Ikuti Kami
kabarmalam.com

Eksklusif: Tiga Wajah Renitasari Adrian, Dari ‘Ibu Mandor’ Proyek Hingga Debut Manis di Layar Lebar

Jurnal | kabarmalam.com
Kamis, 23 Apr 2026 17:34 WIB
Eksklusif: Tiga Wajah Renitasari Adrian, Dari 'Ibu Mandor' Proyek Hingga Debut Manis di Layar Lebar

Kabarmalam.com — Nama Renitasari Adrian selama ini identik dengan keanggunan kebaya dan pembawaan formal dalam berbagai perhelatan seni kelas atas. Sebagai Direktur Program Bakti Budaya Djarum Foundation (BBDF), sosoknya adalah wajah di balik layar yang menghidupkan ekosistem budaya Indonesia. Namun, dalam sebuah pertemuan hangat di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, kami menemukan sisi lain yang jauh dari kesan kaku.

Renita menyambut kami di kantor barunya, sebuah bangunan tiga lantai yang menyimpan sejarah unik. Siapa sangka, gedung yang kini tampak modern dan artistik tersebut dulunya merupakan bekas pabrik plastik dari era 1980-an. Setelah melalui proses restorasi besar-besaran, bangunan ini menjadi markas kreatif tim BBDF. “Belum pernah ada jurnalis yang main-main ke sini lho,” sapanya dengan penuh semangat, membuka percakapan yang mengalir natural.

Transformasi Menjadi ‘Ibu Mandor’

Hari itu, penampilan Renita jauh dari gaun mewah rancangan desainer ternama. Ia tampil kasual dengan kaos hitam, rok senada, dan sepasang sneakers putih. Yang paling mencolok adalah rompi keselamatan hijau neon yang tersampir di tubuhnya. Rambutnya pun tampak sedikit lembap karena peluh akibat cuaca terik Jakarta siang itu.

Baca Juga  Mitos atau Fakta? Studi Terbaru Ungkap Rahasia Rambut Beruban Bisa Kembali Hitam Alami

Kesibukan utamanya saat ini adalah mengawasi megaproyek Rumah Budaya Indonesia Kaya (RuBIK). Berdiri gagah di atas lahan seluas 1,5 hektar dengan luas bangunan mencapai 17.000 meter persegi, RuBIK diproyeksikan menjadi pusat seni pertunjukan terlengkap. Proyek ambisius yang diinisiasi sejak 2019 oleh Widowati ‘Giok’ Hartono ini ditargetkan rampung tahun depan dan akan dibuka secara resmi untuk publik pada Juli 2027.

“Beginilah aslinya kalau di kantor,” seloroh Renita yang menjuluki dirinya sendiri sebagai ‘Ibu Mandor’ karena intensitasnya turun langsung ke lapangan, bahkan hingga mengecek instalasi pipa di lantai bawah tanah.

Tantangan Baru di Dunia Peran

Di tengah tanggung jawabnya yang masif dalam pembangunan infrastruktur budaya, Renita mengambil langkah berani yang cukup mengejutkan: terjun ke dunia akting. Ia dipercaya memerankan karakter Tante Yara dalam film layar lebar berjudul ‘Tunggu Aku Sukses Nanti’ besutan sutradara Naya Anindita.

Baca Juga  Rahmidawati Aldi: Membawa Harum Nama Aceh Sebagai Satu-satunya Finalis Berhijab di Puteri Indonesia 2026

Awalnya, keraguan sempat menghinggapi benak wanita kelahiran Bandung ini. Namun, sang sutradara berhasil meyakinkannya bahwa karakter Tante Yara sangat cocok dengan persona aslinya. Keputusannya untuk bergabung bukan didasari oleh kepentingan instansi—mengingat Djarum tidak terlibat dalam pendanaan film indonesia tersebut—melainkan karena rasa haus akan tantangan pribadi.

“Aku ingin tahu rasanya mengikuti standar orang lain, setelah selama ini aku yang selalu memberikan standar dan mengarahkan orang lain. Di kantor aku dominan, tapi di lokasi film, posisinya berbalik,” ungkap Renita jujur. Baginya, pengalaman memiliki 10 adegan bersama aktor kawakan seperti Lulu Tobing, Sarah Sechan, hingga Ayu Laksmi adalah pelajaran hidup yang sangat berharga.

Baca Juga  Ramalan Zodiak Cinta 10 April: Gemini Waspada Gangguan Luar, Saatnya Leo Redam Ego

Kesuksesan yang Melampaui Batas Negara

Keputusan Renita untuk keluar dari zona nyaman berbuah manis. Film ‘Tunggu Aku Sukses Nanti’ berhasil menembus angka 3 juta penonton sejak dirilis pada momen libur Lebaran. Chemistry kekeluargaan yang terbangun di lokasi syuting rupanya tersampaikan dengan baik kepada penonton. Keberhasilan ini bahkan membawa film tersebut melanglang buana hingga ke bioskop-bioskop di Malaysia.

Menariknya, di saat karier aktingnya baru saja dimulai, Renita justru sudah menyandang status sebagai seorang nenek. Sembari bersiap bertolak ke Kuala Lumpur untuk pemutaran perdana sekaligus menjenguk cucu pertamanya, ia tertawa lepas mengenang perjalanan hidupnya yang tak terduga.

“Lucu ya, orang lain main film saat sedang ranum-ranumnya, aku malah mulai saat sudah jadi nenek-nenek,” pungkasnya menutup perjumpaan dengan tawa yang menjadi ciri khasnya. Renita membuktikan bahwa dalam industri kreatif, usia hanyalah angka, dan keberanian untuk terus berevolusi adalah kunci utama.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com