Ikuti Kami
kabarmalam.com

Kisah Haru Veri AFI Lawan Gerd-Anxiety: Saat Pikiran Menjadi Kunci Kesembuhan yang Hilang

Darman | kabarmalam.com
Selasa, 14 Apr 2026 05:37 WIB
Kisah Haru Veri AFI Lawan Gerd-Anxiety: Saat Pikiran Menjadi Kunci Kesembuhan yang Hilang

Kabarmalam.com — Penampilan terbaru penyanyi jebolan ajang pencarian bakat legendaris, Veri AFI, belakangan ini tengah menyita perhatian publik. Bukan karena karya musik terbaru, melainkan perubahan fisiknya yang tampak sangat drastis dan mengkhawatirkan. Di balik perubahan tersebut, tersimpan sebuah perjuangan panjang melawan penyakit yang menggerogoti tubuh dan pikirannya sekaligus.

Penyanyi yang memiliki nama lengkap Veri Affandi ini mengungkapkan bahwa dirinya baru saja melewati masa-masa kelam selama tiga bulan terakhir. Veri mengaku sama sekali tidak bisa mengonsumsi makanan secara normal akibat serangan gangguan gerd kronis yang diperparah oleh kondisi psikis yang tidak stabil.

Lingkaran Setan Gerd dan Anxiety

Penyakit yang diderita Veri bukan sekadar masalah pencernaan biasa. Kondisinya semakin kompleks karena adanya keterkaitan antara anxiety (gangguan kecemasan) dan psikosomatis. Secara medis, psikosomatis merupakan manifestasi gangguan fisik yang dipicu oleh tekanan emosional atau masalah psikis seperti stres berkepanjangan, rasa bersalah, hingga depresi.

Baca Juga  Ammar Zoni Buka Suara Soal Pleidoi Kontroversial, Sampaikan Maaf ke Irish Bella dan Haldy Sabri

Dalam sebuah kesempatan, Veri menceritakan betapa menyiksanya kondisi tersebut. “Kondisi tertentu seringkali memicu kecemasan muncul, dan itulah yang membuat gejala gerd saya menjadi berkali-kali lipat lebih parah. Bukan hanya asam lambung naik, tapi sudah sampai ke tahap di mana mencium aroma makanan saja sudah membuat mual luar biasa,” ungkapnya dengan nada emosional.

Veri menambahkan bahwa sensasi terbakar di dada dan rasa sakit yang amat sangat bahkan membuatnya sulit untuk sekadar meminum air putih. Ketakutan yang ia rasakan seringkali terbawa hingga ke alam mimpi, menciptakan siklus penderitaan yang seolah tidak berujung.

Keajaiban Dukungan Sahabat

Di titik terendahnya, Veri sempat menarik diri dari lingkungan sosial. Ia bahkan memutuskan untuk berhenti sementara dari aktivitas bisnis yang dijalaninya bersama rekan-rekannya. Beberapa kali ia harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena kondisi fisiknya yang terus menurun. Namun, di tengah keputusasaan tersebut, kehadiran para sahabat dari komunitas AFI menjadi titik balik kesembuhannya.

Baca Juga  Bocoran Bridesmaid Syifa Hadju dan El Rumi: Elina Joerg Ungkap Persiapan Gaun Hingga Konsep Acara

Nama-nama seperti Dicky AFI 1, serta Arjuna dan Fian dari AFI 3, menjadi sosok yang paling gigih merangkul Veri. Mereka tidak membiarkan Veri tenggelam dalam kesendirian. Melalui pendekatan yang humanis dan penuh canda, para sahabatnya ini berusaha membongkar blokade pikiran negatif yang selama ini mengunci Veri.

“Mereka mengingatkan saya bahwa yang pertama kali harus disembuhkan adalah pikiran. Kuncinya tidak boleh stres, tidak boleh mengurung diri, dan harus kembali menemukan kebahagiaan,” jelas Veri. Dukungan ini menjadi kesehatan mental yang sangat ia butuhkan melebihi obat-obatan medis manapun.

Pelajaran Berharga Tentang Kesehatan Holistik

Kini, kondisi Veri AFI perlahan mulai membaik. Ia sudah mulai bisa menerima asupan makanan kembali setelah menjalani terapi pemulihan pikiran. Pengalaman pahit ini memberikan perspektif baru bagi Veri bahwa kesehatan lambung sangat berkaitan erat dengan ketenangan jiwa.

Baca Juga  Perjalanan Emosional Bara Valentino: Mudik ke Afghanistan Setelah 12 Tahun di Bawah Aturan Ketat

Ia menganggap kehadiran sahabat-sahabat yang peduli sebagai rezeki terbesar dalam hidupnya. Veri menyadari bahwa terkadang tubuh yang sakit hanyalah sinyal bahwa jiwa sedang butuh pertolongan. “Ternyata kuncinya ada di psikis. Bukan hanya lambung yang harus diobati, tetapi pikiran yang harus dibersihkan,” pungkasnya penuh syukur.

Kisah Veri menjadi pengingat penting bagi kita semua akan pentingnya menjaga keseimbangan antara fisik dan mental. Bagi Anda yang mungkin merasakan gejala serupa, sangat disarankan untuk memahami lebih dalam mengenai psikosomatis agar penanganan yang diberikan bisa lebih tepat dan menyeluruh.

Tentang Penulis
Darman
Darman