Taylor Parker: Terpidana Mati yang Curi Bayi dari Rahim Teman Malah Protes Tak Boleh Pakai Makeup
Kamis, 25 Jun 2026 11:34 WIB
Kabarmalam.com — Dunia hukum kembali diguncang oleh detail-detail mengerikan dari salah satu kasus kriminal paling brutal di Texas, Amerika Serikat. Taylor Parker, wanita yang dijatuhi hukuman mati karena membunuh sahabatnya demi mencuri bayi dalam kandungan, kini menjadi pusat perhatian setelah sisi gelapnya terungkap lebih dalam melalui dokumenter Netflix berjudul Maternal Instinct.
Kisah ini bukan sekadar tentang pembunuhan biasa, melainkan sebuah manifestasi dari obsesi yang menyimpang. Di balik jeruji besi, Parker ternyata menunjukkan perilaku yang membuat publik geleng-geleng kepala. Alih-alih menunjukkan penyesalan yang mendalam atas tindakannya yang keji, ia justru sempat melontarkan keluhan dangkal terkait penampilannya di ruang persidangan.
Tragedi Berdarah di Balik Obsesi Palsu
Tragedi ini bermula pada Oktober 2020, ketika Parker dengan dingin menyerang sahabatnya sendiri, Reagan Simmons-Hancock, yang saat itu baru berusia 21 tahun dan tengah hamil besar. Parker melakukan serangan brutal menggunakan palu dan menikam korban lebih dari 100 kali. Namun, kengerian tidak berhenti di situ.
Dengan menggunakan pisau bedah, Parker melakukan operasi caesar darurat secara paksa untuk mengeluarkan bayi dari rahim Reagan. Untuk menutupi jejaknya, ia berpura-pura baru saja melahirkan di pinggir jalan dan meminta bantuan medis. Sayangnya, bayi perempuan yang kemudian diberi nama Braxlynn Sage tersebut meninggal dunia tak lama setelah dibawa ke rumah sakit. Tindakan pembunuhan berencana ini akhirnya menyeret Parker ke kursi pesakitan dan membuahkan vonis mati.
Keluhan Makeup dan Citra ‘Kriminal Tunawisma’
Meskipun dokumenter di Netflix banyak menyoroti duka keluarga korban, rekaman telepon penjara yang diputar di pengadilan mengungkap betapa dangkalnya empati Parker. Dalam percakapan dengan ibunya, Shona Prior, Parker mengeluhkan kebijakan penjara yang melarangnya menggunakan riasan wajah atau makeup saat menghadiri sidang.
Ibunya, dalam rekaman tersebut, terdengar khawatir bahwa tanpa riasan, juri akan memandang putrinya sebagai sosok yang menakutkan. “Mereka ingin kamu terlihat seperti kriminal tunawisma. Mereka tidak ingin kamu terlihat seperti manusia karena itu akan menguntungkanmu,” ujar Prior kepada Parker. Hal ini menunjukkan upaya manipulasi citra di tengah proses hukum yang sangat serius.
Nir-Empati: Menganggap Pembunuhan sebagai ‘Satu Hal Buruk’
Salah satu momen paling mencengangkan dalam rekaman tersebut adalah ketika Parker mencoba membela diri atas perbuatannya. Dengan nada yang seolah mencari pembenaran, ia menyebut pembantaian yang dilakukannya hanya sebagai “satu hal buruk” dalam hidupnya. Ia bahkan merasa menjadi korban dari sistem hukum yang dianggapnya tidak adil.
Mendengar pernyataan tersebut, sang ibu memberikan teguran keras. Prior menekankan bahwa membunuh sahabat sendiri bukanlah sekadar kesalahan kecil, melainkan sebuah tragedi besar yang tak termaafkan. Bahkan, sang ibu menyarankan agar Parker menjalani evaluasi psikiatri karena merasa ada sesuatu yang sangat salah secara mental pada putrinya.
Kini, Parker menghabiskan hari-harinya di penjara khusus narapidana hukuman mati di Texas. Sambil menunggu proses banding yang bisa memakan waktu puluhan tahun, publik diingatkan kembali akan kekejaman yang bisa dilakukan seseorang demi sebuah kebohongan yang dipelihara secara ekstrem.