Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menembus Batas Algoritma: CEO LinkedIn Beberkan 5 ‘Senjata Pamungkas’ Manusia Agar Tak Tergusur AI

Jurnal | kabarmalam.com
Jumat, 10 Apr 2026 11:42 WIB
Menembus Batas Algoritma: CEO LinkedIn Beberkan 5 'Senjata Pamungkas' Manusia Agar Tak Tergusur AI

Kabarmalam.com — Memasuki era di mana barisan kode dan algoritma mulai mengambil alih berbagai sektor pekerjaan, kekhawatiran akan masa depan karier manusia kian memuncak. Namun, di balik kecanggihan teknologi, terselip sebuah harapan besar bahwa esensi kemanusiaan tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin mana pun.

CEO LinkedIn, Ryan Roslansky, bersama pakar strategi Aneesh Raman, baru-baru ini membagikan pandangan mendalam mengenai bagaimana cara bertahan di tengah badai kecerdasan buatan (AI). Melalui diskusi panjang dengan para ahli saraf, psikolog, hingga pakar ekonomi perilaku, mereka merumuskan konsep ‘5C’—lima keterampilan inti yang menjadi benteng pertahanan terakhir manusia di pasar kerja global.

1. Curiosity: Hasrat Ingin Tahu yang Tak Bertepi

Jika AI bekerja berdasarkan pola dan data masa lalu, manusia memiliki rasa ingin tahu yang mampu menembus batas logika. Curiosity atau rasa penasaran adalah motor penggerak inovasi. Roslansky menekankan bahwa manusia adalah pihak yang menentukan mana hal yang penting untuk digali lebih dalam.

Baca Juga  Rekomendasi 5 Drama Korea Komedi Terbaru Mei 2026 yang Mengocok Perut dan Wajib Masuk Watchlist

Ia merujuk pada sejarah besar, seperti Jonas Salk yang bertanya-tanya apakah virus mati bisa melatih tubuh melawan penyakit hingga terciptanya vaksin polio, atau Wright Bersaudara yang terobsesi dengan cara burung terbang. Di dunia karier masa depan, kemampuan untuk terus bertanya ‘mengapa’ dan ‘bagaimana jika’ adalah kunci untuk menemukan solusi yang belum pernah dipikirkan oleh algoritma manapun.

2. Courage: Nyali di Tengah Ketidakpastian

AI mungkin mahir dalam menghitung risiko secara matematis, namun ia tidak memiliki keberanian untuk mengambil keputusan di saat data tidak lengkap. Courage atau keberanian adalah kemampuan manusia untuk tetap melangkah maju meskipun hasilnya belum terjamin.

Dalam konteks profesional, keberanian ini muncul saat seorang pemimpin berani mengambil langkah spekulatif yang berlandaskan intuisi, atau seorang manajer penjualan yang berani membimbing klien ke arah yang berbeda demi hasil jangka panjang yang lebih baik. Ini adalah tentang mengubah keraguan menjadi tindakan nyata.

Baca Juga  Transformasi Drastis Ria Ricis Usai Operasi Plastik, Penampilan Barunya Bikin Pangling!

3. Creativity: Menciptakan dari Ketiadaan

Meskipun AI mampu meramu informasi dan menghasilkan karya, apa yang dilakukannya hanyalah menggabungkan elemen yang sudah ada. Sebaliknya, kreativitas manusia adalah kemampuan membayangkan kemungkinan yang benar-benar baru. Kreativitas bukan hanya milik seniman, tapi milik setiap pekerja yang mampu melihat celah unik dalam sebuah masalah.

Roslansky mencontohkan seorang guru yang menyulap ruang kelasnya menjadi setting sejarah demi memancing imajinasi siswanya. Kreativitas adalah tentang memberikan jiwa pada setiap pekerjaan agar terasa lebih hidup dan bermakna.

4. Compassion: Empati sebagai Jembatan Hubungan

Teknologi mungkin bisa mensimulasikan kata-kata perhatian, namun mereka tidak bisa merasakan kepedulian yang tulus. Compassion atau rasa kasih sayang adalah faktor yang mengubah hubungan transaksional menjadi komunitas yang solid di tempat kerja.

Contoh sederhananya adalah saat seorang atasan menyadari penurunan performa karyawannya bukan sebagai kegagalan, melainkan tanda adanya masalah pribadi, lalu menawarkan fleksibilitas. Sentuhan manusiawi inilah yang membuat sebuah tim mampu bertahan melewati krisis, sesuatu yang tak akan pernah bisa dilakukan oleh barisan teknologi terbaru sekalipun.

Baca Juga  OpenAI Siapkan “Super App” Revolusioner! ChatGPT, Codex, hingga Browser Jadi Satu

5. Communication: Lebih dari Sekadar Pertukaran Kata

AI memang bisa menerjemahkan bahasa atau menyusun email yang rapi, namun komunikasi sejati membutuhkan pemahaman konteks, emosi, dan pergesekan ide secara langsung. Komunikasi yang efektif melibatkan tatap muka, pemikiran mendalam, dan kemampuan untuk membaca bahasa tubuh.

Untuk menjadi komunikator yang hebat, seseorang harus tetap menjadi ‘manusia’ seutuhnya. Di tempat kerja, kemampuan untuk meyakinkan orang lain melalui visi dan emosi adalah skill kerja yang akan selalu dicari oleh perusahaan mana pun di dunia.

Roslansky berpesan agar generasi muda tidak perlu merasa terancam oleh AI. Alih-alih takut, gunakanlah teknologi tersebut sebagai alat, sembari terus mengasah sisi kemanusiaan yang menjadi keunikan kita sejak lahir. Sebab pada akhirnya, robot mungkin memiliki kecepatan, tapi manusia memiliki jiwa.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com