Klaim Daur Ulang Dianggap Menyesatkan, Iklan Adidas hingga Calvin Klein Resmi Dilarang di Inggris
Rabu, 24 Jun 2026 15:34 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah gelombang kesadaran lingkungan yang kian masif, label ‘ramah lingkungan’ kini menjadi daya tarik utama bagi konsumen, terutama generasi muda yang peduli pada masa depan bumi. Namun, janji-janji manis dalam pemasaran produk berkelanjutan kini berada di bawah pengawasan ketat. Baru-baru ini, tiga raksasa industri fashion dunia—Adidas, Calvin Klein, dan Uniqlo—terpaksa menelan pil pahit setelah iklan mereka resmi dilarang tayang di Inggris akibat klaim daur ulang yang dianggap tidak transparan.
Teguran Keras bagi Raksasa Mode Dunia
Otoritas Standar Periklanan Inggris atau Advertising Standards Authority (ASA) mengambil tindakan tegas terhadap materi promosi ketiga brand tersebut. Masalah utamanya terletak pada penggunaan istilah ‘recycled’ atau daur ulang yang terpampang dalam iklan Google mereka. Tanpa penjelasan yang memadai, penggunaan kata tersebut dinilai berpotensi mengecoh publik seolah-olah seluruh bagian produk tersebut terbuat dari bahan hasil daur ulang.
Adidas, misalnya, mempromosikan lini sepatu larinya dengan embel-embel material daur ulang. Sementara itu, Calvin Klein menonjolkan produk atasan wanita dengan label serupa, dan Uniqlo menawarkan jaket fleece yang diklaim terbuat dari serat daur ulang. Namun, pengakuan dari pihak internal brand justru mengungkap fakta yang sedikit berbeda. Adidas mengakui bahwa mereka tidak memiliki lini sepatu yang sepenuhnya 100 persen hasil daur ulang, melainkan hanya mengandung sebagian material tersebut.
Risiko Kesalahpahaman Konsumen
Senada dengan Adidas, pihak Calvin Klein juga menyatakan bahwa klaim tersebut hanya berlaku pada sebagian kecil material produk mereka. Di sisi lain, Uniqlo berdalih bahwa konsumen kemungkinan besar sudah memahami bahwa material daur ulang yang digunakan hanyalah dalam persentase tertentu. Namun, argumen tersebut dimentahkan oleh ASA.
Miles Lockwood, Direktur Pengaduan dan Investigasi ASA, menekankan pentingnya kejujuran dalam iklan lingkungan. “Masyarakat harus bisa mempercayai klaim lingkungan yang mereka lihat. Ketika istilah mutlak seperti ‘daur ulang’ digunakan, dasarnya harus dijelaskan secara transparan dan didukung oleh bukti yang memadai,” tegasnya sebagaimana dilansir dari Guardian.
Perang Melawan Praktik Greenwashing
Kasus yang menimpa Adidas, Calvin Klein, dan Uniqlo ini semakin mempertegas komitmen regulator dalam memerangi praktik greenwashing. Istilah ini merujuk pada strategi pemasaran di mana sebuah perusahaan mencoba membangun citra ramah lingkungan, padahal aktivitas atau produk nyatanya tidak sepenuhnya mendukung pelestarian alam.
Fenomena ini bukan pertama kalinya terjadi di tanah Inggris. Sebelumnya, merek-merek ternama seperti Nike, Superdry, hingga Lacoste juga sempat mendapatkan teguran serupa. Hal ini menjadi peringatan keras bagi para pelaku usaha bahwa narasi tentang keberlanjutan lingkungan tidak boleh hanya menjadi slogan kosong demi mendongkrak penjualan, melainkan harus disertai dengan data dan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan publik.