Pesona ‘Gadis Berkaki Emas’ di Met Gala: Tragedi di Balik Keanggunan Lauren Wasser
Senin, 11 Mei 2026 13:35 WIB
Kabarmalam.com — Panggung megah Met Gala kembali menjadi sorotan dunia, namun kali ini perhatian publik tak hanya tertuju pada busana mewah para selebriti, melainkan pada sepasang kaki emas yang berkilau di atas karpet merah. Sosok di balik penampilan futuristik tersebut adalah Lauren Wasser, seorang model profesional yang kehadirannya membawa pesan mendalam melampaui sekadar tren fashion show.
Mengenakan setelan blazer dan celana pendek gemerlapan karya desainer Prabal Gurung, Lauren tampil percaya diri dengan kaki palsu berwarna emas yang senada. Namun, di balik kemilau metalik yang melangkah anggun tersebut, tersimpan sebuah narasi keberanian tentang perjuangan hidup melawan kondisi medis langka yang hampir merenggut nyawanya.
Tragedi 10 Menit Menuju Kematian
Kisah Lauren Wasser yang kehilangan kedua kakinya akibat penggunaan tampon kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Insiden memilukan ini bermula lebih dari satu dekade lalu, saat Lauren yang kala itu masih berusia 20-an mengalami Sindrom Syok Toksik (TSS). Dalam sebuah pengakuan emosional, Lauren mengenang momen ketika dirinya ditemukan tak berdaya di lantai kamar tidurnya.
“Kakiku mulai menghitam. Saat itu aku sedang menstruasi hebat. Aku ditemukan telungkup dan dokter mengatakan bahwa aku hanya berjarak 10 menit dari kematian,” ungkapnya dalam sebuah podcast bertajuk The Diary Of a CEO. Kondisinya begitu kritis hingga organ-organ tubuhnya mulai gagal berfungsi, memaksa tim medis untuk menginduksi koma demi menyelamatkan nyawanya.
Perjuangan Diamputasi dan Bangkit Kembali
Harapan hidup Lauren saat itu dilaporkan hanya sebesar satu persen. Untuk menghentikan penyebaran racun, tim medis harus mengambil keputusan berat untuk mengamputasi kaki kanannya. Tragisnya, Lauren mengaku merasakan setiap proses medis tersebut karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk menerima obat penghilang rasa sakit dalam dosis tertentu.
Meski awalnya hanya kaki kanan yang diamputasi, rasa sakit kronis yang berkepanjangan akhirnya membuat Lauren harus merelakan kaki kirinya beberapa tahun kemudian. Alih-alih terpuruk dalam duka, ia memilih bertransformasi menjadi ikon kekuatan bagi banyak orang yang peduli pada kesehatan wanita.
Misi Edukasi dan Advokasi Produk Menstruasi
Kini, Lauren Wasser tidak hanya dikenal sebagai model yang telah menghiasi sampul Vogue hingga Harper’s Bazaar, tetapi juga sebagai aktivis garis keras. Ia memperjuangkan perlindungan keselamatan yang lebih ketat untuk produk menstruasi melalui Undang-Undang Keamanan Produk Perawatan Intim Robin Danielson di Amerika Serikat.
Langkah beraninya ini bertujuan agar lembaga kesehatan nasional melakukan penelitian lebih mendalam mengenai risiko jangka panjang dari bahan-bahan yang digunakan dalam produk menstruasi. Ia ingin memastikan tidak ada lagi wanita yang harus mengalami masalah kesehatan fatal seperti yang ia alami.
Mengenal Sindrom Syok Toksik (TSS)
Sindrom Syok Toksik merupakan kondisi darurat medis yang disebabkan oleh pelepasan racun dari infeksi bakteri tertentu. Meski sering dikaitkan dengan penggunaan tampon yang terlalu lama, TSS sebenarnya bisa menyerang siapa saja. Berdasarkan data medis, gejala yang perlu diwaspadai meliputi:
- Demam tinggi mendadak yang disertai menggigil.
- Tekanan darah rendah yang menyebabkan pusing atau pingsan.
- Ruam pada kulit yang menyerupai luka bakar akibat sinar matahari.
- Mual, muntah, hingga diare encer.
- Pengelupasan kulit pada telapak tangan dan kaki dalam tahap lanjut.
Kehadiran Lauren Wasser di Met Gala dengan kaki emasnya bukan sekadar pernyataan gaya, melainkan sebuah pengingat visual bahwa kecantikan sejati lahir dari ketangguhan dalam menghadapi badai kehidupan.