Ikuti Kami
kabarmalam.com

Kisah Didin, Penjual Tikar ‘Semen’ yang Mengadu Nasib di Tengah Kemeriahan HUT Jakarta Bundaran HI

Husnul | kabarmalam.com
Sabtu, 27 Jun 2026 20:35 WIB
Kisah Didin, Penjual Tikar 'Semen' yang Mengadu Nasib di Tengah Kemeriahan HUT Jakarta Bundaran HI

Kabarmalam.com — Di balik gemerlap lampu dan riuhnya perayaan puncak hari ulang tahun kota, terselip kisah-kisah perjuangan kecil yang mewarnai setiap sudut ibu kota. Salah satunya adalah Didin, seorang pria yang biasanya setia menjajakan tikar di kawasan Ragunan, namun kali ini ia memilih untuk menjemput rezeki di jantung kemeriahan malam puncak HUT Jakarta ke-499 di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat.

Langkah kaki Didin membawanya jauh dari rutinitasnya di Jakarta Selatan demi memanfaatkan momentum HUT Jakarta yang selalu menyedot perhatian ribuan warga. Berbekal informasi yang ia dapatkan dari dunia maya, ia memutuskan untuk memboyong puluhan lembar tikar berbahan kantong semen miliknya ke pusat kota sejak sore hari.

Baca Juga  Kisah Hou Xiang: Aktor 40 Tahun yang Terjebak dalam Tubuh Anak Kecil dan Dilema Foto Pernikahannya

“Iya, biasanya saya jualan di Ragunan. Sengaja mau jualan di HI hari ini karena tahu ada perayaan HUT Jakarta. Infonya saya dapat lewat internet,” ungkap Didin saat berbincang dengan tim kami di tengah kerumunan massa yang memadati ikon Jakarta tersebut, Sabtu (27/6/2026).

Strategi dan Harapan di Tengah Pesta Rakyat

Didin bercerita bahwa dirinya sudah mulai bersiap di lokasi sejak pukul 16.00 WIB. Hingga waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB, setidaknya delapan lembar tikar sudah berpindah tangan ke pengunjung yang ingin duduk santai menikmati suasana malam. Di tengah hiruk-pikuk acara yang juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, kehadiran penjual tikar seperti Didin menjadi penyelamat bagi warga yang ingin beristirahat sejenak dari padatnya kerumunan di Bundaran HI.

Baca Juga  Ketegangan di Bekasi: Armada Shuttle Transjakarta Sempat Dihadang Massa Pasca Tragedi Kereta Api

Mengenai harga, Didin mematok tarif yang sangat terjangkau, yakni Rp 10 ribu per lembar. Namun, ia menyadari betul dinamika tawar-menawar di lapangan. Tak jarang pembeli merayu untuk mendapatkan harga lebih murah, sehingga ia memberikan alternatif ukuran yang berbeda sesuai dengan kantong pelanggan.

  • Harga standar: Rp 10.000 per lembar
  • Harga nego: Rp 5.000 (disesuaikan dengan ukuran tikar)
  • Stok yang dibawa: 50 lembar

“Tergantung yang nawar juga sebenarnya. Kalau minta Rp 5 ribu, saya kasih yang ukurannya sesuai,” tambahnya sambil terus memperhatikan calon pembeli yang melintas.

Perjuangan Ekonomi Kreatif Skala Kecil

Tikar yang dijual Didin bukanlah produk pabrikan mewah, melainkan hasil olahan kreatif dari kantong semen yang ia dapatkan dari seorang pengepul di Karawang. Model bisnis sederhana ini memungkinkannya untuk membawa pulang seluruh keuntungan bersih ke rumah tanpa harus membagi hasil lagi, asalkan dagangannya habis terjual.

Baca Juga  Kritik Tajam 98 Resolution Network Soal Narasi 'Indonesia Gelap': Sebuah Anomali Gerakan Sosial

Meski malam semakin larut, semangat Didin tidak luntur. Ia bertekad untuk tetap bertahan di lokasi hingga acara benar-benar berakhir dan semua orang mulai membubarkan diri. Harapannya hanya satu: sisa stok tikarnya bisa ludes terbeli oleh warga yang mengikuti euforia perayaan di Jabodetabek tersebut.

“Pokoknya sampai selesai, sampai habis semua,” pungkasnya optimis, mencerminkan semangat gigih warga kelas bawah yang selalu menemukan celah rezeki di balik setiap pesta besar yang digelar oleh Jakarta.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul