Ikuti Kami
kabarmalam.com

Bukan Cemburu, Istri Ini Malah Pimpin Lamaran untuk Calon Istri Kedua Suaminya: Sebuah Kisah Cinta Tak Biasa di Thailand

Jurnal | kabarmalam.com
Senin, 25 Mei 2026 21:04 WIB
Bukan Cemburu, Istri Ini Malah Pimpin Lamaran untuk Calon Istri Kedua Suaminya: Sebuah Kisah Cinta Tak Biasa di Thailand

Kabarmalam.com — Jagat maya baru-baru ini dikejutkan oleh sebuah fenomena yang memancing diskusi hangat di kalangan netizen. Bukan soal perselisihan atau keretakan rumah tangga, melainkan sebuah aksi yang justru menunjukkan keharmonisan yang tak lazim. Seorang istri pertama di Thailand viral setelah secara terang-terangan menggelar dan memimpin langsung prosesi pertunangan suaminya dengan wanita lain yang dipersiapkan menjadi istri kedua.

Peristiwa yang menghebohkan ini berlangsung di Desa Ban Nong Phai, Provinsi Chaiyaphum, Thailand. Suasana lamaran tersebut dikemas sangat meriah, lengkap dengan iring-iringan mobil dan sepeda motor yang mengular, layaknya sebuah hajatan besar dalam tradisi pernikahan setempat. Menariknya, sosok yang berada di garis depan memandu seluruh prosesi lamaran viral tersebut adalah Yupin Thadthai, sang istri pertama.

Mahar Ratusan Juta dan Restu yang Tulus

Yupin tidak hanya sekadar hadir; ia adalah pengatur utama di balik layar. Dalam upacara tersebut, ia menyerahkan seserahan yang nilainya cukup fantastis. Total mahar yang diberikan mencapai 300.000 baht atau setara dengan Rp 164 juta, belum termasuk perhiasan emas senilai kurang lebih Rp 191 juta. Kado mewah ini diberikan sebagai bentuk penyambutan bagi Onuma Janpeng, wanita muda yang akan menjadi pendamping kedua bagi suaminya, Wisanu Prangchaiyaphum.

Baca Juga  Wasiat Tak Terduga: Tiga Penari Seksi Beraksi di Depan Peti Mati, Tradisi atau Sensasi?

Banyak pihak bertanya-tanya, apa yang mendasari keputusan berani ini? Diketahui, Yupin dan Wisanu bukanlah pasangan baru. Mereka telah membangun biduk rumah tangga selama lebih dari 20 tahun, memiliki seorang anak, dan sukses menjalankan bisnis perlengkapan audio serta beberapa tempat hiburan. Kehidupan mereka secara ekonomi bisa dibilang sangat mapan.

Alasan Emosional di Balik Keputusan Poligami

Dalam sebuah kesempatan, Yupin mengungkapkan alasan menyentuh di balik keputusannya mendukung praktik poligami ini. Ia mengaku telah mengenal Onuma selama lebih dari satu dekade. Hubungan mereka tidak lagi sekadar pertemanan, melainkan sudah seperti keluarga karena merasa memiliki latar belakang emosional yang serupa.

“Saya dan Onuma sama-sama tumbuh tanpa banyak dukungan emosional di masa lalu,” tutur Yupin. Baginya, mengadakan upacara resmi ini penting agar hubungan mereka di masa depan tidak menjadi buah bibir atau bahan gosip negatif di masyarakat. Ia ingin Onuma mendapatkan pengakuan yang adil secara sosial di mata komunitas mereka.

Baca Juga  Kisah Haru di Balik Tato Eyeliner dari Abu Kremasi Anjing, Cara Unik Claire Hobson Abadikan Kesetiaan

Wisanu, sang suami, juga menegaskan bahwa mereka bertiga telah berkomitmen untuk hidup bersama dalam satu atap untuk jangka panjang. Ia berjanji akan membagi kasih sayang serta aset perusahaan secara adil. “Kami membangun kehidupan ini bersama-sama. Rahasianya sederhana: memberikan cinta dan keadilan kepada keduanya,” ungkap Wisanu dengan percaya diri.

Kontroversi di Tengah Aturan Hukum

Meski kisah unik ini terlihat harmonis di permukaan, realitas hukum di Thailand sebenarnya cukup tegas. Sejak tahun 1935, pemerintah Thailand telah menghapus praktik poligami dan hanya mengakui pernikahan monogami secara legal. Namun, secara sosiologis, praktik memiliki lebih dari satu pasangan masih sering ditemukan dalam lapisan masyarakat tertentu.

Baca Juga  Asia Tenggara Membara: Thailand Tembus 52 Derajat, Malaysia Laporkan Korban Jiwa Akibat Heatstroke

Foto-foto Yupin yang memimpin prosesi lamaran tersebut seketika membelah opini publik di media sosial. Ada netizen yang merasa syok dan sulit menerima logika di balik keputusan tersebut, namun tidak sedikit pula yang memuji kejujuran serta keterbukaan keluarga ini dalam menghadapi dinamika perasaan mereka sendiri. Bagaimana menurut Anda? Apakah ini bentuk kedewasaan emosional atau sebuah kontroversi sosial yang tidak patut dicontoh?

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com