Siasat Unik Cari Jodoh di Jepang: Kencan Buta Khusus Pemilik Marga yang Sama demi Hindari Aturan Rumit
Rabu, 15 Apr 2026 19:06 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah hiruk-pikuk kota Tokyo, sebuah fenomena kencan baru sedang mencuri perhatian publik. Alih-alih mencari pasangan berdasarkan minat atau zodiak, para pencari jodoh ini justru berkumpul berdasarkan satu kesamaan yang sangat spesifik: nama keluarga atau marga mereka.
Acara kencan unik ini bukanlah sekadar gimik belaka. Ini merupakan respon kreatif, sekaligus sindiran halus terhadap hukum sipil di Jepang yang mewajibkan pasangan suami istri untuk menggunakan satu nama keluarga yang sama setelah menikah. Dengan bertemu seseorang yang sudah memiliki marga yang sama, masalah birokrasi yang memusingkan pun otomatis gugur.
Satu Marga, Tanpa Dilema Ganti Nama
Dalam sesi kencan kilat tersebut, para peserta diberikan waktu 15 menit untuk saling menyapa dan mengenal satu sama lain. Karena semua orang di ruangan memiliki nama belakang yang identik, mereka hanya perlu menyebutkan nama depan. Suasana cair seketika saat tawa pecah di sela-sela denting gelas dan camilan dari sponsor yang kebetulan juga bernama Suzuki—marga yang menjadi tema utama acara hari itu.
“Sejujurnya, saya tidak terlalu ambil pusing soal mempertahankan nama gadis saya, tapi saya pikir akan sangat menyenangkan bisa bertemu dengan sesama Suzuki,” ungkap Hana Suzuki, seorang perawat berusia 34 tahun yang menjadi salah satu peserta.
Kesuksesan acara bertema Suzuki ini rencananya akan segera diperluas ke marga-marga populer lainnya di budaya Jepang, seperti Sato, Ito, dan Tanaka.
Tembok Konservatif dan Tekanan Dunia Bisnis
Di Jepang, aturan mengenai nama keluarga tunggal bagi pasangan menikah telah lama menjadi perdebatan hangat. Meski secara teori suami boleh mengikuti nama istri, dalam praktiknya hampir 95 persen perempuanlah yang akhirnya harus menanggalkan nama lahir mereka. Hal ini sering kali dianggap sebagai refleksi dari budaya patriarki yang masih mengakar kuat di Negeri Sakura.
Bagi banyak perempuan karier, mengubah nama adalah sebuah mimpi buruk administratif. Banyak dari mereka terpaksa menjalani kehidupan ganda: menggunakan nama lahir untuk urusan profesional dan nama resmi pernikahan untuk dokumen hukum. Tekanan untuk mengubah aturan ini tidak hanya datang dari aktivis, tetapi juga dari organisasi bisnis raksasa seperti Keidanren.
Dunia bisnis menilai aturan ini sangat menghambat produktivitas. Mulai dari kesulitan pengakuan karya akademis hingga kerumitan dalam penandatanganan kontrak internasional. Survei internal menunjukkan bahwa 82 persen eksekutif perempuan di Jepang mendukung opsi penggunaan nama keluarga terpisah.
Humor sebagai Bentuk Protes
Yuka Maruyama, perencana kreatif dari Asuniwa yang menginisiasi proyek ini, menjelaskan bahwa kencan satu marga adalah cara untuk menyoroti isu serius dengan sentuhan humor. “Kami ingin menyampaikan ide yang sederhana agar isu kewajiban ganti nama keluarga ini lebih mudah dipahami dan didiskusikan oleh masyarakat luas,” tuturnya.
Meskipun arus desakan perubahan semakin deras, pemerintah Jepang—terutama faksi konservatif—masih bersikeras mempertahankan hukum tersebut. Alasan klasiknya adalah demi menjaga integritas dan keutuhan unit keluarga serta menghindari kebingungan pada anak-anak.
Namun, data berbicara lain. Sebuah survei terhadap ribuan pengguna aplikasi cari jodoh menunjukkan bahwa hampir separuh pria dan sepertiga perempuan merasa enggan untuk menikah jika harus dipaksa mengganti nama. Bahkan, sekitar 7 persen responden mengaku lebih baik mengakhiri hubungan daripada harus mengalah soal identitas nama mereka. Melalui kencan unik ini, Jepang seolah sedang mencari jalan tengah di antara tradisi yang kaku dan tuntutan zaman yang kian modern.