Ekspansi Strategis Hartono Gan: Menembus Pasar Ready-to-Wear dengan Sentuhan Tailoring Modern
Senin, 11 Mei 2026 15:34 WIB
Kabarmalam.com — Dunia mode Tanah Air kembali menyaksikan langkah besar dari salah satu talenta berbakatnya, Hartono Gan. Setelah tujuh tahun mendedikasikan dirinya pada lini busana pesanan khusus atau bespoke, desainer asal Medan ini akhirnya memutuskan untuk melebarkan sayap ke ranah busana siap pakai (ready to wear).
Keputusan ini bukanlah tanpa alasan. Bagi Hartono, ini adalah momen yang tepat untuk menjaga napas bisnisnya agar tetap berkelanjutan di tengah dinamika industri fashion yang terus berubah. Langkah berani ini ia tandai dengan peluncuran koleksi perdananya di Lakon Store, Summarecon Mall Kelapa Gading, baru-baru ini.
Sentuhan Androgini dalam Potongan yang Sharp
Dalam presentasi tersebut, Hartono memamerkan 16 set busana yang tetap mempertahankan ciri khas desainnya: androgyny dengan teknik tailoring yang tajam, edgy, namun tetap memiliki nuansa timeless yang elegan. Koleksi ini seolah membawa kita kembali ke era retro, namun dengan potongan yang lebih modern dan berkarakter.
Satu hal yang menarik adalah strategi harganya. Koleksi siap pakai ini dibanderol dengan harga yang jauh lebih kompetitif, yakni berkisar antara 20 hingga 30 persen dari harga busana pesanan khusus (made to order). Menurut Hartono, angka ini adalah titik keseimbangan agar karyanya bisa menjangkau lebih banyak orang tanpa harus mengorbankan kualitas material dan konstruksi pakaian yang menjadi kekuatannya.
Lebih dari Sekadar Tren, Ini Soal Kebutuhan Esensial
Hartono menekankan bahwa koleksi ini dirancang dengan mengedepankan aspek fungsionalitas. Ia ingin mengajak konsumen untuk lebih cerdas dalam berbelanja dengan menghadirkan rangkaian pakaian esensial yang benar-benar dibutuhkan dalam aktivitas sehari-hari. Meski diproduksi dalam jumlah yang lebih besar, nilai estetika yang telah membesarkan namanya tetap terjaga dengan baik.
Perjalanan Hartono menuju pasar ritel profesional ini tidak lepas dari dukungan penuh JF3 Fashion Festival. Melalui program Future Fashion Designer (FFD), ia mendapatkan bimbingan intensif mulai dari pengembangan kapasitas produksi, sistem operasional, hingga kesiapan menghadapi pasar ritel yang kompetitif.
Strategi Bertahan di Industri Mode
Thresia Mareta, Advisor JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia, memberikan pandangan yang menarik terkait fenomena ini. Menurutnya, menghadirkan koleksi busana siap pakai merupakan strategi bisnis yang vital bagi seorang desainer jika ingin labelnya bertahan lama. Busana siap pakai dianggap sebagai tulang punggung ekonomi bagi sebuah label mode.
“Sangat berisiko jika seorang desainer hanya mengandalkan klien perorangan yang datang sewaktu-waktu. Peluang bisnis di lini ready to wear jauh lebih besar dan stabil, terutama bagi desainer yang sudah memiliki nama kuat,” ungkap Thresia. Model bisnis seperti ini sebenarnya sudah lama diterapkan oleh desainer-desainer legendaris Indonesia seperti Biyan Wanaatmadja, Denny Wirawan, hingga Sebastian Gunawan.
Mendekatkan Karya ke Konsumen
Selain konsep desain yang matang, Thresia juga menyoroti pentingnya aksesibilitas. Lokasi berjualan yang strategis menjadi kunci utama keberhasilan sebuah koleksi siap pakai. Saat ini, pecinta mode dapat menemukan koleksi Hartono Gan di Lakon Store, Summarecon Mall Kelapa Gading. Kedepannya, tidak menutup kemungkinan ekspansi akan berlanjut ke lokasi strategis lainnya seperti Pondok Indah Mall.
Dengan langkah ini, Hartono Gan tidak hanya menunjukkan eksistensinya sebagai seorang kreatif, tetapi juga kematangannya sebagai seorang pebisnis mode yang siap bersaing di pasar yang lebih luas.