Sisi Gelap Kerajaan MrBeast: Eks Karyawan Gugat Perusahaan, Ngaku Dipaksa Bekerja di Ruang Bersalin
Kamis, 23 Apr 2026 14:35 WIB
Kabarmalam.com — Di balik kemegahan konten filantropi dan aksi spektakuler yang kerap memecahkan rekor dunia, YouTuber kenamaan Jimmy Donaldson atau yang populer dengan nama MrBeast kini tengah menghadapi badai hukum. Seorang mantan karyawannya melayangkan gugatan serius yang mengungkap dugaan budaya kerja toksik dan perlakuan tidak manusiawi di balik layar Beast Industries.
Tuduhan Diskriminasi di Titik Terendah
Lorrayne Mavromatis, wanita yang pernah menjabat sebagai manajer media sosial bagi sang YouTuber, membawa kasus ini ke pengadilan federal di North Carolina. Dalam dokumen gugatannya, ia membeberkan pengalaman pahit selama bertahun-tahun yang mencakup dugaan pelecehan seksual hingga bias gender yang sistemik di lingkungan kerja.
Salah satu poin paling memilukan dalam testimoninya adalah ketika Lorrayne mengklaim dirinya tetap diwajibkan menyelesaikan pekerjaan meski tengah berada di ruang persalinan untuk melahirkan buah hatinya. Pengakuan ini memicu gelombang kritik tajam terhadap manajemen perusahaan produksi media tersebut.
“Saya masih mengalami pendarahan hebat saat itu, namun tekanan pekerjaan memaksa saya untuk tetap aktif di depan layar,” ungkap Lorrayne dalam sebuah wawancara emosional dengan Associated Press. Ia merasa perjuangannya selama ini dikhianati setelah dirinya justru dipecat hanya tiga minggu sebelum jadwalnya kembali bekerja secara penuh pasca cuti melahirkan.
Pelanggaran Hak Karyawan dan Isu Gender
Gugatan tersebut secara spesifik menuduh MrBeastYouTube, LLC dan GameChanger 24/7, LLC telah melanggar hukum federal Amerika Serikat terkait perlindungan hak cuti medis dan keluarga. Perusahaan dianggap gagal memberikan perlindungan pekerjaan bagi Lorrayne yang sedang mengambil cuti resmi untuk proses persalinan.
Selain itu, Lorrayne juga telah mengajukan pengaduan ke Komisi Kesempatan Kerja AS (EEOC). Ia menyoroti adanya pola diskriminasi gender dan kehamilan yang merugikan posisinya sebagai profesional di industri kreatif yang didominasi oleh laki-laki tersebut.
Pembelaan Pihak Beast Industries
Menanggapi serangan hukum ini, pihak manajemen MrBeast memberikan klarifikasi yang bertolak belakang. Juru bicara Beast Industries menyebut bahwa gugatan Lorrayne hanyalah upaya untuk mencari popularitas semata dengan membangun narasi yang mereka klaim sebagai kesalahpahaman yang disengaja.
Pihak perusahaan menjelaskan bahwa penghapusan posisi Lorrayne murni merupakan bagian dari restrukturisasi tim e-commerce di bawah pimpinan baru. Terkait tuduhan bekerja saat melahirkan, mereka melampirkan bukti percakapan Slack tertanggal 31 Maret 2025. Dalam pesan tersebut, seorang rekan kerja diklaim telah melarang Lorrayne untuk memeriksa pesan kerja setelah mengetahui ia sedang berada di rumah sakit.
Sorotan Terhadap Budaya Kerja yang Misoginis
Kasus ini seolah membuka kembali kotak pandora mengenai isu lingkungan kerja toksik yang sebelumnya sempat menerpa Beast Industries. Beberapa tahun lalu, perusahaan ini juga sempat melakukan investigasi internal dan memecat sejumlah karyawan karena kasus pelecehan serupa.
Dukungan bagi Lorrayne datang dari TIME’S UP Legal Defense Fund di National Women’s Law Center. Jennifer Mondino, direktur senior lembaga tersebut, menegaskan bahwa pola di mana pemegang kekuasaan merasa boleh menyakiti dan membalas dendam kepada mereka yang bersuara harus segera dihentikan.
“Ini adalah perjuangan melawan budaya pelecehan yang sudah lama mengakar dan sering kali berlindung di balik rasa malu serta keheningan korban,” tegas Jennifer. Hingga kini, proses hukum masih terus bergulir, sementara publik mulai mempertanyakan kembali etika kerja di balik layar para kreator konten raksasa dunia.