Ikuti Kami
kabarmalam.com

Simalakama Bisnis Hijab Lokal: Antara Kemudahan Marketplace dan Biaya Admin yang Mencekik

Jurnal | kabarmalam.com
Kamis, 07 Mei 2026 17:35 WIB
Simalakama Bisnis Hijab Lokal: Antara Kemudahan Marketplace dan Biaya Admin yang Mencekik

Kabarmalam.com — Fenomena belanja daring memang menawarkan kemudahan luar biasa bagi konsumen, namun di balik layar ponsel pintar, para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) justru tengah berjuang melawan arus beban biaya yang kian berat. Tren kenaikan biaya administrasi dan potongan komisi di berbagai platform platform e-commerce raksasa kini menjadi momok yang mengancam napas bisnis kreatif lokal.

Alih-alih menikmati manisnya volume penjualan yang tinggi, para pemilik jenama lokal justru harus memutar otak lebih keras. Laba yang seharusnya masuk ke kantong pengembangan usaha kini banyak tersedot untuk membayar ‘jatah’ platform yang nilainya terus melambung. Situasi ini menciptakan ironi: barang laku keras, namun keuntungan tetap tipis, atau dalam istilah populer para pedagang, mulai ‘boncos’.

Beban Admin Menembus 26 Persen

Laporan lapangan tim kami di area bazar Last Stock Sale yang digelar di Chillax Sudirman, Jakarta, menangkap keresahan yang nyata dari para pemilik brand hijab. Salah satunya adalah Nena Herdiani, Manager Sales dari jenama hijab lokal ternama, Kalisha. Menurutnya, status ‘premium’ seperti Shopee Mall yang seharusnya menjadi kebanggaan, kini justru memberikan beban finansial yang sangat signifikan.

Baca Juga  Kolaborasi Estetik Alfamart dan Anne Avantie: Menghidupkan Spirit Kartini Lewat Totebag 'Puspa Kinasih'

“Kalau bicara potongan, jujur saja sekarang terasa sangat besar. Status kami sudah Mall, dan itu potongannya jauh lebih tinggi dibanding Star Seller. Saat ini, potongan bisa menyentuh angka 26 persen per pesanan,” ungkap Nena dengan nada prihatin. Angka tersebut belum termasuk biaya partisipasi dalam kampanye besar, biaya afiliasi, hingga anggaran iklan agar produk tetap terlihat oleh calon pembeli. Jika ditotal, biaya operasional digital ini seringkali melampaui margin keuntungan bersih perusahaan.

Strategi Harga dan Dilema Konsumen

Demi menjaga keberlangsungan hidup perusahaan, banyak produsen busana muslim terpaksa melakukan penyesuaian harga. Kalisha sendiri mengakui telah menaikkan harga jual produk di kisaran 10 hingga 20 persen. Langkah ini diambil bukan untuk meraup untung lebih besar, melainkan sekadar untuk menutupi biaya admin platform agar tidak merugi. Selain itu, kebijakan retur yang dianggap kurang berpihak pada penjual juga menjadi catatan merah bagi para pelaku usaha.

Baca Juga  Kontroversi Gaun Murah Istri Menhan AS: Aksi Nyinyir Influencer Ella Devi Malah Berujung 'Senjata Makan Tuan'

Harapan para pelaku usaha sebenarnya sederhana: adanya pembagian yang lebih adil. Mereka berharap pihak marketplace tidak mengambil porsi yang terlalu dominan sehingga ekosistem bisnis tetap sehat bagi kedua belah pihak.

Eksodus ke Jalur Offline dan Jalur Pribadi

Melihat kondisi yang semakin tidak menentu di ranah digital, para pelaku industri kreatif mulai mencari jalan tikus untuk menyelamatkan margin. Strategi diversifikasi kanal penjualan pun menjadi harga mati. Gasha, Brand Manager dari lini busana Tantri Namirah, menjelaskan bahwa pihaknya kini lebih gencar menggarap kanal penjualan di luar marketplace besar.

“Potongan besar otomatis memangkas margin kami, padahal volume pesanan terbanyak memang datang dari ranah online. Untuk menyiasatinya, kami memperbanyak channel seperti mengikuti bazar personal, masuk ke consignment store, hingga mengarahkan pelanggan untuk bertransaksi langsung melalui WhatsApp atau website resmi kami sendiri,” jelas Gasha kepada tim bisnis online kami.

Baca Juga  Ungkapan Haru Zahara Jolie Tentang Status Adopsi dan Ikatan 'Soulmate' dengan Angelina Jolie

Paradoks Kenyamanan Belanja

Meskipun beban penjual meningkat, sisi konsumen menunjukkan pola yang unik. Rani, perwakilan dari brand Zerina Banu, melihat adanya paradoks dalam perilaku belanja masyarakat. Meski harga di marketplace terkadang lebih mahal karena penyesuaian admin, konsumen tetap setia bertransaksi di sana karena faktor kenyamanan dan ekosistem pembayaran yang sudah mapan.

“Di bazar offline seperti ini kami biasanya memberikan banyak diskon. Sementara di online, harga cenderung normal atau bahkan lebih tinggi. Namun, nyatanya masih banyak yang memilih belanja di Shopee atau platform lain karena praktis, meskipun dari sisi kami sebagai seller, potongannya sangat terasa,” ujar Rani.

Kini, tantangan kolektif bagi industri kreatif lokal adalah bagaimana menyeimbangkan antara ketergantungan pada teknologi dengan kesehatan finansial usaha. Di tengah dinamika ini, para pelaku UMKM sangat berharap adanya regulasi atau kebijakan platform yang lebih akomodatif, agar semangat kewirausahaan lokal tidak layu sebelum berkembang akibat tercekik biaya variabel yang terus membengkak.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com