Ikuti Kami
kabarmalam.com

Nyeri Saat Hubungan Intim: Kapan Harus Waspada Gejala Kanker Serviks?

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 27 Jun 2026 19:35 WIB
Nyeri Saat Hubungan Intim: Kapan Harus Waspada Gejala Kanker Serviks?

Kabarmalam.com — Rasa nyeri saat berhubungan seksual acapkali dianggap sebagai hal yang lumrah atau sekadar masalah teknis belaka. Namun, bagi kaum hawa, mengabaikan rasa sakit yang muncul secara berulang bisa menjadi keputusan yang fatal. Di balik ketidaknyamanan tersebut, tersimpan risiko kesehatan serius, salah satunya adalah ancaman kanker serviks yang sering kali datang tanpa suara.

Membedakan Nyeri Biasa dan Sinyal Bahaya

Penting bagi setiap perempuan untuk memahami bahwa tidak semua rasa nyeri saat bercinta identik dengan penyakit mematikan. Terkadang, penetrasi yang terlalu dalam atau kurangnya lubrikasi bisa memicu rasa sakit sesaat. Namun, indikator utama yang patut diwaspadai adalah frekuensi dan gejala penyerta lainnya. Jika rasa sakit tersebut dibarengi dengan perdarahan atau muncul setelah menopause, maka pemeriksaan medis menjadi hal yang mendesak.

Apa Itu Kanker Serviks?

Secara medis, kanker serviks merupakan keganasan yang tumbuh pada sel-sel di leher rahim, yakni bagian bawah rahim yang terhubung langsung dengan vagina. Pemicu utamanya hampir selalu berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus (HPV), sebuah virus yang sangat umum ditularkan melalui kontak seksual.

Baca Juga  Sabrina Chairunnisa Jalani Egg Freezing: Menilik Prosedur Medis di Balik Tren 'Membekukan Waktu'

Meski sistem imun tubuh biasanya mampu menghalau virus ini, pada beberapa kasus, HPV dapat menetap selama bertahun-tahun. Keberadaan virus yang persisten inilah yang perlahan mengubah sel sehat menjadi sel prakanker hingga akhirnya berkembang menjadi kanker ganas. Pencegahan melalui vaksinasi HPV dan skrining rutin adalah benteng pertahanan terbaik yang bisa dilakukan sejak dini.

Pandangan Ahli: Mengapa Nyeri Itu Muncul?

Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Prof. Dr. dr. Yudi Mulyana Hidayat, SpOG, Subsp Onk, menjelaskan bahwa nyeri saat bercinta sering kali menjadi pertanda bahwa kondisi kanker telah memasuki stadium lanjut. Menurutnya, rasa sakit muncul karena sel kanker telah menyebar melampaui mulut rahim.

“Apabila kanker serviks sudah masuk stadium lanjut dan keluar dari mulut rahim, artinya ia sudah menjalar ke jaringan di sekitar vagina atau jaringan parametrium. Jika area tersebut tersenggol saat penetrasi, maka akan terasa sangat sakit,” papar Prof. Yudi dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta Pusat.

Baca Juga  Misteri Memori Koma: Saat Otak Manusia Merajut Kehidupan Palsu yang Terasa Begitu Nyata

Beliau juga menekankan perbedaan krusial: nyeri akibat posisi atau penetrasi dalam biasanya tidak memicu perdarahan. Sebaliknya, jika ada luka atau jaringan kanker yang rapuh di serviks, sentuhan fisik akan langsung memicu keluarnya darah. Inilah yang menjadi “lampu merah” bagi kesehatan reproduksi perempuan.

Gejala yang Tidak Boleh Diabaikan

Kanker serviks kerap dijuluki sebagai silent killer karena gejalanya yang samar pada tahap awal. Namun, seiring berkembangnya penyakit, tubuh akan memberikan sinyal-sinyal berikut:

  • Perdarahan vagina di luar siklus menstruasi atau setelah berhubungan intim.
  • Durasi menstruasi yang jauh lebih lama atau volume darah yang sangat banyak (menoragia).
  • Keputihan yang tidak normal; berair, bercampur darah, dan mengeluarkan aroma tidak sedap.
  • Nyeri panggul yang bersifat menetap.
Baca Juga  Tameng Digital: Membedah Alasan Pemerintah Batasi Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun

Langkah Deteksi Dini: Lebih Baik Mencegah

Jangan menunggu gejala muncul untuk melakukan pemeriksaan. Kementerian Kesehatan RI menyarankan beberapa metode skrining untuk mendeteksi perubahan sel serviks sedini mungkin:

  1. Pap Smear: Prosedur pengambilan sampel sel leher rahim untuk melihat adanya sel abnormal secara mikroskopis.
  2. Tes HPV DNA: Metode yang lebih spesifik untuk mendeteksi keberadaan virus HPV tipe risiko tinggi langsung pada sumbernya.
  3. IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat): Cara sederhana dengan mengoleskan asam asetat pada serviks. Jika terdapat sel pranker, area tersebut akan berubah warna menjadi putih (asetowhite).
  4. Biopsi: Jika ditemukan kecurigaan kuat, dokter akan mengambil jaringan kecil untuk memastikan diagnosis di laboratorium.

Menjaga kesehatan reproduksi bukan sekadar tentang kenyamanan saat berhubungan, melainkan investasi jangka panjang untuk kualitas hidup. Jika Anda merasakan nyeri yang tidak biasa, segera konsultasikan ke tenaga medis profesional untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid