Amarah Publik Memuncak: Hong Myung-bo Diboikot Toko-Toko di Korea Selatan Usai Kegagalan Piala Dunia 2026
Selasa, 30 Jun 2026 10:34 WIB
Kabarmalam.com — Sepak bola sering kali menjadi panggung drama yang tak hanya berakhir di atas rumput hijau, tetapi juga merembet hingga ke sendi-sendi kehidupan sosial. Inilah yang kini tengah dirasakan oleh mantan nakhoda tim nasional Korea Selatan, Hong Myung-bo. Pasca performa mengecewakan di ajang Piala Dunia 2026, Hong Myung-bo seolah menjadi persona non grata di tanah airnya sendiri.
Kekecewaan publik Korea Selatan meledak setelah tim kebanggaan mereka dipaksa angkat koper lebih awal usai tunduk 0-1 dari Afrika Selatan. Meskipun Hong Myung-bo langsung mengambil langkah ksatria dengan menanggalkan jabatannya hanya berselang sehari setelah kekalahan tersebut, api kemarahan pendukung ‘Taegeuk Warriors’ ternyata belum juga padam.
Boikot Masif di Ruang Publik
Fenomena unik sekaligus menyedihkan kini menghiasi berbagai sudut kota di Korea Selatan. Berdasarkan potret yang tengah ramai diperbincangkan di media sosial, sejumlah pemilik usaha ritel mulai dari supermarket hingga restoran secara terang-terangan memasang pengumuman yang melarang Hong Myung-bo untuk menginjakkan kaki di tempat mereka. Boikot ini menjadi simbol betapa dalamnya luka yang dirasakan masyarakat atas kegagalan di turnamen bergengsi tersebut.
Hong Myung-bo sendiri, dalam pernyataan perpisahannya yang emosional, mengungkapkan bahwa setiap langkah yang ia ambil selama dua tahun kepemimpinannya selalu didasari oleh niat untuk memajukan sepak bola Korea. “Setiap kali saya harus memilih pemain atau merancang strategi, saya selalu bertanya pada diri sendiri: apakah ini pilihan terbaik untuk masa depan sepak bola kita?” tuturnya dengan nada penuh refleksi.
Kritikan Pedas dari Istana Kepresidenan
Gelombang tekanan ternyata tidak hanya datang dari suporter di tribun atau netizen di dunia maya. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, turut melontarkan kritik tajam terhadap manajemen tim nasional. Dalam sebuah pernyataan resmi, sang presiden menyentil adanya praktik nepotisme dan penempatan orang-orang yang dianggap tidak kompeten di posisi strategis federasi.
“Ketika loyalitas buta dan pengelompokan tertentu lebih diutamakan daripada kompetensi teknis, maka hasil pahit seperti ini adalah konsekuensi logis yang harus diterima,” tegas Presiden Lee Jae-myung. Pernyataan keras ini semakin menyudutkan posisi para petinggi sepak bola di negeri ginseng tersebut pasca kegagalan di Piala Dunia.
Efek Domino hingga ke Keluarga Pemain
Sialnya, badai kritik ini juga menyeret nama-nama lain di luar kursi kepelatihan. Penjaga gawang utama, Kim Seung Gyu, beserta istrinya, Kim Jin Kyung, tak luput dari sasaran perundungan digital oleh publik yang geram. Serangan netizen yang begitu masif bahkan memaksa Kim Jin Kyung untuk mengunci kolom komentar dan membatasi interaksi hanya bagi pengikut setianya di media sosial. Situasi ini menunjukkan betapa tingginya tensi dan tekanan sosial yang harus dihadapi para penggawa timnas saat ekspektasi publik tidak terpenuhi.