Perseteruan Erin Taulany dan Mantan ART: Antara Peluang Damai dan Tekad Melanjutkan Proses Hukum
Senin, 18 Mei 2026 17:34 WIB
Kabarmalam.com — Perseteruan panas antara Rien Wartia Trigina, atau yang lebih dikenal sebagai Erin, dengan mantan asisten rumah tangganya (ART), Herawati, kini memasuki babak baru yang penuh ketegangan. Meski sinyal perdamaian sempat terhembus dari pihak Herawati saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Komisi III DPR RI, Erin tampaknya masih kokoh dengan pendiriannya untuk menempuh jalur hukum secara tuntas.
Herawati, yang sebelumnya melayangkan tudingan miring terkait dugaan kekerasan fisik dan verbal, menyatakan bahwa dirinya masih membuka pintu maaf. Ia mengaku bersedia menyelesaikan kemelut ini secara kekeluargaan apabila ada itikad baik dari pihak mantan majikannya. Namun, tawaran halus tersebut tampaknya belum mampu meluluhkan hati Erin.
Erin Taulany Memilih Terus Berjuang
Menanggapi peluang damai tersebut, Erin menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur selangkah pun. Ia merasa harga dirinya telah dipertaruhkan dalam kasus ini. Erin sebelumnya telah mengambil langkah tegas dengan melaporkan balik Herawati ke Polres Metro Jakarta Selatan atas dugaan fitnah, pencemaran nama baik, serta pelanggaran serius terhadap Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).
“Iya, saya terus fight lah ya,” ujar Erin dengan nada mantap saat ditemui awak media di kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Bagi Erin, narasi yang berkembang di publik sudah menjurus pada pembunuhan karakter yang sangat merugikan citranya. Hal inilah yang memicu tekadnya untuk mencari keadilan melalui koridor hukum.
Ketika didesak mengenai kemungkinan berdamai andai Herawati datang bersimpuh meminta maaf secara langsung, Erin enggan memberikan jawaban pasti. “Itu nanti, bicaranya nanti,” cetusnya singkat, mengisyaratkan bahwa fokus utamanya saat ini bukanlah mediasi, melainkan pembuktian di kepolisian.
Pelajaran Berharga dan Pesan Menohok
Belajar dari polemik yang menguras energi ini, Erin mengaku akan jauh lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih asisten rumah tangga di masa depan. Ia tidak ingin kejadian serupa terulang kembali di lingkungan privasinya.
Di akhir pernyataannya, Erin menyelipkan pesan menohok bagi mantan karyawannya tersebut. Ia menuntut kejujuran atas segala tindakan yang telah dilakukan Herawati selama bekerja di bawah atap rumahnya. Menurut Erin, kejujuran adalah kunci utama agar masalah ini tidak semakin berlarut-larut dalam kebohongan.
“Ya lebih baik bicaranya jujur, kenapa jadi kayak gini gitu kan. Harusnya apa yang sudah kamu lakukan di rumah, ya jujurlah dengan kelakuannya,” tutup Erin mengakhiri pembicaraan mengenai kasus hukum yang tengah membelitnya tersebut.