Wasiat Tak Terduga: Tiga Penari Seksi Beraksi di Depan Peti Mati, Tradisi atau Sensasi?
Jumat, 22 Mei 2026 17:04 WIB
Kabarmalam.com — Sebuah pemandangan ganjil baru-baru ini menghebohkan jagat maya saat sebuah prosesi pemakaman di Thailand beralih fungsi menjadi panggung pertunjukan yang tak terduga. Alih-alih dipenuhi isak tangis yang mendalam, suasana di depan peti jenazah justru dimeriahkan oleh kehadiran tiga penari berpakaian minim yang beraksi dengan lincah di tengah suasana duka.
Wasiat Terakhir Sang Pria Ceria
Kejadian yang berlangsung di distrik Ron Phibun, Nakhon Si Thammarat pada 20 April lalu ini bukanlah tanpa alasan. Diketahui, almarhum bernama Winit (59) merupakan sosok yang semasa hidupnya dikenal sangat enerjik dan penuh tawa. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya pada 15 April, Winit meninggalkan sebuah wasiat terakhir yang cukup eksentrik: ia meminta agar keluarganya tidak tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut saat dirinya tiada.
Pesan tersebut diwujudkan oleh pihak keluarga melalui sebuah pertunjukan tari tepat di depan peti jenazahnya. Bagi anak-anak dan kerabat, memenuhi permintaan ini adalah bentuk penghormatan tertinggi atas kepribadian Winit yang selalu ingin membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Mereka percaya bahwa suasana riuh dan ceria adalah cara terbaik untuk melepas kepergian sang ayah menuju peristirahatan terakhir.
Sorotan Tajam dan Kontroversi Digital
Begitu prosesi doa dari para biksu usai, suasana sakral seketika berubah. Perangkat pengeras suara disiapkan, dan musik pun mulai berdentum. Pertunjukan yang juga disiarkan langsung melalui platform Facebook ini sontak mengundang ratusan penonton daring dan menjadi perbincangan hangat di berbagai kanal media sosial. Video tersebut memperlihatkan kontras yang tajam antara kesakralan peti mati dan gerakan enerjik dari para penari profesional yang disewa keluarga.
Tak pelak, peristiwa unik ini memicu gelombang pro dan kontra yang masif di kalangan netizen. Banyak yang memberikan dukungan dan memuji keberanian keluarga dalam menjalankan amanah almarhum meski terlihat sangat tidak lazim. Namun, kritik tajam juga membanjiri kolom komentar. Para kritikus menilai aksi tersebut sangat tidak pantas dilakukan di sebuah acara pemakaman yang seharusnya penuh khidmat, terlebih mengingat banyaknya anak-anak di bawah umur yang turut menyaksikan langsung di lokasi.
Penghormatan di Balik Polemik
Meski kini menjadi pusat polemik internasional, pihak keluarga tetap teguh pada pendirian mereka. Rencananya, prosesi kremasi akan dilanjutkan di Wat Thepphanom Chuet sebagai tahapan akhir dari rangkaian upacara tersebut. Bagi mereka, esensi dari sebuah perpisahan bukanlah soal seberapa banyak air mata yang tumpah, melainkan bagaimana mengenang spirit dan semangat hidup yang pernah dibawa oleh almarhum semasa hidup di dunia.
Fenomena ini menambah daftar panjang bagaimana budaya pemakaman di berbagai belahan dunia mulai bergeser, di mana keinginan personal sang mendiang terkadang melampaui norma-norma tradisional yang selama ini berlaku di masyarakat umum.