Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menenun Asa di Balik Sunyi: Kisah Batik Difabel Cimahi yang Mendunia dan Perjuangan Melawan Arus Efisiensi

Jurnal | kabarmalam.com
Kamis, 07 Mei 2026 15:04 WIB
Menenun Asa di Balik Sunyi: Kisah Batik Difabel Cimahi yang Mendunia dan Perjuangan Melawan Arus Efisiensi

Kabarmalam.com — Di sebuah sudut tenang Kota Cimahi, Jawa Barat, keheningan bukanlah tanda kekosongan. Di dalam bangunan Griya Harapan Difabel (GHD), sunyi justru menjadi ruang bagi kreativitas yang meluap. Di sana, Saepudin (27), seorang pemuda asal Garut dengan keterbatasan rungu dan wicara, tampak terpaku pada kain putih di depannya. Jemarinya yang kokoh menggenggam canting dengan stabil, menorehkan lilin panas mengikuti pola yang telah digambar dengan presisi tinggi.

Bahasa Sunyi yang Sarat Makna

Suasana siang itu terasa sedikit melankolis. Awan mendung yang menggelayut di langit Cimahi seolah mempercepat waktu menuju senja. Namun, bagi Saepudin dan rekan-rekannya, fokus adalah segalanya. Tidak ada suara percakapan verbal, hanya gestur-gestur kecil dan tatapan mata yang saling memahami. Inilah keseharian di GHD, sebuah tempat di mana keterbatasan fisik bertransformasi menjadi karya seni yang bernilai tinggi.

Tak jauh dari Saepudin, Nurdin duduk di kursi rodanya. Pria bertubuh mungil ini adalah penyintas polio yang dulunya hanya menghabiskan hari dengan beternak ayam di kampung halaman. Sejak bergabung dengan pelatihan batik difabel pada tahun 2020, hidupnya berubah drastis. Nurdin kini bukan sekadar pembatik; ia dipercaya menjadi koordinator pewarnaan—sebuah posisi vital yang membutuhkan ketajaman insting dan ketelitian luar biasa.

Baca Juga  Simalakama Bisnis Hijab Lokal: Antara Kemudahan Marketplace dan Biaya Admin yang Mencekik

“Dulu saya pikir hanya saya yang mengalami nasib seperti ini. Tapi di sini, saya melihat banyak teman-teman yang perjuangannya lebih berat namun tetap bisa hidup damai dan berkarya,” ungkap Nurdin dalam sebuah percakapan penuh haru.

Dari Cimahi Menuju Panggung K-Pop Dunia

Griya Harapan Difabel kini telah memantapkan posisinya sebagai “Kampung Kreatif Batik Difabel”. Di bawah kepemimpinan Andina Rahayu, Kepala UPTD GHD, tempat ini membina lebih dari seratus penyandang disabilitas untuk meraih kemandirian ekonomi melalui berbagai keterampilan, mulai dari menjahit, seni musik, hingga pijat refleksi.

Prestasi yang mereka torehkan pun tidak main-main. Produk batik mereka telah melanglang buana hingga ke Italia. Salah satu pencapaian yang paling fenomenal terjadi pada September 2023, ketika grup K-pop papan atas, TWICE, mengenakan batik karya para difabel Cimahi ini dalam acara jumpa penggemar di Jakarta. Kesembilan personel TWICE tampil anggun dengan motif yang lahir dari tangan-tangan terampil di GHD, membuktikan bahwa kualitas karya mereka mampu bersaing di level internasional.

Baca Juga  Gaya Ikonis Tasya Farasya Saat Berhadapan dengan Legenda Hollywood Meryl Streep dan Anne Hathaway di Tokyo

Tantangan Efisiensi dan Harapan pada Dukungan Perbankan

Namun, di balik kegemilangan tersebut, awan mendung efisiensi kini mulai membayangi. Kebijakan penghematan anggaran yang dilakukan berbagai instansi pemerintah dan BUMN berdampak langsung pada penurunan pesanan. Ritme produksi yang biasanya kencang—mencapai 100 potong kain per bulan dengan harga jual berkisar Rp300 ribu hingga Rp600 ribu—kini mulai melambat.

Dalam situasi sulit ini, peran sektor perbankan seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi krusial. Selama ini, BRI telah memberikan sokongan melalui pelatihan pemasaran digital untuk memperluas jangkauan pasar. Namun, Andina Rahayu menegaskan bahwa bantuan yang lebih berkelanjutan masih sangat dibutuhkan.

“Kami memerlukan penguatan di sektor permodalan, fasilitas ruang pamer yang lebih representatif, serta promosi digital yang lebih masif. Jika akses pasar dan fasilitas ditingkatkan, karya-karya luar biasa ini akan mendapatkan apresiasi yang jauh lebih luas,” tutur Andina.

Baca Juga  Semangat Emansipasi di Era Digital: 10 Twibbon Eksklusif Rayakan Hari Kartini 2026

Menjaga Nyala Semangat Kemandirian

GHD bukan sekadar tempat produksi kain, melainkan rumah bagi harapan yang terus dirawat. Melalui dukungan UMKM yang tepat sasaran, para pembatik difabel ini membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berdaya. Di tengah tantangan ekonomi global dan kebijakan efisiensi, semangat Saepudin, Nurdin, dan kawan-kawan adalah pengingat bahwa dedikasi dan ketulusan dalam berkarya akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk bersinar.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com