Fenomena Baru di Korea Selatan: Malu Kasih Uang Kondangan Rp 500 Ribu Akibat Inflasi Melambung
Jumat, 15 Mei 2026 09:35 WIB
Kabarmalam.com — Tradisi memberikan ucapan syukur melalui amplop atau uang kondangan di Korea Selatan kini tengah mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan. Jika sebelumnya nominal 50 ribu won atau sekitar Rp 550 ribu dianggap sebagai angka ‘aman’ dan sopan, kini tren tersebut mulai ditinggalkan. Lonjakan inflasi yang tak terbendung serta melambungnya biaya penyelenggaraan pesta pernikahan membuat para tamu merasa risih, bahkan malu, jika hanya memberikan nominal tersebut.
Pergeseran Standar Sosial di Meja Penerima Tamu
Berdasarkan laporan mendalam yang dirilis oleh NH NongHyup Bank, sebuah analisis terhadap 5,33 juta transaksi uang kondangan dari jutaan nasabah menunjukkan pola yang menarik selama periode 2023 hingga 2025. Data tersebut mengungkapkan bahwa persentase tamu yang memberikan 50 ribu won mengalami penurunan dari 46,5 persen menjadi 42,3 persen. Di sisi lain, pemberian uang sebesar 100 ribu won (setara Rp 1,1 juta) justru merangkak naik dari 36,1 persen menjadi 39,7 persen.
Kenaikan ini bukan tanpa alasan. Tekanan sosial untuk menyesuaikan diri dengan biaya hidup yang semakin mahal menjadi pemicu utama. Mengutip laporan dari KoreaHerald, rata-rata nominal uang kondangan terus merangkak naik setiap tahunnya. Pada tahun 2023, rata-rata tamu merogoh kocek sebesar 110 ribu won, yang kemudian meningkat menjadi 114 ribu won di tahun berikutnya, dan menyentuh angka 117 ribu won pada tahun lalu. Dalam kurun waktu dua tahun saja, kenaikan beban sosial ini telah mencapai sekitar 7 persen.
Gengsi dan Realita Biaya Resepsi
Dahulu, nominal 50 ribu won dipandang sebagai standar emas yang wajar bagi kolega atau teman biasa. Namun, realita di lapangan berkata lain. Dengan meroketnya harga katering berkualitas tinggi, biaya sewa gedung yang fantastis, hingga detail resepsi lainnya, banyak tamu yang merasa bahwa nominal lama tidak lagi cukup untuk menutupi biaya makan mereka di tempat acara.
Survei lain dari platform rekrutmen Incruit memperkuat temuan ini. Terhadap lebih dari 800 pekerja kantoran, mayoritas responden (60,1 persen) kini menganggap bahwa 100 ribu won adalah ambang batas minimal yang pantas, terutama bagi rekan kerja dalam satu tim meskipun hubungan personal mereka tidak terlalu dekat. Fenomena ini mencerminkan betapa tradisi pernikahan di Korea Selatan kini sangat dipengaruhi oleh sentimen ekonomi makro.
Sisi Lain: Hadiah Fantastis dan Insentif Pajak
Menariknya, di tengah keluhan soal biaya hidup, muncul pula tren pemberian uang kondangan dalam jumlah yang sangat besar, yakni melampaui 10 juta won. Hal ini disinyalir erat kaitannya dengan kebijakan baru pemerintah Korea Selatan mengenai insentif pajak untuk pernikahan dan kelahiran anak. Melalui program yang mulai berlaku sejak 2024, seseorang bisa mendapatkan potongan pajak hadiah hingga 150 juta won untuk aset yang diberikan oleh keluarga inti dalam periode tertentu di sekitar waktu pernikahan.
Ketimpangan Biaya Antar Kota
Tingkat kemahalan uang kondangan ini ternyata juga dipengaruhi oleh lokasi geografis. Seoul, sebagai pusat ekonomi dan gaya hidup, mencatatkan rata-rata uang kondangan tertinggi mencapai 134 ribu won atau sekitar Rp 1,6 juta. Hal ini sangat berkorelasi dengan biaya persiapan pernikahan di ibu kota yang meliputi sewa gedung mewah, jasa studio foto, hingga bridal shop kelas atas yang jauh lebih mahal dibanding kota lain.
Di posisi berikutnya, kota pelabuhan Busan mencatatkan rata-rata 128 ribu won, diikuti oleh Gwangju sebesar 124 ribu won, dan Incheon sebesar 119 ribu won. Angka-angka ini menjadi bukti nyata bahwa di Korea Selatan, datang ke sebuah undangan pernikahan bukan sekadar soal merayakan kebahagiaan, melainkan juga tentang kalkulasi ekonomi yang matang di tengah bayang-bayang inflasi.