suka Mendikte
Menariknya, di tengah tren ‘helicopter parenting’ di mana orang tua cenderung mengurusi segala detail kehidupan anak, Wanda memilih jalur yang berbeda. Ia mengaku sebagai tipe ibu yang memberikan kebebasan penuh namun tetap memegang kendali atas prinsip tanggung jawab. Ia membiarkan anak-anaknya memilih pendidikan tinggi mereka sendiri selama pilihannya dapat dipertanggungjawabkan secara kredibel.
“Aku di antara ibu-ibu yang lain, aku paling tidak mengurusi anak dalam hal teknis. Maksudnya, kalau teman-temannya masih diurus ibunya soal formulir sampai diantar, aku tidak ikutan. Pokoknya pilih sekolah yang bagus, Ibu akan dukung,” tuturnya. Baginya, masa depan adalah hak prerogatif sang anak, sehingga usaha atau effort yang dikeluarkan pun harus berasal dari keinginan pribadi mereka sendiri, bukan sekadar dorongan orang tua.
Persiapan Rashad Menuju Negeri Sakura
Keinginan untuk kuliah ke Jepang ternyata bukan ambisi mendadak bagi Rashad. Ketertarikannya terhadap budaya Jepang sudah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Aspek kebersihan dan kenyamanan lingkungan di sana menjadi daya tarik utama yang memantapkan hatinya untuk menimba ilmu dan menetap sementara di sana.
Sebagai langkah awal, Rashad direncanakan akan tinggal di asrama selama tahun pertama sebelum nantinya mencari tempat tinggal sendiri. Berbagai persiapan mulai dari pengurusan administrasi yang rumit hingga kursus bahasa Jepang intensif telah ia jalani dengan tekun. Beruntung, Rashad telah dibekali kemampuan dasar seperti memasak dan mengurus keperluan domestik sejak dini, yang ia yakini akan menjadi modal penting untuk bertahan hidup di luar negeri tanpa pendampingan orang tua.
Wanda Hamidah menutup pembicaraan dengan sebuah pengingat filosofis bahwa peran orang tua hanyalah sebagai sistem pendukung, bukan pemain utama dalam hidup anak. “Kalau kamu mau sekolah, Ibu support. Kalau kamu tidak mau sekolah, ya kamu urus diri kamu sendiri. Ini masa depan dia, bukan masa depan saya. Jadi effort-nya bukan dari saya, tapi dari anaknya sendiri,” pungkasnya, memberikan gambaran nyata tentang arti sebuah kedewasaan dalam sebuah keluarga.