Kontroversi Politik Siwon Super Junior Memanas: Dari Petisi Hukum di AS Hingga Desakan Hengkang dari Grup
Minggu, 05 Jul 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Sosok Choi Siwon kini tak hanya dikenal sebagai bintang papan atas yang dermawan, namun juga sebagai figur publik yang berani memicu percikan diskusi politik panas di Korea Selatan. Baru-baru ini, personel grup legendaris Super Junior tersebut kembali memanen kritik tajam dari publik dan penggemarnya sendiri akibat keberaniannya menyuarakan pandangan politik yang dinilai kontroversial.
Gejolak ini bermula ketika Siwon kerap menunjukkan keberpihakan pada tokoh-tokoh politik tertentu. Tahun lalu, ia sempat mengejutkan banyak pihak saat menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Charlie Kirk, seorang influencer pendukung Donald Trump. Kini, sorotan kembali tertuju padanya setelah ia diduga memberikan dukungan tersirat kepada mantan presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, yang baru saja dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas tuduhan memimpin pemberontakan dalam insiden darurat militer.
Pesan Kriptik dan Simbol Politik
Tepat setelah vonis terhadap Yoon Suk Yeol diumumkan pada Kamis (19/2/2026), Siwon Choi mengunggah foto berisi peribahasa Tiongkok yang sarat makna. Pesan tersebut berbunyi, “Mereka yang melakukan ketidakadilan pasti akan binasa” dan “Runtuh seperti tanah dan bumi yang runtuh.” Bagi banyak pengamat, unggahan ini bukan sekadar kutipan bijak, melainkan peringatan keras mengenai keruntuhan sistem akibat korupsi dan ketidakadilan.
Langkah ini semakin mempertegas posisi Siwon yang dianggap berada di barisan pendukung partai ultra-nasionalis sayap kanan. Hal ini sangat kontras dengan rekan-rekannya di Super Junior yang cenderung sangat berhati-hati dan menjaga jarak dari isu politik di media sosial demi menjaga perasaan basis penggemar mereka yang global dan heterogen.
Gelombang #SIWON_OUT dan Langkah Hukum di Amerika Serikat
Reaksi keras pun bermunculan. Di media sosial, tagar #SIWON_OUT menggema dari kalangan penggemar yang merasa kecewa dan mendesak agar Siwon didepak dari grup. Tak hanya soal politik domestik, ia juga kerap dituding memiliki sentimen yang condong ke arah zionisme hingga isu Islamofobia, yang membuatnya dicap sebagai idol paling kontroversial saat ini.
Namun, Siwon tidak tinggal diam. Menanggapi derasnya kritik dan komentar pedas yang menyerangnya, ia mengambil langkah hukum yang tidak biasa. Melansir laporan dari Sisa Journal, Siwon telah mengajukan petisi melalui Pengadilan Distrik AS untuk Distrik California Utara. Langkah ini diambil untuk memaksa platform X (dahulu Twitter) dan YouTube mengungkap identitas di balik 10 akun yang melontarkan kritik tajam terhadapnya.
Strategi hukum ini memungkinkan Siwon mendapatkan data pribadi para pemberi komentar untuk kemudian diproses dalam gugatan pencemaran nama baik di pengadilan Korea Selatan. Keputusan pengadilan AS yang mengabulkan permohonan pengumpulan bukti ini menandai babak baru dalam upaya Siwon membela reputasinya.
Kritik Netizen: Antara Kebebasan dan Standar Ganda
Meski langkah hukum telah diambil, publik Korea justru semakin geram. Banyak yang menilai tindakan Siwon sebagai bentuk standar ganda dalam mengekspresikan pendapat. Beberapa netizen di forum komunitas daring Korea menyatakan kekecewaan mendalam atas perubahan sikap sang idol.
“Dulu aku sangat menyukai Super Junior, tapi sekarang aku menyesali setiap detik yang kuhabiskan sebagai penggemarnya. Semakin lama, ia semakin terlihat bukan seperti orang baik yang kita kenal dulu,” tulis salah satu netizen. Komentar lain menyoroti ironi sikap Siwon, “Saat dia menyuarakan pendapatnya, dia menyebutnya kebebasan berekspresi. Namun, saat kritik datang kepadanya, dia langsung menuntut ke pengadilan.”
Hingga saat ini, desakan agar Siwon fokus mengejar karier di dunia politik dan meninggalkan industri hiburan terus mengalir deras. Kasus ini menjadi pengingat nyata betapa tipisnya batas antara opini pribadi dan tanggung jawab profesional bagi seorang bintang global di era digital yang semakin terpolarisasi.