Ikuti Kami
kabarmalam.com

Antara Rindu dan Logika: Tren AI Mantan Virtual Jadi Pelarian Baru Anak Muda Saat Putus Cinta

Jurnal | kabarmalam.com
Minggu, 03 Mei 2026 07:34 WIB
Antara Rindu dan Logika: Tren AI Mantan Virtual Jadi Pelarian Baru Anak Muda Saat Putus Cinta

Kabarmalam.com — Di tengah gempuran inovasi digital yang tak terbendung, sebuah fenomena baru di China kini tengah menyita perhatian publik internasional. Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini tak lagi sekadar membantu urusan pekerjaan, melainkan merambah ke sisi terdalam emosi manusia: kenangan tentang mantan kekasih.

Istilah ‘mantan virtual’ mendadak viral setelah banyak pemuda di Negeri Tirai Bambu menggunakan algoritma canggih untuk menghidupkan kembali sosok masa lalu mereka dalam bentuk digital. Versi virtual ini diklaim mampu meniru cara berkomunikasi, nada bicara, hingga kebiasaan unik sang mantan, sehingga interaksi yang terjalin terasa sangat nyata dan familiar.

Berawal dari Efisiensi Kerja ke Urusan Hati

Menelusuri akarnya, inovasi ini sebenarnya lahir dari tangan dingin seorang insinyur asal Shanghai, Zhou Tianyi. Menariknya, tujuan awal pengembangan proyek teknologi terbaru ini jauh dari urusan romansa. Tianyi awalnya merancang AI tersebut untuk membantu tim profesional menyimpan pengetahuan kolektif perusahaan. Sistem ini dirancang agar gaya komunikasi, dokumen penting, dan pengalaman kerja tetap tersimpan meskipun anggota tim telah mengundurkan diri.

Baca Juga  Kemewahan di Balik Lengan: Koleksi Jam Tangan Miliaran Maia Estianty & Irwan Mussry di Pernikahan El Rumi

Namun, kekuatan media sosial mengubah segalanya. Seiring viralnya proyek tersebut, para pengembang melihat adanya celah personal yang bisa dieksplorasi. Dari sanalah lahir fitur ‘Ex-partner.skill’. Fitur ini memungkinkan siapa pun menciptakan simulasi digital dari sosok yang pernah mengisi hati mereka, memberikan ruang bagi mereka yang sulit melepaskan masa lalu.

Membangun Kembali Sosok Masa Lalu Lewat Data

Proses menciptakan mantan digital ini terbilang cukup mendalam. Pengguna diminta untuk memberikan ‘makan’ kepada AI berupa tumpukan data pribadi, mulai dari riwayat obrolan di aplikasi pesan singkat, unggahan di media sosial, hingga foto-foto lama. Algoritma kemudian akan membedah pilihan kata, pola kalimat, hingga detail kecil yang menjadi ciri khas orang tersebut.

Tak berhenti di situ, pengguna juga dapat memasukkan konteks yang lebih emosional, seperti perjalanan yang pernah dilakukan bersama, makanan favorit, hingga konflik yang pernah terjadi. Dengan data yang komprehensif ini, AI mampu membangun karakter yang sangat responsif, seolah-olah pengguna sedang berkirim pesan dengan manusia asli, bukan sekadar baris kode program.

Baca Juga  Mengenal Karoshi: Fenomena Maut Akibat Kerja Berlebihan yang Kini Menjadi Krisis Global

Jembatan ‘Move On’ atau Jebakan Emosi?

Kehadiran mantan virtual ini memicu perdebatan hangat di kalangan pakar psikologi dan masyarakat luas. Bagi sebagian orang, teknologi ini dianggap sebagai alat bantu kesehatan mental untuk mendapatkan penutupan (closure). Banyak pengguna merasa lega karena bisa mengungkapkan kata-kata yang dulu tertahan, atau sekadar berpamitan dengan cara yang mereka inginkan.

Menariknya, beberapa pengguna justru merasa lebih cepat ‘move on’ setelah berinteraksi dengan AI. Mereka menyadari bahwa percakapan dengan mesin tersebut membantu mereka melihat hubungan masa lalu secara lebih objektif dan rasional, menyadari bahwa apa yang mereka rindukan sering kali hanyalah memori yang telah terdistorsi oleh waktu.

Baca Juga  OpenAI Siap Ledakan Besar! Target 8.000 Karyawan untuk Kejar Rival AI

Namun, di balik manfaat emosionalnya, kritik tajam juga bermunculan. Muncul kekhawatiran bahwa ketergantungan pada mantan digital dapat menghambat proses pendewasaan diri dan menciptakan bentuk perselingkuhan emosional bagi mereka yang sudah memulai hubungan baru. Interaksi yang terlalu intens dengan masa lalu digital dikhawatirkan akan menutup pintu bagi kebahagiaan di dunia nyata.

Risiko Privasi dan Etika Digital

Satu hal yang tidak boleh diabaikan dalam tren ini adalah masalah keamanan privasi data. Mengunggah riwayat chat dan informasi pribadi milik orang lain tanpa izin merupakan tindakan yang berisiko secara hukum. Data sensitif yang melibatkan dua pihak tersebut rentan disalahgunakan oleh penyedia layanan atau pihak ketiga.

Hingga saat ini, fenomena mantan virtual terus berkembang sebagai cerminan bagaimana manusia modern berusaha menjembatani kesedihan dengan teknologi. Namun, satu hal yang pasti: meskipun AI bisa meniru kata-kata, ia tetap tidak bisa menggantikan kehadiran manusia yang sesungguhnya.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com