Ikuti Kami
kabarmalam.com

Bukan Sekadar Mager, Tren Rebahan Massal Kini Jadi Senjata Gen Z Lawan Burnout

Jurnal | kabarmalam.com
Sabtu, 04 Jul 2026 18:04 WIB
Bukan Sekadar Mager, Tren Rebahan Massal Kini Jadi Senjata Gen Z Lawan Burnout

Kabarmalam.com — Pernahkah Anda merasa bahwa dunia bergerak terlalu cepat hingga bernapas pun terasa seperti sebuah beban? Bagi generasi muda saat ini, fenomena burnout bukan lagi sekadar istilah keren, melainkan realitas pahit yang mereka hadapi setiap hari. Namun, alih-alih tenggelam dalam tekanan, Gen Z justru melahirkan sebuah gerakan perlawanan unik yang kini tengah viral: seni untuk benar-benar tidak melakukan apa-apa alias rebahan.

Melawan Stigma ‘Mager’ dengan Gerakan Rest Stop

Di jantung kota New York yang tak pernah tidur, sebuah fenomena menarik terjadi di Central Park. Di tengah hiruk-pikuk suara klakson dan langkah kaki yang terburu-buru, puluhan orang terlihat berbaring tenang di atas rumput hijau. Mereka bukan sedang tertidur pulas karena kelelahan setelah berpesta, melainkan sedang mengikuti sesi dari ‘Club Rest Stop’.

Gerakan yang sering dijuluki sebagai ‘lie down club’ ini diinisiasi oleh Maaliyah Symoné, seorang praktisi Reiki dan fasilitator sound bath. Maaliyah menyadari bahwa masyarakat modern, terutama anak muda, terjebak dalam budaya produktivitas yang beracun, di mana berhenti sejenak dianggap sebagai sebuah kegagalan atau bentuk kemalasan.

Baca Juga  Kisah Haru Vicky Shu Lawan Body Shaming: Sempat Menepi dari TV demi Kesehatan Mental

Rebahan yang Terorganisir: Meditasi dan Terapi Suara

Dalam setiap sesinya, para peserta diajak untuk melepas sepatu, membentangkan alas, dan membiarkan tubuh mereka menyentuh bumi. Selama kurang lebih dua jam, mereka tidak hanya berbaring, tetapi juga dipandu melalui teknik pernapasan, meditasi mendalam, dan mendengarkan dentingan mangkuk kristal (sound bath) yang menenangkan.

“Ternyata, ada begitu banyak orang yang benar-benar kelelahan secara mental,” ungkap Maaliyah saat diwawancarai mengenai antusiasme peserta yang membludak. Baginya, menciptakan ruang aman untuk beristirahat adalah sebuah misi kemanusiaan di era digital yang serba cepat ini.

Menghapus Rasa Bersalah Saat Beristirahat

Salah satu poin menarik dari tren ini adalah upaya untuk menghapus stigma negatif terhadap istirahat. Maaliyah menjelaskan bahwa banyak orang merasa dihantui rasa bersalah atau malu ketika mereka memilih untuk tidak produktif. Di Club Rest Stop, aturan utamanya justru adalah wajib berbaring. Karena semua orang melakukannya secara bersama-sama, rasa canggung atau bersalah tersebut perlahan memudar, berganti dengan perasaan tenang dan penerimaan diri.

Baca Juga  Mengapa Terapi Rahang Bisa Bikin Menangis Histeris? Menguak Rahasia Deep Jaw Release yang Tengah Viral

Fenomena ini pun meledak di media sosial, khususnya TikTok. Banyak netizen yang memberikan komentar emosional, menyatakan betapa mereka sangat membutuhkan ruang seperti ini untuk sekadar bertahan hidup di tengah tuntutan dunia kerja yang kian mencekik. Kesehatan mental kini menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar lagi.

Tips Sederhana Menghadapi Burnout

Meski tidak semua orang bisa terbang ke New York untuk bergabung dengan klub ini, Maaliyah menekankan bahwa esensi dari gerakan ini bisa dipraktikkan di mana saja. Anda tidak perlu menunggu liburan mewah atau retret mahal untuk memberikan hak tubuh untuk beristirahat.

  • Luangkan waktu minimal lima menit sebelum menghadapi agenda penting yang memicu stres.
  • Tutup mata sejenak dan fokuslah pada tarikan serta embusan napas.
  • Lakukan peregangan ringan untuk melepas ketegangan otot yang menumpuk akibat terlalu lama duduk.
  • Berikan izin pada diri sendiri untuk ‘berhenti’ tanpa merasa harus menghasilkan sesuatu.
Baca Juga  Efek Magis Bunga: Rahasia di Balik Penurunan Stres dan Peningkatan Kebahagiaan Mental

Pada akhirnya, tren rebahan massal ini adalah sebuah pengingat bagi kita semua bahwa menjadi manusia berarti memiliki batas. Meditasi dan istirahat bukanlah sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar agar kita tetap waras di tengah dunia yang kian bising.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com