Retno Marsudi dan Susi Susanti Bicara Soal Dilema Karier vs Keluarga: “Pilih Keduanya!”
Selasa, 21 Apr 2026 10:35 WIB
Kabarmalam.com — Momentum Hari Kartini sering kali menjadi cermin bagi perempuan Indonesia untuk melihat kembali sejauh mana mereka telah melangkah di tengah dinamika zaman. Di era modern ini, perdebatan klasik antara mengejar ambisi karier atau mengabdi pada urusan domestik mulai bergeser menjadi narasi tentang integrasi dan kekuatan mental. Dua tokoh besar tanah air, Retno Marsudi dan Susi Susanti, memberikan perspektif baru yang mencerahkan tentang bagaimana perempuan seharusnya memandang pilihan hidup mereka.
Retno Marsudi: Mendobrak Bias di Dunia Diplomasi
Retno Marsudi, yang dikenal sebagai Menteri Luar Negeri perempuan pertama Indonesia periode 2014-2024, menyoroti adanya standar ganda yang sering dihadapi perempuan saat memasuki dunia kerja profesional. Dalam acara talkshow bertajuk Her Strength, Her Light yang digelar di Wisma Habibie & Ainun, Jakarta, Retno mempertanyakan mengapa pertanyaan mengenai pilihan antara keluarga dan karier hanya ditujukan kepada perempuan.
“Saya bekerja di lingkungan profesi yang didominasi oleh laki-laki, di mana diplomat perempuan hanya mencakup sekitar 10 persen. Tekanannya sangat besar dan menuntut tanpa batas ruang,” ujar Retno. Ia menceritakan bagaimana lingkungan yang keras sering kali membuat rekan sejawatnya sesama perempuan memilih untuk tidak melanjutkan karier mereka.
Bagi Retno, kuncinya bukan pada memilih salah satu, melainkan keberanian untuk menjalani keduanya dengan manajemen yang tepat. Menurutnya, ada saat di mana seseorang harus menekan rem, namun bukan berarti harus mengorbankan mimpinya. “Jika ada pertanyaan keluarga atau karier, jawablah keduanya. Tidak ada yang salah satu harus kita korbankan,” tegas sosok yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Belanda tersebut.
Susi Susanti: Dari Podium Juara ke Peran Ibu Rumah Tangga
Senada dengan Retno, legenda bulu tangkis dunia, Susi Susanti, juga berbagi kisah tentang transisi hidupnya yang tidak selalu mudah. Jika di lapangan ia dikenal dengan mental juara yang tak tergoyahkan, di kehidupan nyata, Susi sempat merasakan kekhawatiran mendalam saat memasuki masa pensiun di usia yang masih sangat produktif.
“Dunia olahraga memiliki batas waktu. Sekitar usia 25 hingga 28 tahun biasanya sudah pensiun. Padahal dari awal fokus kami hanya pada olahraga,” ungkap peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 tersebut. Susi mengenang pesan orang tuanya bahwa status juara hanyalah sementara di atas podium, namun perjuangan hidup yang sebenarnya dimulai setelah ia turun dari sana.
Membangun hidup baru dari titik nol bersama suaminya, Alan Budikusuma, Susi membuktikan bahwa mental atlet bulu tangkis yang pantang menyerah sangat berguna dalam mengelola bisnis dan keluarga. Kini, selain sukses dengan bisnis apparel Astec dan pusat pijat olahraga Fontana, Susi menikmati perannya sebagai ibu dari tiga anak.
Kemenangan Sejati Adalah Keseimbangan
Bagi Susi, keberhasilannya mengurus anak dan mendukung suami dalam membangun usaha adalah bentuk kemenangan lain yang tak kalah berharga dibandingkan medali emas. Ia menekankan pentingnya bagi perempuan untuk menemukan titik keseimbangan dalam setiap peran yang dijalani.
Menariknya, meskipun lahir dari pasangan legenda bulu tangkis, Susi justru membebaskan anak-anaknya untuk memilih jalur karier di luar dunia olahraga. Ia menyadari bahwa nama besar orang tua sering kali menjadi beban mental tersendiri bagi sang anak.
Pesan dari kedua tokoh ini sangat jelas: menjadi Kartini masa kini berarti berani mengambil kendali atas hidup sendiri. Baik Retno maupun Susi sepakat bahwa ketangguhan perempuan lahir dari konsistensi, niat yang tulus, dan keberanian untuk tidak menyerah pada stigma sosial yang membatasi ruang gerak mereka.