Seni Gradasi Pipi yang Berujung Drama: Menguak Kontroversi ‘Transition Blush’ Antara Patrick Ta dan Esther Edeme
Rabu, 03 Jun 2026 09:04 WIB
Kabarmalam.com — Panggung kecantikan TikTok kembali memanas, kali ini bukan karena tantangan makeup yang aneh, melainkan perdebatan sengit mengenai orisinalitas sebuah teknik. Tren ‘Transition Blush’ yang menjanjikan tampilan pipi merona alami dengan efek gradasi sempurna, mendadak menjadi pusat perhatian setelah dua nama besar di industri makeup artist (MUA), Patrick Ta dan Ngozi Esther Edeme, terseret dalam pusaran klaim kepemilikan.
Pemicu ‘Perang’ Dingin di Media Sosial
Semuanya bermula ketika Patrick Ta, pendiri lini kecantikan ternama Patrick Ta Beauty, merilis cuplikan produk terbarunya bertajuk Transition Blurring Blush Duo. Dalam video promosi tersebut, Patrick menyebutkan bahwa ia menciptakan teknik transition blush untuk memberikan hasil akhir yang halus, seamless, dan memberikan efek filter pada kulit. Namun, pernyataan ‘menciptakan’ ini justru menjadi bumerang bagi sang MUA papan atas tersebut.
Para netizen dengan cepat membanjiri kolom komentar, menuduh Patrick mengambil kredit atas teknik yang selama ini identik dengan ciri khas Ngozi Esther Edeme, atau yang lebih dikenal dengan akun Painted by Esther. Esther sendiri memang tersohor berkat kemampuannya memoles wajah bintang dunia seperti Olandria Carthen hingga Tyla dengan teknik gradasi yang serupa.
Mengenal Lebih Dekat Teknik Transition Blush
Lantas, apa sebenarnya yang membuat teknik ini begitu spesial? Bagi Anda yang gemar mengeksplorasi teknik makeup terbaru, transition blush adalah seni memadukan concealer dan perona pipi dalam beberapa lapisan warna. Tujuannya adalah menciptakan transisi warna yang lembut dari area bawah mata hingga ke tulang pipi.
Hasilnya bukan sekadar pipi merah, melainkan tampilan yang terlihat lebih ‘lifted’ (terangkat), segar, dan memiliki dimensi yang dramatis namun tetap menyatu dengan kulit. Keindahan gradasi inilah yang kemudian viral dan menjadi dambaan banyak orang di media sosial.
Esther Edeme: Antara Inspirasi dan Realitas Industri
Menanggapi keriuhan tersebut, Esther Edeme tidak lantas menyulut api. Dalam sebuah unggahan video yang penuh ketenangan, ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengklaim sebagai pemilik tunggal dari teknik tersebut. Dengan rendah hati, Esther justru menyebut nama-nama legenda seperti Kevyn Aucoin, Danessa Myricks, dan Pat McGrath sebagai sumber inspirasinya.
“Tujuan akhir saya adalah untuk mengajar dan menyebarkan ilmu yang saya miliki,” ungkap Esther. Namun, ia tidak menampik adanya tantangan besar bagi perempuan kulit hitam di industri kecantikan. Menurutnya, mereka seringkali harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang setara, sebuah sentimen yang memicu simpati mendalam dari para pengikutnya.
Klarifikasi Patrick Ta: Respek di Balik Inovasi
Tak tinggal diam, Patrick Ta segera melayangkan klarifikasi melalui akun media sosialnya. Ia menjelaskan bahwa pengembangan produk blush on tersebut telah memakan waktu lebih dari satu setengah tahun. Patrick menegaskan bahwa ia tidak berniat mengklaim kepemilikan atas gaya riasan tersebut, melainkan memperkenalkan visinya sendiri melalui produk yang ia kembangkan.
“Saya tidak meniru Esther. Saya hanya memiliki rasa hormat dan cinta yang besar untuknya,” tulis Patrick. Ia bahkan menandai akun Esther secara langsung dan memujinya sebagai sosok berbakat yang mempopulerkan tampilan ini lewat karya-karyanya yang luar biasa. Patrick juga mengungkapkan fakta bahwa ia sempat menghubungi Esther sebelum peluncuran produk untuk membicarakan potensi kolaborasi profesional, meskipun rencana tersebut belum sempat terealisasi.
Drama ini akhirnya membuka mata publik bahwa dalam dunia seni, termasuk makeup, batasan antara inspirasi, tren, dan inovasi seringkali sangat tipis. Namun, komunikasi dan rasa saling menghargai antar seniman tetap menjadi kunci utama di balik gemerlapnya industri kosmetik global.