Idul Adha Ala Boiyen: Serunya Tradisi Bakar Satai dan Rahasia Jaga Kesehatan di Tengah Limpahan Daging
Jumat, 29 Mei 2026 16:04 WIB
Kabarmalam.com — Perayaan hari raya kurban tidak selalu harus identik dengan prosesi penyembelihan secara mandiri. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh komedian sekaligus penyanyi dangdut kenamaan, Boiyen. Meski absen berkurban tahun ini, aura kegembiraan tetap terpancar dari wajahnya saat menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga besar.
Saat ditemui di sela-sela kegiatannya di Studio Arisan Trans 7, kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, Boiyen sempat melontarkan candaan khasnya ketika ditanya mengenai hewan kurban. Dengan gaya jenaka, perempuan berusia 37 tahun ini justru memplesetkan makna kurban menjadi urusan asmara.
Candaan ‘Kurban Perasaan’ di Tengah Momen Lebaran
“Hah, kurban apa? Kurban perasaan ya?” seloroh Boiyen sambil tertawa lepas pada Jumat (29/5/2026). Ia mengonfirmasi bahwa untuk tahun ini, dirinya memang belum berkesempatan untuk melaksanakan ibadah kurban. Namun, hal tersebut tidak mengurangi esensi Idul Adha baginya, yang ia maknai sebagai ajang mempererat tali silaturahmi.
Bagi Boiyen, tradisi berkumpul di rumah adalah agenda wajib yang tak boleh terlewatkan. Baginya, momen makan bersama adalah cara paling sederhana namun bermakna untuk merayakan hari besar ini. “Ngerayainnya ya di rumah dong bareng keluarga, ngumpul. Ya makan-makan biasa sama keluarga, mumpung semua saudara bisa berkumpul,” ungkapnya dengan nada hangat.
Tradisi Bakar Satai dan Tugas Khusus Boiyen
Salah satu ritual kuliner yang tak pernah absen di kediaman Boiyen adalah sesi bakar satai. Apalagi, ia mengaku sering mendapatkan kiriman daging dari tetangga sekitar maupun kerabat dekat. Namun, menariknya, meskipun sering terlibat dalam keseruan memasak, Boiyen mengaku memiliki keterbatasan dalam hal meracik bumbu.
“Kita bakar-bakar satai karena kan banyak yang bagi ya. Tapi kalau urusan bumbu, saya mah nggak tahu. Bagian saya cuma nusukin dagingnya saja ke tusuk satai,” tuturnya jujur diiringi tawa. Baginya, keterlibatan sekecil apapun dalam proses memasak bersama keluarga sudah memberikan kebahagiaan tersendiri.
Tetap Waspada Kolesterol di Tengah Pesta Daging
Meski dikelilingi oleh hidangan daging yang menggugah selera, Boiyen menunjukkan kesadaran tinggi akan kesehatan. Di usianya yang kini menginjak kepala tiga, ia mulai lebih selektif dan membatasi konsumsi daging merah demi menghindari risiko penyakit seperti kolesterol.
Ia lebih memilih untuk membiarkan anggota keluarga dan teman-temannya menikmati hidangan tersebut daripada harus berisiko bagi kesehatannya sendiri. “Iya, karena kebanyakan kan nggak boleh. Takut kolesterol nanti kalau makan daging terlalu banyak. Jadi ya sudah, dagingnya buat teman-teman sama saudara saja yang lagi main ke rumah,” pungkasnya menutup perbincangan.