MET Gala 2026: Rekor Donasi Fantastis Rp 730 Miliar di Tengah Pusaran Aksi Boikot
Rabu, 06 Mei 2026 16:05 WIB
Kabarmalam.com — Gemerlap lampu kilat kamera dan kemewahan karpet merah MET Gala 2026 rupanya menyimpan narasi yang jauh lebih kompleks dari sekadar parade busana eksentrik para pesohor. Di balik kemegahan yang terpancar, acara penggalangan dana paling bergengsi di dunia ini baru saja menorehkan tinta emas dengan mencetak rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarahnya, meskipun bayang-bayang aksi protes dan seruan boikot sempat menghantui atmosfer perhelatan tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, dana sebesar US$ 42 juta atau setara dengan Rp 730 miliar berhasil diamankan bahkan sebelum para tamu undangan menginjakkan kaki di tangga ikonik Metropolitan Museum of Art, New York City. Pengumuman fantastis ini disampaikan langsung oleh Max Hollein, Direktur sekaligus CEO Metropolitan Museum of Art, dalam sesi konferensi pers yang digelar Senin (4/5/2026) pagi waktu setempat. Angka ini menunjukkan lonjakan tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang meraup US$ 31 juta, membuktikan bahwa daya tarik MET Gala sebagai magnet finansial bagi dunia seni tetap tak tergoyahkan.
Transformasi Jamuan Makan Menjadi Pilar Seni Dunia
Tahun ini, MET Gala didapuk sebagai gerbang pembuka bagi pameran bertajuk ‘Costume Art’. Jika kita menengok ke belakang, sejarah panjang acara ini adalah cerminan dari evolusi industri mode itu sendiri. Bermula pada tahun 1948 sebagai jamuan makan malam sederhana dengan tiket seharga 50 dolar, kini acara tersebut telah bermetamorfosis menjadi penggalangan dana museum terbesar di kolong langit. Seluruh dana yang terkumpul didedikasikan sepenuhnya untuk menyokong Costume Institute, sebuah departemen kuratorial khusus yang mendedikasikan diri pada pelestarian busana sebagai karya seni rupa.
Dalam pidatonya, Hollein menegaskan bahwa eksistensi pameran ‘Costume Art’ serta peresmian Condé Nast Galleries menjadi validasi kuat bahwa busana bukan sekadar pakaian, melainkan entitas seni yang sejajar dengan lukisan maupun patung. Hal ini memperkuat posisi New York sebagai episentrum industri mode global yang terus berinovasi.
Sentuhan Dingin Anna Wintour dan Kontroversi Sponsor Utama
Kesuksesan ini tentu tak lepas dari tangan dingin Anna Wintour. Menjabat sebagai co-chair sejak 1995, sang ‘Ibu Negara’ industri mode ini tahun ini menggandeng nama-nama besar seperti Beyoncé Knowles-Carter, Nicole Kidman, dan Venus Williams untuk memperkuat jajaran pimpinan acara. Wintour mendeskripsikan hari tersebut sebagai momen paling emosional sekaligus menegangkan dalam kalender tahunannya, sembari mengingatkan hadirin akan peran krusial industri fashion dalam membantu museum melewati masa-masa kelam, mulai dari tragedi 11 September hingga badai pandemi COVID-19.
Namun, di balik angka-angka megah tersebut, terselip isu hangat terkait keterlibatan Lauren Sánchez dan sang suami, pendiri Amazon, Jeff Bezos. Pasangan ini dikabarkan menggelontorkan sumbangan pribadi sebesar US$ 10 juta untuk Costume Institute. Meski Sánchez dalam pernyataannya menekankan pentingnya investasi pada inovasi fashion berkelanjutan seperti produksi sutra ramah lingkungan, kehadiran mereka justru memicu gelombang protes. Para demonstran di luar gedung menyuarakan aksi boikot, mengkritik keterlibatan miliarder dalam institusi budaya yang dianggap sebagai bentuk ‘art-washing’.
Walaupun diterpa kontroversi dan seruan boikot yang riuh di media sosial, MET Gala 2026 tetap berdiri kokoh sebagai simbol bertemunya kekuatan uang, pengaruh politik, dan ekspresi artistik tingkat tinggi. Rekor Rp 730 miliar ini menjadi bukti nyata bahwa meski dihujat, panggung MET Gala tetap menjadi kiblat yang tak bisa diabaikan oleh dunia.