Rahasia Kulit Glowing Viral di TikTok: Benarkah Makan Membran Telur Bikin Awet Muda?
Selasa, 12 Mei 2026 05:34 WIB
Kabarmalam.com — Jagat maya, khususnya platform TikTok, kembali dihebohkan dengan sebuah tren kecantikan atau beauty hack yang tergolong unik sekaligus memicu perdebatan. Kali ini, perhatian publik tertuju pada kebiasaan mengonsumsi membran atau ‘kulit ari’ telur—lapisan tipis transparan yang menempel di bagian dalam cangkang—sebagai resep rahasia untuk mendapatkan kulit yang paripurna.
Sejumlah kreator konten mengeklaim bahwa mengonsumsi membran ini secara rutin dapat memberikan efek kulit yang lebih kenyal (plump), rambut berkilau, hingga meningkatkan kesehatan sendi. Narasi yang dibangun adalah bahwa lapisan tipis ini merupakan “koktail alami” yang kaya akan kolagen, hyaluronic acid, kondroitin, hingga glukosamin. Keempat zat tersebut memang telah lama dikenal dalam industri kecantikan sebagai komponen utama untuk menjaga elastisitas jaringan tubuh.
Antara Mitos Kuno dan Tren Modern
Beberapa influencer bahkan membawa perspektif sejarah, menyebutkan bahwa kebiasaan memanfaatkan cangkang dan membran telur sebenarnya sudah dipraktikkan oleh budaya kuno untuk mempercepat penyembuhan luka dan regenerasi jaringan. Namun, di balik klaim yang menggiurkan tersebut, para ahli medis mulai memberikan pandangan kritis mereka terkait keamanan dan efektivitas tren ini jika dilakukan secara mandiri di rumah.
GQ Jordan, seorang pakar nutrisi kesehatan wanita, menjelaskan bahwa secara sains, membran telur memang mengandung kolagen tipe I, V, dan X, serta elastin. “Secara teoritis, saat dicerna, kandungan ini bisa menyediakan peptida yang membantu produksi kolagen alami dalam tubuh,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari Women’s Health Australia. Meski begitu, Jordan memberikan catatan penting mengenai konsistensi dan jumlah dosis yang masuk ke tubuh jika dikonsumsi secara langsung.
Fakta di Balik Kandungan Kolagen Membran Telur
Meskipun terdengar menjanjikan bagi kesehatan kulit, manfaat nyata dari mengonsumsi membran telur mentah masih diragukan. Masalah utamanya adalah jumlah membran yang bisa dikerok dari satu butir telur sangatlah sedikit dan tidak konsisten. Penelitian yang ada saat ini lebih banyak berfokus pada penggunaan membran telur dalam bentuk suplemen yang sudah diekstraksi secara profesional.
Sebagai contoh, sebuah studi pada tahun 2009 menunjukkan bahwa konsumsi suplemen Natural Eggshell Membrane (NEM) sebanyak 500 mg per hari efektif membantu mengurangi nyeri sendi. Begitu pula studi tahun 2021 yang mencatat perbaikan pada penderita osteoarthritis. Namun, Jordan mengingatkan bahwa sebagian besar penelitian ini didanai oleh industri suplemen, sehingga diperlukan studi independen berskala lebih besar untuk memvalidasi klaim kecantikannya.
Risiko Bakteri dan Keamanan Pangan
Salah satu poin krusial yang sering dilupakan para pengikut tren ini adalah risiko kesehatan. Mengonsumsi membran dari telur mentah secara langsung sangat berisiko terpapar bakteri Salmonella yang sering menempel pada cangkang telur. Bakteri ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan serius hingga keracunan makanan.
“Suplemen yang diproduksi di pabrik telah melalui proses pemanasan dan pengujian keamanan yang ketat. Melakukannya sendiri di dapur rumah bukanlah ide yang bijak,” tegas Jordan. Selain itu, bagi individu yang memiliki riwayat alergi telur, tren ini harus dihindari sepenuhnya karena dapat memicu reaksi anafilaksis yang berbahaya.
Kembali ke Dasar Perawatan Kulit yang Terbukti
Daripada terjebak dalam tren viral yang belum teruji secara klinis, para ahli menyarankan masyarakat untuk tetap fokus pada pilar dasar perawatan kulit yang sudah terbukti efektivitasnya. Pola hidup sehat tetap menjadi kunci utama kecantikan dari dalam.
Langkah-langkah sederhana seperti memastikan asupan protein yang cukup, mengonsumsi buah dan sayuran kaya antioksidan, mencukupi kebutuhan omega-3, tidur yang berkualitas, hidrasi yang baik, serta penggunaan sunscreen setiap hari jauh lebih bermanfaat dan aman dibandingkan mengikuti eksperimen kuliner ekstrem yang tidak pasti hasilnya.