Saputra Kori dan Realita Pahit Industri Film: Tetap Ditolak Casting Walau Berstatus Mega Bintang TikTok
Kamis, 21 Mei 2026 13:04 WIB
Kabarmalam.com — Di balik gemerlap angka 20 juta pengikut di jagat TikTok, tersimpan sebuah narasi perjuangan yang jarang terendus publik dari sosok Saputra Kori. Pemuda asal Bali yang kini menjadi fenomena digital ini tengah menapaki babak baru yang penuh tantangan: menembus ketatnya industri perfilman Tanah Air.
Langkah besarnya ditandai dengan keterlibatannya dalam sebuah proyek film horor ambisius bertajuk 402: Rumah Sakit Angker Korea. Film ini merupakan adaptasi resmi dari karya hit Korea Selatan, Gonjiam: Haunted Asylum, yang digarap oleh tangan dingin sutradara ternama Anggy Umbara. Namun, bagi Kori, peran ini bukanlah sebuah ‘hadiah’ atas popularitasnya, melainkan buah dari kegigihan yang melelahkan.
Loncatan Karier dari Layar Ponsel ke Layar Lebar
Setelah kurang lebih enam tahun mendedikasikan hidupnya sebagai kreator konten, Kori merasa sudah waktunya untuk keluar dari zona nyaman. Baginya, akting adalah muara baru untuk mengeksplorasi kedalaman seni peran yang tidak ia temukan saat memproduksi konten singkat di TikTok maupun YouTube.
“Sebenarnya tidak ada target yang kaku, tapi aku memang sedang ingin terjun ke dunia film. Setelah enam tahun di dunia konten, aku merasa butuh tantangan baru, baik itu di layar lebar maupun sinetron,” ungkap Saputra Kori saat berbincang hangat di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Bukan ‘Titipan’ Viral: Pahit Getir Ruang Casting
Banyak yang berasumsi bahwa dengan seleb TikTok sebesar dirinya, pintu studio film akan terbuka lebar tanpa hambatan. Namun, Kori dengan tegas menepis anggapan tersebut. Di balik layar, ia justru berkali-kali harus menelan pil pahit penolakan di ruang-ruang casting.
“Aku sudah ditolak casting puluhan kali, dan itu yang orang-orang di media sosial tidak tahu. Banyak yang menyangka film ini mengajak Kori hanya demi mengejar viralitas atau membawa basis penggemar, padahal prosesnya tidak semudah itu. Aku tetap berjuang dari nol di setiap casting,” tegasnya dengan nada serius.
Penghormatan bagi Aktor Profesional
Meski memiliki ‘jembatan’ berupa popularitas digital, Kori tetap membumi. Ia menaruh rasa hormat yang tinggi kepada rekan-rekan aktor lain yang memulai karier benar-benar dari titik dasar tanpa modal pengikut jutaan. Ia menyadari bahwa posisinya saat ini adalah sebuah privilese yang harus dibayar dengan kualitas akting yang mumpuni.
“Aku merasa sangat bersyukur diberikan kesempatan ini. Aku tahu perjuangan aktor lain untuk masuk ke industri ini sangat berat. Aku beruntung bisa dijembatani lewat konten, tapi itu juga berarti aku punya tanggung jawab besar untuk membuktikan kemampuan,” tambahnya lagi.
Misi Besar untuk Perfilman Nasional
Visi Kori tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia memiliki ambisi yang lebih besar, yakni menyinergikan ekosistem digital dengan industri bioskop. Dengan basis penggemar yang didominasi generasi muda, ia berharap kehadirannya bisa menjadi pemantik agar anak muda kembali jatuh cinta pada film lokal.
“Aku senang karena bisa membawa fanbase dari TikTok dan YouTube untuk ikut meramaikan bioskop. Harapannya, semakin banyak anak muda yang mengapresiasi dan bangga menonton karya-karya sineas dalam negeri,” pungkasnya optimis.