Gaya Parenting Tegas Hanung Bramantyo: Lawan ‘Mental Tempe’, Hadiah Hanya untuk Anak Berprestasi
Minggu, 17 Mei 2026 16:04 WIB
Kabarmalam.com — Di balik layar lebar yang penuh kemegahan dan imajinasi, sutradara kondang Hanung Bramantyo ternyata menerapkan disiplin baja dalam dinding rumah tangganya. Meski menyandang status sebagai salah satu sineas tersukses di Indonesia, Hanung enggan menjadikan kekayaannya sebagai ‘karpet merah’ yang memanjakan anak-anaknya tanpa usaha.
Suami dari Zaskia Adya Mecca ini mengungkapkan bahwa anak-anaknya seringkali menggunakan kemahiran mereka dalam berakting demi meluluhkan hati sang ayah. Mulai dari rengekan hingga membandingkan fasilitas yang mereka miliki dengan teman sebayanya, drama-drama kecil kerap mewarnai hari-hari Hanung.
“Anak saya itu semuanya pintar main drama. Jadi sedikit-sedikit menangis, mengeluh kenapa teman di sana beli mobil ini tapi kita tidak punya. Saya tegas bilang, tidak bisa begitu hanya karena merasa bapakmu kaya,” ujar Hanung saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Melawan ‘Mental Tempe’ Sejak Dini
Bagi Hanung, membangun karakter jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi keinginan materi. Ia sangat menghindari pola asuh anak yang menciptakan apa yang ia sebut sebagai ‘mental tempe’. Istilah ini merujuk pada mentalitas lemah di mana seseorang baru mau bergerak atau berprestasi setelah mendapat tekanan fisik maupun mental yang keras.
Filosofi ini didapat Hanung dari didikan keras orang tuanya di masa lalu yang sangat membekas hingga kini. Ia tidak ingin buah hatinya tumbuh menjadi pribadi yang pasif. “Mental tempe itu sangat mengerikan. Jangan sampai kamu harus dibentak dulu, harus diinjak-injak dulu baru kemudian bisa pintar atau bergerak. Saya ingin mereka punya inisiatif sendiri,” tegas sutradara film Children of Heaven tersebut.
Prestasi sebagai Syarat Utama
Dalam hal minat dan bakat, Hanung memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi anak-anaknya untuk memilih jalan hidup, baik itu di bidang seni, olahraga, maupun akademik. Namun, kebebasan tersebut datang dengan tanggung jawab besar. Setiap permintaan barang mewah atau hadiah harus dibayar lunas dengan pencapaian yang nyata.
Ia selalu menuntut adanya progres dan pilihan hidup yang jelas. Sebelum mengabulkan sebuah keinginan, Hanung akan menguji dedikasi anak-anaknya terlebih dahulu. Strategi ini diterapkan agar mereka mengerti nilai dari sebuah kerja keras dan tidak tumbuh tanpa arah yang jelas.
“Saya minta mereka memilih dulu, lalu berprestasi sesuai dengan pilihannya itu. Ketika dia menginginkan sesuatu, saya akan mengujinya. Berikan prestasi dulu, baru kemudian Abimu akan memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi,” pungkas Hanung menutup pembicaraan.